AJI Jayapura: Penyampaian Informasi Kepada Jurnalis tidak Melalui Jumpa Pers dan Kerumuman

AJI Jayapura Desak Pemerintah dan Semua Pihak, Patuhi Protokol Keamanan Liputab Covid19

JAYAPURA- Alinasi Jurnalis Independen ( AJI) kota Jayapura mendesak Pemerintah Provinsi Papua dan semua pihak terkait menggunakan protokol keamanan liputan dan pemberitaan covid-19, teruama dalam hal penyebaran informasi dan data bagi para jurnalis tidak melalui kerumuman yang biasa terjadi di konferensi pers dan wawancara tata muka secara langsung. Hal ini penting karena jurnalis berada pada area dengan resiko yang rentan tertular virus ini dalam tugas peliputan yang lakukannya. Hal demikian ditegaskan  ketua AJI Jayapura, Lucky Ireeuw, dalam siaran persnya yang diterima media ini, kemarin.

Di Indonesia, penyebaran virus Covid-19 kian massif. Angka pasien positif mencapai ribuan, tak terkecuali di Provinsi Papua degka positif per 29 Maret 2020,  tercatat 7 orang, puluhan PDP dan leboh dari 200o orang ODP (data Satgas covid-19 Provinsi Papua).

World Health Organization (WHO) sudah menegaskan bahwa kecepatan penularan wabah COVID-19 bisa diredam dengan cara mengatur jarak saat kita bertemu orang lain (social and physical distancing). Kebijakan jaga jarak itu diwujudkan melalui kebijakan bekerja dari rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah. Selain itu, siapapun dilarang keras menciptakan kerumunan, apalagi tanpa memperhatikan jarak.

Menurut AJI Jayapura, penyampaian informasi dari pemerintah, lembaga, organisasi sampai perorangan yang relavan dengan covid-19 dimungkinkan dengan menggunakan platform media online, media social dan teknologi digital lainnya.“  Tujuannya jelas, mencegah potensi penularan covid- 19 di kalangan jurnalis, orang-orang yang ada di dalam lembaga, organisasi sampai perorangan yang menjadi rangkaian proses peliputan,” ujarnya.

Perubahan strategi  penyampaian informasi ini bersifat sementara demi keselamatan jurnalis di lapangan hingga masa penyebaran virus Covid-19 mereda. Perlu dicatat, menghindari kerumuman bagi wartawan tetap berpegang teguh pada prinsip kebebasan pers dan hak atas informasi.

AJI Jayapura mengimbau, dan menyampaikan beberapa opsi untuk menyebarkan informasi ke public, yakni pertama, Penyebaran atau penyampaian informasi kepada jurnalis tanpa melalui kerumunan, jumpa pers, wawancara langsung tatap muka, dan door stop, kedua. Kepada lembaga pemerintah, perusahaan swasta, organisasi, dan berbagai pihak yang bertindak sebagai narasumber informasi agar  memaksimalkan penggunaan teknologi digital dalam  publikasi dan pengelolaan informasi. Ketiga, Siaran pers disertai foto dan video peristiwa dengan catatan keterangan serta hak cipta gambar bergerak maupun tidak bergerak. Keempat, Lembaran data yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan laporan berita.  Kelima, Live streaming atau pengiriman gambar secara online melalui website atau link resmi  yang disediakan oleh narasumber. “ keenam, Siaran langsung melalui platform media sosial atau aplikasi komunikasi dengan disertai waktu untuk tanya jawab melalui kolom komentar atau teknologi suara lainnya,” jelasnya.

Ketujuh, Penyebaran video keterangan pers melalui video singkat dengan keterangan dan hak cipta atas gambar video bergerak. Kedelapan, Wawancara atau pertemuan tatap muka dengan narasumber dihimbau atas pertimbangan mendesak dengan persetujuan pimpinan redaksi dengan pencatatan sebagai dokumentasi penelusuran interaksi dekat dengan sesama manusia.  Kesembilan, Mendesak tim kehumasan dan komunikasi dari para narasumber agar siap menjawab pertanyaan dari para jurnalis melalui aplikasi komunikasi maka penting agar menyediakan nomor kontak yang bisa dihubungi demi kepentingan konfirmasi.

“ Mengimbau para jurnalis mengutamakan keselamatan saat menjalankan peliputan dengan mematuhi protokol keamanan liputan Covid-19, mengutamakan kesehatan dan keselamatan diri, dengan menjaga jarak aman saat liputan,” terangnya.

Beriktunya, Kepada perusahaan media wajib memastikan keselamatan dan kesehatan setiap jurnalisnya dalam menjalankan tugas di lapangan. Tidak mengirim jurnalis ke tempat kerumunan orang dan beresiko tinggi tertular covid-19. “ Kepada media agar mengutamakan edukasi kepada masyarakat dengan mencari informasi yang benar, akurat dan dapat dipertangungjawabkan dari sumber informasi yang kredibel dalam pemberitaan wabah virus corona ini,” jelasnya.

Dan  Pemerintah wajib memberikan akses yang sama kepada masyarakat, termasuk jurnalis yang memiliki gejala korona dan sakit untuk diperiksa.   “ Karena tidak ada berita seharga nyawa. Protocol peliputan Covid-19  ini wajib dipatuhi, termasuk oleh jurnalis,” ujar Lucky. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *