Berdebat dengan Suami, Batal Sewa Tim Dokumentasi

Yunnita Setyahati bersama anaknya yang baru lahir Kala Jenaka di salah satu rumah persalinan di Depok, Jawa Barat FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

Dag-dig-dug Para Ibu yang Melahirkan di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 memaksa para ibu hamil menjauh dari rumah sakit, bahkan untuk sekadar kontrol kehamilan. Ada yang sampai ditangani enam bidan sekaligus saat persalinan.

BAYU PUTRA, Sidoarjo-Jakarta, Jawa Pos

KEHAMILAN kali ini begitu membahagiakan Dini Nastiti Wardani. Dia hamil anak kedua dan berjenis kelamin perempuan. Serasa lengkap sudah keluarga kecilnya karena anak pertamanya laki-laki.

Dia dan suami, Achmad Firdaus, pun menyiapkan segalanya. Menjalani kontrol rutin di salah satu RS di bilangan Surabaya Selatan.

Dokternya spesialis obgyn yang dulu menangani dia saat hamil anak pertama. Dia juga sudah memesan tempat di RS tersebut untuk persiapan kelahiran, yang diperkirakan terjadi awal April.

Saat semuanya berjalan seperti yang direncanakan, datanglah si tamu tak diundang bernama virus korona.  Melahirkan saja sudah proses mendebarkan. Masih harus ditambah tuntutan berhati-hati dengan virus pemicu penyakit Covid-19 yang telah merenggut banyak nyawa di berbagai negara.

Dini sudah pasti tak sendirian yang khawatir. Puluhan atau ratusan ibu hamil lainnya di penjuru tanah air tentu juga demikian sejak kasus positif pertama Covid-19 diumumkan Presiden Jokon Widodo pada awal Maret lalu.

Apalagi, di sejumlah daerah sempat tercatat pertautan ibu melahirkan dengan kasus Covid-19. Di Ngawi, Jawa Timur, misalnya. Jawa Pos Radar Ngawi melaporkan, dua pekan lalu seorang perempuan yang diindikasi terinfeksi Covid-19 menjalani proses persalinan di RSUD dr Soeroto, Ngawi.

Pasien dalam pengawasan (PDP) berusia 24 tahun asal Kecamatan Karanganyar yang mulai menjalani isolasi sejak Rabu (8/4) itu melahirkan bayi perempuan keesokan harinya (9/4). ”Menjelang magrib, terlahir normal dengan berat 3 kilogram,’’ terang drg Endah Pratiwi, Kabid Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Dinkes Ngawi.

Pasca persalinan, ibu dan bayi dirawat di ruang terpisah. Pihak rumah sakit pun langsung melakukan rapid test ulang kepada ibu beserta bayi yang baru dilahirkan. ”Ibunya negatif. Untuk hasil tes bayinya belum diketahui,” imbuhnya.

Tercatat pula dua bayi berusia 8 dan 11 bulan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang berstatus PDP (pasien dalam pengawasan) dan kemudian meninggal.

Di Jogjakarta juga ada bayi PDP yang meninggal. Di sisi lain, di Jogja juga ada bayi 4 bulan positif Covid-19 yang berhasil sembuh.

Sejak kasus positif pertama pada awal Maret, berbagai kebijakan jaga jarak untuk mencegah penularan menyusul dilakukan. Termasuk bekerja di rumah alias work from home.

Dini pun mendengar informasi bahwa RS tempat dia berencana melakukan persalinan digunakan menangani pasien Covid-19 dan sedang kekurangan APD (alat pelindung diri). Konsekuensinya, bila hendak melahirkan, dia pasti akan masuk UGD (unit gawat darurat) terlebih dahulu.

Kecemasannya otomatis bertambah. ”Padahal, di UGD itu yang sakit bukan cuma mau melahirkan aja, tapi ada orang kecelakaan, demam berdarah, macam-macam penyakit,’’ ujar penyiar radio itu saat berbincang dengan Jawa Pos akhir pekan lalu.

Di tengah kegalauan tersebut, sang suami memberikan alternatif untuk melahirkan di rumah bersalin di dekat kediaman mereka di Waru, Sidoarjo. Firdaus beralasan, di rumah bersalin hanya ada ibu yang hendak melahirkan, juga pasien ibu dan anak. Hanya, berbeda dengan RS, kali ini proses bersalin akan ditangani bidan.

Alasan Firdaus masuk akal. Bisa jadi, imun ibu kuat. Namun, bayi adalah kelompok rentan.

Masalahnya, selama ini Dini lebih percaya dokter spesialis untuk urusan anak. Usulan sang suami itu pun sempat menimbulkan perdebatan kecil di antara keduanya.

Dengan sabar, sang suami memberikan gambaran lengkap. Apa saja risiko bersalin di RS dan rumah bersalin. Di RS, dia harus masuk UGD dulu. Di rumah bersalin langsung ditangani bidan.

Di RS pasien beragam, sedangkan di rumah bersalin hanya ibu dan anak dengan keperluan yang terbatas. Risiko terpapar SARS CoV-2, si virus pemicu Covid-19, di RS lebih besar ketimbang di rumah bersalin.

Selain itu, biaya melahirkan di rumah bersalin lebih murah ketimbang RS. Dengan demikian, alokasi dananya bisa digunakan untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan si buah hati pasca melahirkan. Apalagi, jarak dari kediaman lebih dekat ke rumah bersalin ketimbang ke RS.

Dan yang utama, menurut sang suami, yang menentukan kemampuan dalam menangani kelahiran itu bukanlah pendidikan tinggi. Melainkan pengalaman dan jam terbang.

Akhirnya, mulailah Dini kontrol ke rumah bersalin. Kekhawatirannya awalnya terbukti: peralatannya serba-manual. Dini yang sebelumnya selalu menggunakan USG sempat stres saat menggunakan alat manual. Apalagi, dia juga diharuskan mengecek darah, urine, dan tekanan jantung di puskesmas.

Tapi, rupanya, standar puskesmas sudah sangat baik. Di tengah pandemi, mereka yang suhunya di atas 38 derajat Celsius disarankan untuk tidak berobat di puskesmas agar mendapat penanganan yang lebih baik.

Bidan puskesmas juga menyarankan dia untuk tidak bersalin di RS. Sebab, bayi termasuk kelompok yang rentan tertular Covid-19.

Dengan memantapkan hati, akhirnya dia melahirkan di rumah bersalin. Pada 2 April siang, Dini dan suami tiba di rumah bersalin. Langsung masuk ruang bersalin dalam kondisi bukaan 3.

Diprediksi baru 5–8 jam lagi baru lahir. Tapi, kurang dari satu jam sudah bukaan 6 dan kontraksi setiap 5 menit. Akhirnya bidan langsung ambil tindakan.

Tidak tanggung-tanggung, ada enam bidan yang menangani dia. ”Bagian nyemangatin, ambil kepala bayi, jahit-menjahit, angkat bayi, bersihkan darah, sama bagian rawat bayi,” tutur perempuan kelahiran 10 September 1989 itu.

Akhirnya, pada pukul 14.35, lahirlah putri kecil mereka yang diberi nama Retorika Khanza Falsafani dengan prosedur kelahiran normal. Dini lega sejumlah kekhawatirannya karena melahirkan bukan di RS seperti yang direncanakan akibat pandemi Covid-19 tak terbukti.

Justru banyak pengalaman baru yang dia dapat dari persalinan di tengah pandemi. Mulai profesionalnya para bidan, keintiman dengan sang buah hati, hingga ke hal-hal kecil seperti makanan. ’’Menunya bahkan lebih enak daripada menu di RS,’’ katanya, lantas tertawa.

Bahkan, pihak rumah bersalin menyarankan Dini menggunakan BPJS karena tidak ada tindakan darurat atau ekstra. Namun, yang terpenting, dia mendapati rumah bersalin menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Semua pengunjung juga wajib mengenakan masker. Disediakan wastafel, sabun, dan hand sanitizer. Pengaturan jarak antarmanusia pun dilakukan dengan baik.’’Semua nakes (tenaga kesehatan) pakai baju lengan panjang dan sarung tangan karet rangkap dua. Lengkap dengan jilbab, masker, kacamata, dan kaus kaki,’’ tambahnya.

Pengalaman sedikit berbeda dialami Yunita Setyahati. Sejak awal, Yunita dan suami, Miftahulhayat, memang merencanakan untuk melahirkan di bidan tidak jauh dari kediamannya di Citayam, Depok.

Hanya, untuk kontrol kehamilan, Yunita memang memilih di RS. Tapi, itu terakhir dia lakukan saat usia kandungannya 36 pekan.

Sebab, pada awal Maret pihak RS sudah memberlakukan protokol ekstra setelah presiden mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Mulai pengecekan suhu tubuh hingga penggunaan hand sanitizer saat akan masuk RS.

Karena jumlah pasien makin banyak, pemerintah pun menganjurkan untuk berada di rumah saja. ’’Saya tidak melanjutkan kontrol di rumah sakit dan hanya di bidan saja,’’ terangnya Rabu lalu (22/4).

Yunita hanya keluar rumah seminggu sekali, itu pun ke bidan untuk kontrol. Dia melakukan berbagai aktivitasnya di rumah untuk menjaga imunitas. Yakni, yoga dan makan makanan sehat. Dia berupaya agar kebutuhan gizinya benar-benar terkontrol selama di rumah.

Selebihnya, bila berbelanja, khususnya kebutuhan bayi, dia memilih secara daring. ’’Banyak sekali perubahan dalam persiapan persalinan,’’ lanjut perempuan kelahiran 29 Juni 1992 itu.

Yunita memilih untuk melahirkan dengan metode gentle birth. Namun, karena pandemi, klinik bidan tempat Yunita melahirkan melarang kehadiran pihak lain di ruang bersalin. Hanya suami yang boleh mendampingi. Jadilah tim dokumentasi batal disewa.

Akhirnya, pada 13 April lalu lahirlah putri pertama Yunita dan Miftahul. Mereka memberi nama sang putri Kala Jenaka.

Pengalaman menjalani kehamilan hingga melahirkan di tengah pandemi memang sempat memunculkan kekhawatiran bagi para ibu. Sejumlah rencana terkait persalinan juga batal terlaksana.

Namun, bagi Yunita, kekhawatiran itu pupus karena peran sang suami. ’’Suami memberikan energi positif agar saya tidak stres atau terlalu cemas dengan situasi pandemi ini,’’  tutur ibu rumah tangga itu.

Dini dan Yunita kini menikmati perannya sebagai ibu. Tidak ada kunjungan dari kawan ataupun kerabat karena kondisi pandemi tidak memungkinkan itu terjadi.

Sisi positifnya, itu membuat mereka makin punya banyak waktu untuk intim dengan si kecil. Sembari menyiapkan cerita untuk dikisahkan kepada para upik tersebut kelak tentang bagaimana ibunya melahirkan mereka ke dunia di tengah pandemi mematikan. (*/tif/fin/c10/ttg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *