Tetap Kokoh Berdiri di Tengah Himpitan Media Daring yang Kian Menjamur

Yoris, sedang menawarkan koran Cepos kepada warga yang berada di Bandara Sentani beberapa waktu lalu. Kendati kian banyaknya media namun Cenderawasih Pos tetap bertahan menjadi koran harian di Papua. (Wenny/cepos)

Cenderawasih Pos di Mata Masyarakat Papua

Terhitung 27 tahun sejak Cenderawasih Pos berdiri, hingga kini masih terus eksis melalui pemberitaan-pemberitaan bervarian nan menarik bagi para pembaca. Adapun eksistensi Cenderawasih Pos ini mendapat respon menarik berbagai kalangan masyarakat. Berikut laporannya;

Laporan: GRATIANUS SILAS, Jayapura

Sejak didirikan pada 1993, yang mana 27 tahun lalu, hingga 2020 ini, Cenderawasih Pos masih menjadi koran harian yang terus eksis melalui berbagai pemberitaan menarik yang dapat diterima semua kalangan masyarakat, baik pelajar sekolah, mahasiswa, maupun pegawai kantor, serta masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Adapun pemberitaan yang disajikan Cenderawasih Pos setiap harinya pun beragam. Mulai dari politik, hukum, Hak Asasi Manusia (HAM), kriminal, birokrasi pemerintahan, ekonomi, olahraga, hingga konten bermuatan kearifan lokal yang menarik diulas layaknya seni, budaya, dan adat masyarakat asli Papua.

Tidak sampai situ, sebab, cakupan berita yang di-cover harian pertama dan terbesar di Papua ini tak terbatas. Sebab, pemberitaannya tak hanya berputar di daerah perkotaan seperti halnya Kota dan Kabupaten Jayapura saja, melainkan hingga ke daerah-daerah pelosok Papua. Kemudian, pemberitaan nasional, bahkan internasional pun diberi atensi.

“Cenderawasih Pos kita apresiasi sebagai media yang terbuka dan menyentuh hati setiap masyarakat di Papua, khususnya di Kota Jayapura. Dengan HUT Cenderawasih Pos ke-27, harus tetap eksis dan diminati seluruh kalangan tanpa terkecuali, yang tentunya melalui penyajian berita yang bermanfaat, baik dari sisi pembangunan, kemanusiaan, kesehatan, ekonomi, serta bidang lainnya,” ujar  Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. Rustan Saru, MM.

Terlebih di zaman digitalisasi teknologi yang telah membuat sektor media semakin berkembang dengan menjamurnya media daring, maka koran harian, dalam hal ini Cenderawasih Pos harus pintar-pintar mensiasatinya agar tidak kehilangan pembaca setianya.

Seorang masyarakat Kota Jayapura, yang juga merupakan pembaca setia Harian Cenderawasih Pos, Arnold Menanti, menjelaskan bahwa di tengah himpitan perkembangan media daring, khususnya di Papua, Cenderawasih Pos tetap konsisten menyajikan berita di tiap harinya sehingga membatu masyarakat dalam memperoleh informasi.

“Ini tak lepas dari konten berita yang disajikan, di mana media koran yang memang dituntut untuk mampu menyajikan berita yang padat isi, lugas, dan tuntas, ketimbang media daring yang mengedepankan faktualisasi atau kecepatan penyajian berita,” kata Arnold Menanti.

Dengan hal ini saja, sambung Menanti, hingga kini Harian Cenderawasih Pos belum kehilangan pembacanya. Namun, di sisi lain, tentunya Cenderawasih Pos tidak boleh terus-terusan di zona aman. Menurutnya, inovasi diperlukan untuk menjaga eksistensi Cenderawasih Pos.

“Hal-hal kecil seperti halnya penempatan foto yang sama, baik foto narasumber maupun moment, pada berita-berita yang berbeda sebisa mungkin harus dapat dikurangi. Dengan kata lain, pengembangan penyajian foto pada berita harus dilakukan, sebab, kalau hal kecil ini saja diabaikan, maka membuat jenuh pembaca yang melihat foto tersebut di edisi Cenderawasih Pos yang berbeda,” tambahnya lagi.

Sementara itu, pembaca Cenderawasih Pos dari kalangan millennial, Aquino Buardalam, mengaku bahwa langkah untuk membuat ceposonline.com sudah tepat, sehingga mampu bersaing dengan media daring, khususnya di Papua, dalam kecepatan penyajian berita.

“Di mata masyarakat pada umumnya, Cenderawasih Pos masih menjadi media yang paling terpercaya di Papua. Berangkat dari situ, pengembangan ceposonline.com pun dapat dirintis. Dengan kata lain, pemberitaan di ceposonline.com ini harus lebih diviralkan lagi, seperti halnya dengan memanfaatkan peran media sosial, sehingga bisa mencakup jumlah pembaca yang lebih banyak lagi,” beber Aquino Buardalam.

Untung, salah satu pembaca Cepos juga mengaku tetap membeli koran Cepos meski tak langganan. Ia mengatakan masih lebih percaya Cenderawasih Pos dari pada media online yang terkadang tidak terverify dengan baik. Sebagai generasi yang lehir di era 70-an dia berharap bahwa Cepos tetap ada, pasalnya yang dia ketahui saat ini hanya koran cepos yang ada di jalan-jalan. “ Saya rasa sudah satu tahun atau dua tahun belakangan tak ada lagi koran harian di Jayapura,  ya hanya Cepos saja, mungkin di daerah lain seperti itu,” terangnya.

Secara terpisah, pembaca Harian Cenderawasih Pos lainnya, Syaiful Ma’arif, berharap Cenderawasih Pos mempertahankan eksistensinya, di mana berita yagn disajikan tetap berpegang pada prinsip-prinsip dan kode etik jurnalistik.

“Dalam hal ini, keberimbangan berita dengan minimal 2 narasumber perlu untuk diperhatikan. Narasumber yang diminta keterangan pun harus memang benar-benar terpercaya. Dengan demikian, Cenderawasih Pos tetap eksis sebagai media cetak. Penting memang untuk terus menjaga eksistensi Cenderawasih Pos sebagai media cetak. Sebab, sering perkembangan teknologi, media cetak kian tergerus dengan perkembangan media daring. Di Papua saja, media cetak yang masih eksis itu tersisa dua media saja, yang mana salah satunya yaitu Cenderawasih Pos. Makanya, eksistensi inilah yang harus terus dijaga,” tutup Syaiful Ma’arif.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *