Sebby : Beny Wenda dan Socrates Jangan Asal Ngomong

 

JAYAPURA – Adanya pernyataan dari Ketua ULMPW, Benny Wenda dan Pdt Socrates soal pelaku penembakan di kuala kencana, Mimika yang menewaskan seorang warga negara asing dilakukan oleh TNI Polri dibantah keras oleh juru bicara TPNPB, Sebby Sembom. Pria yang dulu sering berkeliaran di Waena, Abepura bersama Buchtar Tabuni ini mengatakan bahwa Benny Wenda dan Socrates jangan asal ngomong dan harus bertangungjawab atas pernyataan mereka.

Sebby dengan gamblang menyampaikan bahwa aksi penembakan tersebut nyata dilakukan oleh kelompok TPNPB. “Sampaikan ke Benny Wenda dan Sofyan Yoman tanggungjawab atas pernyataan mereka sebab yang melakukan bukan TNI Polri,” tulis Sebby dalam pesan singkatnya, Senin (6/4).

Ia lantas mengirim sebuah video aksi saling tembak antara TPNPB dengan aparat keamanan di lokasi kuala kencana. Dari video berdurasi 1 menit 28 detik tersebut terdengar beberapa kali suara tembakan dan kelompok TPNPB berlari-lari kecil sambil memikul senjata dan membalas tembakan.

Dalam video tersebut juga djjelaskan soal video amatir OPM bertanggungjawab sehingga jelas bahwa pelaku penyerangan dan penembakan adalah TPNPB bukan TNI Polri. Inikata Sebby harus disampaikan terang benderang sesuai aturan perang yang berlaku.

“Dalam perang ya harus seperti itu, mengumumkan siapa pelakunya,” jelasnya. Sebelumnya Sebby menyampaikan bahwa penembakan di Kuala Kencana dilakukan TPNPB dibawah Kombas-TPNPB- OPM pimpinan Gusby Waker dan Jhony Beanal. Gusby Waker adalah Komandan Operasi TPNPB KODAP XVIII Kemabu, Intan Jaya termasuk Wilayah Tembagapura.

“Dalam laporannya via telepon seluler Gusby Waker mengatakan bahwa aksi penembakan itu mereka yang lakukan dan aksi itu merupakan pelaksanaan perintah operasi sesuai deklarasi Perang TPNPB yang mana telah ditetapkan bahwa TPNPB akan lakukan serangan ke areal Perusahaan Emas Freeport, yaitu dari PortSite sampai di Grasberg,” bebernya Sebby.

Pada aksi kali ini sasarannya adalah karyawan Freeport mengingat pihaknya sudah meminta manajemen Freeport untuk menghentikan operasi penambangan namun ternyata masih beroperasi. “Dan kami adalah pemilik emas di Gunung Nemangkawi, oleh karena itu kami anggap bahwa PT. Freeport dan orang-orang yang kerja di perusahaan Freeport adalah perampok yang mana telah dan sedang mencuri hasil kekayaaan alam kami,” pungkasnya. (ade).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *