SPKT Biak Bisa Tampung 200 Ton Ikan

KAPASITAS BESAR –Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, FX Mote  bersama pimpinan dan anggota Komisi II DPR Papua mengecek cold storage bantuan Jepang yang baru diresmikan, Kamis (20/2) kemarin. Gudang beku ini bisa menampung 2000 ton ikan.Gamel/Cepos

JAYAPURA – Potensi perikanan di Biak Numfor dianggap  menjanjikan. Karena itu, kini  telah dibangun Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) yang baru dilaunching pengoperasiannya Kamis (20/2) kemarin. Dimana cold storage yang ada di SPKT ini mampu menampung hingga 200 ton ikan sama seperti yang dimiliki SKPT di Pomako, Timika.

  Bentuk dari SKPT ini adalah gudang beku terintegrasi dan menjadi unit pengolahan ikan yang dibangun oleh kementerian kelautan dan perikanan bersama negara Jepang. “Ini baru saja dilaunching dan paling tidak bisa memicu  nelayan setempat agar lebih bekerja keras karena wadah untuk menampung ikan saat ini sudah terjawab,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, FX Mote disela-sela  diskusi dengan Komisi II DPR Papua, Kamis (20/2) di Biak. Komisi II DPRP kekuatan penuh turun ke Biak untuk mengecek langsung hasil diskusi yang dilakukan di Jayapura beberapa hari lalu.

   Komisi II  ingin memastikan bahwa dari penyampaian OPD Dinas Perikanan dan Kelautan sesuai dengan apa yang disampaikan dalam rapat panja. Terkait SKPT ini kata FX Mote  merupakan dukungan dari negara Jepang dan nantinya dikelola oleh pihak ketiga yakni Koperasi Syalom yang berada di bawah naungan gereja. Pihak jepang juga bisa mendapat manfaat dari keberadaan gudang tersebut.

Gudang beku seperti ini kata Mote bisa dikembangkan ke arah Supiori dimana baru empat daerah yang memiliki yakni Biak, Merauke, Timika dan Sarmi. “Harapan kami dengan potensi perikanan yang menjanjikan ini nantinya akan satu paket dengan sektor pariwisata. Jadi selain berwisata pengunjung juga bisa menikmati ikan,” katanya.

Dari pemaparan ini Ketua Komisi II, Mega Nikijulu berharap keberadaan SKPT ini bisa menjawab pasar bagi nelayan di Biak. “Kami juga berharap bisa diperbanyak sehingga banyak pintu yang bisa digunakan nelayan untuk menyalurkan hasil tangkapannya. Ini termasuk soal zonasi atau kawasan tangkap yang hingga kini belum terealisasi. Kami coba kaji dan lihat lebih jauh,” imbuhnya. (ade/tri)

   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *