Korban Meninggal Akibat Banjir Jadi 9 Orang

JAKARTA, Jawa Pos-Hari kedua pasca banjir yang melanda kawasan Jabodetabek pada selasa (25/2), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 9 orang korban jiwa dengan ribuan lainnya dalam pengungsian. Beberapa titik di Kabupaten Bekasi masih terendam.

Pusdalops BNPB mencatat sekitar 88 titik pengungsian tersebar di wilayah Jabodetabek dan Karawang hingga kemarin (27/2), pukul 18.00 WIB. Titik pengungsian warga terbanyak di wilayah Jakarta Timur dengan 36 titik.

Selain di Jakarta Timur, titik pengungsian juga berada di Jakarta Utara 26 titik, Karawang 11 titik, Jakarta Barat 8 titik, Kota Tangerang 3 titik, Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi dengan masing-masing 2 titik.

Hingga hari ini, jumlah warga mengungsi sebanyak 12.608 Kepala Keluarga (KK) (45.861 jiwa). Jumlah terbanyak teridentifikasi di Jakarta Timur dengan 7.496 KK (27.429 jiwa), sedangkan di wilayah Karawang sebanyak 3.591 KK (12.740 jiwa). Data korban jiwa sebanyak 9 orang.

“Sampai kemarin jumlah warga terdampak di wilayah Jabodetabek dan Kabupaten Karawang sebanyak 44.579 KK atau bernjumlah 119.268 jiwa,” kata Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo kemarin (27/2).

Agus mengungkapkan, berdasarkan laporan petugas di lapangan, genangan banjir masih terjadi di beberapa titik dengan ketinggian beragam. Di wilayah Kabupaten Bekasi, ketinggian air antara 20 – 150 cm, Kabupaten Tangerang 42 – 168 cm, Kota Tangerang 20 – 130 cm, dan Karawang 150 cm. “Wilayah lain seperti  di DKI Jakarta, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Tangerang Selatan telah surut,” papar Agus.

Selain itu, Agus mengungkapkan, kewaspadaan tidak boleh kendor karena BMKG masih terus memberikan peringatan dini cuaca dengan potensi hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir pada dua hari ke depan.

Agus menenkankan wilayah yang perlu meningkatkan kesiapsiagaan meliputi Jabodetabek dan Jawa Barat. “Potensi cuaca ekstrem dipengaruhi oleh siklon tropis Ferdinand yang teridentifikasi muncul di Samudera Hindia, sebelah  Selatan Bali, yang diprediksi melemah dan bergerak ke arah barat-barat daya,” jelasnya.

Sementara itu, BNPB terus mengkoordinir masyarakat di Kabuapten Lebak, Banten  dan Kabupaten Bogor untuk menanam vetiver dan tanaman jenis lain di masing-masing wilayah. Ini menjadi upaya konkret untuk merehabilitasi lahan pascabencana longsor di wilayah tersebut.

BNPB melalui Satuan Tugas Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada Selasa (25/2) melakukan penanaman di wilayah Kampung Cinyiru, Cigobang dan Jaha, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sebanyak 120 personel TNI, Polri dan ratusan warga turut menanam tidak hanya vetiver tetapi juga tanaman keras, seperti Sengon, Mahoni, atau pun Trembesi. Luas lahan yang sudah ditanami mencapai 36 ribu meter persegi, sedangkan bibit yang ditanam yaitu vetiver 17 ribu batang, dan tanaman keras 1.758 batang.

“Rincian tanaman keras yang ditanam yaitu sengon 384 batang, mahoni 291, pulai 200, trembesi  593, dan tapang laut 290,” jelas Agus.

Di samping penanaman, Agus mengatakan satgas ini juga melakukan perbaikan rumah bibit yang berada di kantor camat. Di situ dilakukan pembibitan vetiver dengan polybag dengan ketersediaan bibit hingga 17.000 batang.

Sementara itu, penanaman juga dilakukan satgas di wilayah Kabupaten Bogor pada hari yang sama (25/2). Kegiatan penanaman ini juga melibatkan warga setempat. Luas lahan yang sudah ditanami di kawasan kabupaten ini mencapai 226 ribu meter persegi. Tanaman yang ditanam yaitu vetiver 98.116 batang, serta tanaman keras sebanyak 34.212 batang. Untuk rehabilitasi, satgas masih memiliki ketersediaan bibit vetiver dan tanaman keras.

“Penanaman vetiver sebagai upaya rehabilitasi dan pencegahan bencana banjir dan longsor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta kepada seluruh kepala daerah melakukan penanaman jenis tanaman ini di wilayah,” kata Agus.

Vetiver, jenis rumput dengan nama latin Chrysophogon Zizaionide itu menjadi salah satu solusi untuk menguatkan struktur tanah melalui akarnya yang dapat tumbuh hingga kedalaman 5 meter. Bentuk kombinasi vetiver dengan tanaman keras berakar kuat akan membuat struktur tanah menjadi lebih kokoh layaknya pondasi alami sehingga dapat meminimalisir proses deforestasi dan erosi serta mencegah terjadinya longsor.(tau/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *