Depresi karena Sering Dimarahi Ayahnya

Rumah NF, tersangka kasus pembunuhan APW, anak usia 5 tahun di Jl B2 Dalam, No 41, Kel Karanganyar, Kec Sawah Besar, Jakarta Pusat. Foto: Taufiq Ardiyansyah/Jawa Pos

SAWAH BESAR, Jawa Pos – Garis polisi terpasang di sebuah rumah bernomor 41, Jalan B2 Dalam, Karang Anyar, Sawah Besar, Jakata Pusat. Itu adalah rumah Nurhalimah Fitriani, tersangka pembunuhan terhadap korban Arumi Putri Awaliyah. Jarak tempat tinggal pelaku dan korban yang baru berusia 5 tahun itu hanya berselisih satu rumah.

Kendati bertetangga, cara pelaku menghabisi nyawa korban sangat keji. Pada Kamis (5/3) sekitar pukul 16.00, tersangka memanggil korban untuk bermain di rumahnya. Lalu, tersangka mengajak korban ke kamar mandi. Di kamar mandi itu, tersangka meminta korban mengambil mainan di dalam bak yang sebelumnya sudah disiapkan.

Saat korban hendak mengambil mainan, korban lalu menenggelamkannya selama lima menit. Tak hanya itu, tersangka juga mencekik leher korban. Setelah lemas, korban diikat dan dimasukkan ke dalam lemari. Awalnya, pelaku hendak membuang jasad korban. Namun, lantaran sudah sore, jenazah akhirnya tetap disimpan di dalam lemari.

Kartono, ayah korban, tidak menduga anak bungsunya menjadi korban pembunuhan sadis. Karena itu, pada Kamis malam, dia bersama warga bersama-sama mencari keberadaan Arumi. ”Saat mendengar anak hilang, posisi saya masih bekerja. Saya langsung bergegas pulang,” ujar Kartono saat ditemui di kediamannya kemarin siang (7/3).

Kartono bersama warga mencari keberadaan Arumi. Bahkan, warga sampai mencari keberadaan Arumi di rumah kosong yang ada di daerah tersebut. Warga khawatir Arumi terjebak. Namun, hasilnya nihil. Lalu, warga mencari keberadaan Arumi di rumah Nurhalimah. Lantaran hanya mencari di lantai bawah, Arumi tidak ditemukan.

”Karena tidak juga ditemukan, sekitar pukul 23.00, saya melapor ke Polsek. Lalu, keesokan harinya, saya mencari lagi. Tiba-tiba saat saya pulang ke rumah, sudah banyak polisi di sini. Namun, saat itu, saya belum kepikiran macam-macan,” ungkap pria yang sehari-hari bekerja di sebuah bengkel di Matraman, Jakarta Timur, tersebut.

Ternyata, polisi datang membawa kabar duka. Arumi ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa setelah dibunuh Nurhalimah. Kartono sama sekali tidak menyangka. Sebab, putrinya jarang berinteraksi dengan tersangka. ”Anak saya sering main dengan adik tersangka. Mereka seumuran,” ucap pria 40 tahun tersebut.

Kartono menerangkan, Nurhalimah dikenal sebagai anak yang jarang bergaul. Sepulang sekolah, dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. ”Kalau anak saya suka main. Makannya, waktu dapat berita Arumi hilang, saya pikir dia main ke jalan raya untuk mengikuti pengamen ondel-ondel,” ujar Kartono.

Neni, salah seorang warga Jalan B2 Dalam, menambahkan, Nurhalimah merupakan sosok pendiam. Dia sangat jarang melihat Nurhalimah bersosialisasi di lingkungan. ”Saya kenal dia dari kecil. Mungkin karena dia broken home. Orang tuanya cerai. Dia sekarang tinggal bersama ibu tiri,” ucap perempuan 48 tahun tersebut.

Keterangan Neni sejalan dengan barang bukti yang disita polisi. Dari hasil olah TKP, petugas menemukan buku yang berisi curahan hati tersangka. Pelaku menulis Please Dad Don’t Make Me Mad If You Not Want Death. I Will Make You Go To Grave. (Ayah, jika tidak ingin mati, tolong jangan buat aku marah. Saya akan mengirim kamu ke kuburan, Red).

Kekesalan Nurhalimah terhadap ayahnya tidak hanya itu. Di bagian buku lain, dia menulis My Dad Is My Crush.  I Want To Leave My Dad Or My Dad Is Death (Ayah saya adalah kehancuran saya. Saya akan meninggalkan ayah saya, atau ayah saya mati). Lalu, Keep Calm Daddy Bondage And Give Me Torture (Tetap tenang perbudakan ayah. Berikan aku siksaan).

Selain tulisan, dalam buku tersebut, petugas juga menemukan sebuah gambar perempuan yang sedang terikat. Dari penulisan dan gambar yang ditemukan di buku tersebut, Nurhalimah terbilang anak yang cerdas. ”Makannya, warga tidak ada yang menyangka kalau dia telah membunuh orang dengan sadis,” ucap Neni.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mnerangkan, Nurhalimah melakukan aksinya dengan sadar. Bahkan, pelaku sama sekali tidak menyesali perbuatannya. ”Dia juga terlihat tenang dalam menjawab pertanyaan,” ungkap mantan analis kebijakan madya bidang Penmas Divisi Humas Polri tersebut.

Yusri menambahkan, tersangka melakukan aksinya karena didorong hasrat untuk membunuh. Dia terinspirasi dari hobinya yang senang melihat film horor. Yakni, film Cucky. Selain itu, dia juga senang dengan film The Slender Man. Slender Man dikenal suka menculik dan melukai orang. ”Dia suka Slender Man sampai dibuatkan gambar,” ucapnya.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya menambahkan, pola pikir jahat yang dimiliki Nurhalimah bisa disebabkan karena kebiasaannya dimarahi ayahnya. Namun, saat peristiwa pembunuhan berlangsung, ayah Nurhalimah sedang berada di Semarang, Jawa Tengah. ”Ayahnya galak ke pelaku,” ujarnya.

Sementara itu, Iwan, ayah tersangka, yang saat kejadian berlangsung sedang bekerja di Semarang, Jawa Tengah, harus segera pulang ke Jakarta.

Saat dihubungi Jawa Pos, Iwan mengaku sangat terpukul. Dia masih belum mengerti alasan anaknya melakukan pembunuhan keji tersebut. ”Apa yang dia lakukan benar-benar berada di luar logika saya. Dalam latar belakang keturunan saya, menyakiti hewan saja tidak berani, apalagi manusia,” ujarnya kemarin sore (8/3).

Iwan lalu menelusuri rekam jejak pertemanan NF. Dia mencari informasi tentang aktivitas NF di Instagram dan Facebook. ”Yang saya dapati, dia menyukai anime. Saya lihat penggemarnya menyukai kekerasan,” ungkap Iwan.

Iwan menduga hal itu menjadi faktor utama yang memengaruhi pola pikir NF. Sehingga, dia berani membunuh APA secara sadis. Gadis 5 tahun itu dibunuh pada Kamis sore (5/3) sekitar pukul 16.00. Saat itu, tersangka memanggil korban untuk bermain di rumahnya. Lalu, tersangka mengajak korban ke kamar mandi. Di kamar mandi itu, tersangka meminta korban mengambil mainan di dalam bak yang sebelumnya sudah disiapkan.

Saat korban hendak mengambil mainan, korban lalu menenggelamkannya selama lima menit. Tak hanya itu, tersangka juga mencekik leher korban. Setelah tidak berdaya, korban diikat dan dimasukkan ke dalam lemari. Awalnya, pelaku hendak membuang jasad korban. Namun, lantaran sudah sore, jenazah akhirnya tetap disimpan di dalam lemari. ”Jadi, apa yang terjadi dengan anak saya tidak ada kaitannya dengan perceraian saya,” tegas Iwan menampik.

Iwan menerangkan, hubungan NF dengan ibu tirinya cukup harmonis. Bahkan, Iwan menilai anak-anaknya langsung cocok dengan ibu barunya itu. ”Jadi, saya sama sekali tidak mengambil kesimpulan buruk dari perceraian. Ini jauh dari kesan ibu tiri yang sadis. Apalagi, anak-anak juga masih sering bertemu dengan ibu kandungnya,” terang Iwan.

Terkait curahan hati NF yang diluapkan lewat tulisan, Iwan menilai itu merupakan ekspresi kemarahan sesaat anak kepada ayah. Iwan tidak mengingat secara persis kapan anaknya kesal dengannya. Namun, Iwan menduga NF meluapkan curahat hatinya itu saat dilarang bemain HP. ”Bisa juga waktu saya mengontrol dia saat pulang terlalu sore. Orang tua mengatur kedisiplinan kan wajar,” ujarnya.

Iwan menerangkan, tulisan-tulisan yang ditemukan polisi dalam buku juga sudah lama ditulis NF. Tulisan-tulisan itu juga tidak ada kaitannya dengan pembunuhan. ”Itu tulisan lama yang belum dihapus,” ucap Iwan.

Dari hasil olah TKP pada Jumat (6/3), petugas menemukan buku yang berisi curahan hati tersangka. Pelaku menulis Please Dad Don’t Make Me Mad If You Not Want Death. I Will Make You Go To Grave. (Ayah, jika tidak ingin mati, tolong jangan buat aku marah. Saya akan mengirim kamu ke kuburan, Red).

Di bagian buku lain, NF menulis My Dad Is My Crush.  I Want To Leave My Dad Or My Dad Is Death (Ayah saya adalah kehancuran saya. Saya akan meninggalkan ayah saya, atau ayah saya mati). Lalu, Keep Calm Daddy Bondage And Give Me Torture (Tetap tenang perbudakan ayah. Berikan aku siksaan).

Selain tulisan, dalam buku tersebut, petugas juga menemukan sebuah gambar perempuan yang sedang terikat. ”Anak saya tergolong cerdas. Dari tulisan dan gambarnya ada kelebihan. Namun, itu tidak lantas memotivasinya untuk melakukan hal ini,” tegasnya.

Sementara itu, kemarin, NF sudah dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Namun, saat dikonfirmasi, pihak Rumah Sakit Polri Kramat Jati menyebut pemeriksaan baru akan dilakukan pada hari ini (9/3).

”Betul (NF menjalani pemeriksaan kejiwaan, Red). Namun, karena sekarang Minggu, mungkin besok (pemeriksaannya),” terang Kepala RS Polri Kramat Jati Brigjen Rusdianto. (fiq/ygi/JPG)

(fiq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *