Museum Flora Fauna Papua Perlu Diwujudkan

Proses Pengeringan - Serangga-serangga yang berada di dalam lab Koleksi Serangga Papua (KSP) dikeringkan untuk selanjutnya diteliti. Koleksi serangga di KSP ini yang paling lengkap untuk Papua. (Gamel Cepos)

JAYAPURA– Papua yang dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan benteng terakhir biodiversity dunia layaknya sudah bisa diproteksi dengan berbagai kebijakan yang memang sesuai dengan kondisi terkini di lapangan. Hanya saja banyaknya regulasi jika tak bisa ditegakkan juga menjadi soal. Kesannya hanya menjadi pelengkap dari sebuah sistem dan kebijakan.

Dari kekayaan ini menurut dosen Entomologi dan Wakil Ketua Kelompok Serangga Papua, Daawia M.Sc  penting untuk Papua juga memiliki sebuah museum flora fauna terlebih serangga. Pasalnya dengan tingginya dampak perubahan iklim diyakini akan berdampak pada  eksistensi dari sebuah populasi. Jika akhirnya ada yang punah dan tak sempat diabadikan tentunya menjadi sebuah kerugian. Papua perlu memikirkan bagaimana bisa menyimpan  flora maupun fauna yang pernah ada di Papua agar kelak bisa diceritakan kepada anak cucu.

“Soal ini dulu pernah kami sampaikan tahun 2018 ketika ada acara biodiversity internasional di  Manokwari, Papua Barat namun ketika itu kami melihat negara luar sejatinya ingin membantu namun mereka perlu diyakinkan,” kata Daawiya saat ditemui di ruang Koleksi Serangga Papua (KSP) Br Henk van Mastrigt, OFM, Selasa (25/2). Dari komunikasinya dengan beberapa tokoh lingkungan dari luar yang memiliki kebijakan ternyata  ada hal yang harus disiapkan oleh Papua terlebih sumber daya manusia.

“Untuk mewujudkan ini tentu tidak mudah dan membutuhkan anggara yang tak sedikit mengingat butuh komitmen orang yang memang memiliki kepedulian serta keikhlasan. Jangan dibangun tapi  akhirnya rusak, terkontaminasi jamur, hancur dan lainnya. Jadi jawaban mereka ketika itu adalah apakah kita (Ppaua) sudah siap?,” beber Daawia. Di luar negeri kata Daawia kesadaran untuk menjaga keanekaragaman hayati sangat tinggi  sementara di Papua masih sangat rendah.

“Satu contoh saja bahwa kami dulu ada pekerjaan untuk memotret  macro semua koleksi dan itu harus kami bayar untuk 7200 item dengan harga yang tak murah. Di negara luar yang justru orang menawarkan diri menjadi voluunter karena fotonya akan menjadi kebanggaan dan menjadi sejarah. Ini penting karena ketika  jika ada kerusakan atau benda koleksinya hilang maka ada dokumennya berupa foto tapi sekali lagi sudah harus dipikirkan oleh pemerintah,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *