Penertiban Warga Harus Beretika

JAYAPURA –  Banyak daerah di  Papua yang melakukan penertiban bagi warga yang dianggap bandel masih berkeliaran disaat pemerintah tengah menegakkan instruksi 14 hari di rumah saja. Jika di  India dilakukan dengan merotan warganya namun di Papua masih sebatas patroli dan meminta warga yang berkumpul untuk pulang ke rumah. Hanya saja kata Wakil Ketua I DPR Papua, DR Yunus Wonda, menertiban ini harus tetap beretika. Ia masih meyakini warga akan mematuhi aturan jika dilakukan dengan humanis.

“Saya minta kepada petugas semisal Satpol PP jika mau menertibkan silahkan saja namun tetap beretika dan jangan sampai ada bahasa yang kurang enak di dengar apalagi  sampai melontarkan kalimat rasis. Itu sudah tidak betul,” kata Yunus Wonda, Jumat (27/3). Pasalnya tak ada negara manapun di dunia yang menginginkan virus ini sehingga kalau menjustifikasi satu dua etnis yang dianggap sebagai biang masalah maka hal tersebut sangat disayangkan.  Virus Corona kata Yunus sudah masuk ke Papua tinggal bagaimana bahu membahu melawan penyebarannya.

“Jadi petugas juga menjalankan sesuai aturan tanpa harus melontarkan kalimat rasis, tidak arogan dan sesuai protam sementara masyarakat juga harus patuh dengan waktu yang sudah ditentukan, jangan memaksakan diri sebab ini bukan waktunya santai-santai,” jelas Yunus. Sementara salah satu penggiat sosial Jayapura, Gunawan ikut mendukung upaya penertiban warga asal dilakukan dengan cara yang tak salah. Gunawan menyampaikan sempat melihat video di facebook soal penertiban di Borobudur Sentani  dimana terlihat sekali arogansi oknum petugas.

“Bicaranya kasar, mengintimidasi  bahkan terdengar rasis. Itu memalukan. Saya sempat melihat video tersebut dan saya pikir itu terlalu arogan. Disitu ada GM (General Manager)  nya dan bisa dengan memanggil GM lalu meminta toko ditutup. Bukan dengan berteriak, memaki, mengancam bahkan menyampaikan kalimat rasis, saat ini tenaga medis dari China tiba di Jakarta untuk membantu dan bisa jadi sampai ke Papua jadi apa kita masih harus menyalahkan kelompok etnis?,” sindirnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *