Buku Luka yang Tertular, Gambarkan Keresahan Atas Konflik di Papua

LUCHING- Penulis buku Luka Yang Tertular, Nenius Selegani (baju putih), saat menyampaikan isi bukunya dalam kegiatan louching yang berlangsung di Asrama Intan Jaya, Expo Waena, Kamis (20/2) kemarin. Yewen/Cepos

 

JAYAPURA- Ratusan pemuda dan mahasiswa mengikuti kegiatan louching buku dengan judul “Luka Yang Tertular”. Buku ini di tulis oleh Nunias Selegani salah satu Novelis asal Papua. Louching buku ini berlangsung di Asrama Intan Jaya di Buper Waena Distrik Abepura Kota Jayapura, Kamis (20/2).

Buku yang ditulis oleh pria yang di akrab Nunias ini tidak terlepas dari keresahannya selama ini tentang konflik dan kekerasan yang terjadi tak hentinya di tanah Papua. Hal inilah yang mendorong dirinya menulis buku tersebut.

“ Paniai berdarah terjadi tahun 8 Desember 2014. Kemudian Konflik di Nduga terjadi 2 Desember 2018, dan Intan Jaya terjadi Pada Januari 2020. Berdasarkan konflik inilah, maka saya melihat konflik ini tertular dari satu daerah ke daerah lainnya. Sehingga buku ini diberi judul luka yang tertular,” katanya.

Selegani mengatakan, di tengah situasi konflik demikian generasi mudah tidak peduli dengan kondisi ini. oleh karena itu dirinya menuliskan dengan kata yang indah dan menyentuh setiap para peembaca untuk membangkitkan kepedulian terhadap masyarakat yang di bantai.

Selegani merasa aneh dengan orang Papua yang mengatahui persoalan Konflik, tetapi malah apatis dengan situasi ini. Banyak manusia Papua yang telah mendengar dan mengetahui kejadian yang terjadi di Paniai, Nduga dan Intan Jaya. Namun sedikit orang yang memberikan kepedulian dan memiliki hati yang mampu merasakan teriakan dan ketakutan, bahkan penderitaan masyarkat asli Pribumi ini.

“ Saya beraharap dengan hadir buku ini bisa membuka mata hati kami, agar bisa bersolider untuk menyuarakan dan mengerjakan apa yang bisa kita kerjakan demi kemanusiaan di tiga daerah yang saya sebutkan ini,” harapnya.

Selegani harapkan agar buku yang terjual ini akan disumbangkan kepada masyarkat Nduga maupun Intan Jaya yang ada dalam pengungsian, tauma tekanan aparat.

“Kami akan membelikan obat-obatan, bahan makanan semampu kami untuk menyerahkan langsung kepada masyarakat,” katanya.

Pendiri yang juga sekaligus Direktur Papua Langguage Institute Samuel Tabuni Saat membuka acara Launching Buku mengajak generasi muda Papua untuk menuliskan semua dari aspek kebudayaan, Sastra, Politik, Ekonomi, HAM, Pendidikan dan lainnya.

“ Saya harap generasi muda harus menuliskan cerita mereka. Jangan berharap bangsa lain, atau orang lain menulis tentang Papua. Dan jangan salahkan orang lain apabila mereka menulis tentag kita lalu ada kesalahan kesalahan. Oleh sebab itu penting sekali generasi muda Papua untuk menuliskan tentang diri kita sendiri,” harapnya.

Tabuni mengatakan, generasi muda Papua harus berani berpikir kritis di tengah persoalan Papua yang semakin rumit untuk diselesaikan.

“Untuk itu silahkan generasi muda Papua membaca buku banyak, menulis untuk mengedukasi orang melalui tulisan yang ditulis,” katanya.

Tabuni mengatakan, potret pelanggaran HAM yang ditulis oleh Nunias Selegani dalam buku ini akan menjaddi catatan penting 20 Tahun kedepan. Bisa dipakai referensi di dunia Kampus, LSM dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

 

“Saya mengajak kepada mahasiswa yang suka berdemo di kampus untuk belajar menulis lagi. Agar apa yang dipikirkan itu bisa disalurkan dalam bentuk dunia tulis menulis,” ajaknya. (bet).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *