Terus Yakinkan Tim Badai Pasti Berlalu

KERJA KERAS: Dari kiri-kekanan, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan rumah sakit Unair, dr. Hamzah, dr., Sp. An.,KNA, Direktur Utama rumah sakit Unair Prof. Nasronudin, sert Ketua Satgas Corona rumah sakit Unair dr., Prastuti Asta Wulaningrum berfoto di Rumah sakit Unair, Surabaya, Rabu (18/3/2020). Dedikasi meraka terhadap penanganan pasien dilakukan secara tulus demi kepentingan masyrakat. Robertus Risky/ Jawa Pos

Direktur RSUA Prof dr Nasronudin dan Satgas Korona

Jumlah pasien positif korona terus bertambah di Indonesia. Di balik itu, ada tim medis yang selalu menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien. Mereka bak pahlawan di tengah kondisi darurat wabah virus korona saat ini.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya, Jawa Pos

TIDAK mudah membuat janji wawancara dengan tim Satuan Tugas (Satgas) Korona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Sejak crisis center atau poli khusus penanganan Covid-19 dibentuk pada Senin (9/3), seluruh anggota tim begitu sibuk menangani pasien.

Ratusan warga datang berbondong-bondong ke RSUA untuk memeriksakan diri. Gelombang itu terjadi sejak Presiden Jokowi mengumumkan adanya pasien positif korona pada 2 Maret lalu. Hingga kemarin, luberan pasien masih terjadi. Antrean memanjang. Meski, pelayanan dibatasi hanya 100 pasien per hari. ”Semua kondisi di poli khusus tidak pernah bisa diprediksi,” kata Direktur RSUA Prof dr Nasronudin SpPD-KPTI FINASIM saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (18/3).

Nasronudin adalah salah seorang yang energi dan pikirannya terkuras seiring dengan merebaknya wabah korona. Sejak belum ada kasus positif Covid-19 di Indonesia, dia mempersiapkan berbagai fasilitas untuk penanganan penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu.

Salah satunya, mengembangkan lantai 4 sebagai ruang isolasi dengan fasilitas lengkap. Sumber daya manusia (SDM) juga telah disiapkan dengan membentuk tim satgas korona. Kini ruang perawatan akan diperluas dengan memanfaatkan lantai 5, 6, dan 7 Gedung Rumah Sakit Penyakit Tropik Infeksi (RSPTI) Unair.

Antusiasme masyarakat untuk memeriksakan diri ke RSUA sangat tinggi. Padahal, ada banyak RS rujukan lain. Kini, sudah banyak pasien berstatus orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirawat di ruang isolasi tersebut. Sebagian boleh pulang setelah dinyatakan sehat.

Selain memikirkan cara menekan angka persebaran dan menyembuhkan pasien yang sakit, Nasronudin memperhatikan keselamatan tim medis. ”Di rumah, saya menangis membayangkan pasukan saya berhadapan dengan pasien. Sementara, orang lain bicara dengan mudah libur dan bekerja dari rumah,” ujarnya.

Sebagai tenaga medis, mereka mesti siap menghadapi ratusan orang yang datang membawa penyakit. ”Kami tidak bisa menghindar. Kami bertanggung jawab dengan itu semua,” lanjut pria 63 tahun tersebut.

Di sisi lain, ada banyak hal yang membuat tenaga medis khawatir. Khususnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang makin hari makin menipis. Belum lagi jika ada masyarakat yang marah-marah karena harus menunggu cukup lama. ”Saya mbrebes mili melihat dokter Pras (tim dokter) pagi tadi sudah dikerumuni pengunjung. Dia hanya menggunakan masker bedah karena stok masker memang habis,” kisahnya.

Gown (baju pelindung diri) juga menipis. Meski ada bantuan dari pemerintah, jumlahnya masih sangat kurang. Apalagi, pasien yang ditangani terus bertambah. ”Saya sampai bilang, kalau tidak ada gown, bawa jas hujan dulu. Paling tidak ada protektor,” ujarnya.

Tuntutan masyarakat yang begitu tinggi, sementara kapasitas tenaga medis yang dimiliki terbatas memberinya beban tersendiri. Pada Minggu (15/3) jumlah pengunjung di poli khusus hampir 200 orang. Lantaran tenaga terbatas, satpam pun ikut membantu pelayanan. ”Saya sampai melepas sopir pribadi untuk membantu menjadi sopir ambulans karena kurang,” ucapnya.

Tidak hanya fisik, secara psikis para tenaga medis di poli khusus juga lelah. Namun, sebisanya Nasronudin menyemangati mereka dan optimistis badai pasti berlalu. ”Ini saya membayangkan. Kalau sakit jantung, yang sakit saya sendiri. Tapi, kalau sakit korona (Covid-19), saya ngomong begini saja bisa menulari orang lain,” kata Nasronudin.

Setiap kali membayangkan risiko penularan Covid-19 yang cepat, Nasronudin tampak sedih. Ketakutan itu juga dirasakan tenaga medis yang kini terus berjuang menangani pasien. ”Ada tenaga medis yang tanya ke saya. Kalau saya ketularan, apa yang akan dilakukan RSUA?” ujarnya menirukan.

Nasronudin selalu meyakinkan bahwa prioritas yang dilakukan RSUA adalah keselamatan pasien dan tenaga medis. Tim medis adalah pahlawan bagi masyarakat dan keluarga. ”Jadi, kami semua bekerja sosial. Yang kita lakukan adalah melawan penyakitnya,” kata dia.

Nasronudin selalu mengingatkan tenaga medis untuk minum vitamin dan tidur tujuh jam dalam sehari. Meski, pada kenyataannya itu sulit terpenuhi karena mereka mesti siaga 24 jam. ”Ini bentuk perhatian saya sebagai ayah kepada anak-anaknya,” ujarnya.

Seluruh tenaga medis yang bertugas menangani Covid-19 berpotensi membawa penyakit. Jadi, sebelum pulang, mereka dianjurkan mandi di rumah sakit. ”Saya selalu membawa handuk. Semua harus steril sebelum pulang. Upaya ini juga buat tim dokter,” jelasnya.

Ketua Tim Satgas Korona RSUA dr Prastuti Asta Wulaningrum SpP menyempatkan diri berbagi cerita. Sejak awal, dokter yang biasa disapa Pras itu memprediksi bahwa kasus Covid-19 akan menjadi outbreak. Yang dilakukan saat ini adalah belajar setiap langkah. Seluruh energi tercurahkan. ”Karena ini virus baru, tidak ada yang tahu. Jadi, kami belajar setiap waktu. Dan, mengatur energi agar tidak lelah di akhir-akhir,” tuturnya.

Pras mengatakan, banyak pengalaman yang didapat selama menjadi bagian dari tim satgas korona. Pengalaman baik ada, yang buruk juga ada. Selama ini, banyak pasien yang datang dalam kondisi tertekan. Mau periksa mereka khawatir dengan stigma masyarakat. Tetapi, pasien tersebut juga penasaran dengan statusnya. ”Ketika mereka di ruangan yang tidak boleh ditunggui keluarga, banyak yang teriak-teriak. Depresi,” ujarnya.

Belum lagi ketika melayani pasien rawat inap dari latar belakang ekonomi menengah ke atas di ruang isolasi. Sebagian pasien tersebut punya banyak permintaan. Misalnya, minta mandi air hangat dan handuk diganti beberapa kali. Sementara itu, APD yang dimiliki terbatas. ”Kalau APD habis, perawat tidak bisa mendatangi pasien. Sebab, APD hanya sekali pakai agar tidak terjadi cross infection. Dan, harga satu APD Rp 600 ribu,” ujarnya.

Pras mengatakan, Covid-19 harus ditangani tenaga medis dengan semua latar belakang. Bukan hanya dokter paru yang berperan, melainkan juga seluruh dokter lainnya. Sebab, yang dirawat di rumah sakit hanya sebagian kecil dibandingkan banyaknya pasien yang ada di luar. ”Kalau sakit, pakailah masker dan tidak ke mana-mana dulu,” kata dia.

Kondisi down sesekali dialami Pras. Terutama jika membaca komentar negatif di media sosial. Ada pula teman sejawat yang bersikap seolah takut tertular olehnya karena dia selalu berkutat menangani pasien di poli khusus. ”Setidaknya kalau tidak bisa membantu, jangan bikin kami down dengan sikap seperti itu,” katanya. (*/c7/ayi/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *