Pilih Pensiun Dini di Perusahaan Bonafit, Fokus ke Pendidikan Sosial Kemasyarakatan

Peneliti Muda Papua, Septinus George Saa, memberikan arahan kepada para mahasiswa dan pemuda disela-sela Pelatihan Menulis Essay dan Teknik Melamar Beasiswa di Aula Tauboria Distrrik Abepura Kota Jayapura, Sabtu (15/2).Yewen/Cepos

Bincang-Bincang Dengan Peneliti Muda Asal Papua, Septinus George Saa

Peneliti Muda Asal Papua, Septius George Saa, merupakan anak Papua yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional pada tahun 2004 yang silam. Setelah lulus dari luar negeri, pria yang akrab disapa George ini bekerja di Perusahaan British Petrolium (BP) di Bintuni, tetapi pada akhirnya memilih pensiun dini. Apa saja yang melatarbelakangi George untuk memilih pensiun dini dan apa saja kegiatannya selama ini di Indonesia dan Khususnya di Papua?

Laporan: Roberth Yewen

Siapa yang tidak mengenal Septinus George Saa, Peneliti Muda Asal Papua yang telah berhasil mengharumkan nama Papua dan Indonesia di kancah internasional, karena berhasil menemukan rumus penghitung hambatan antara dua titik rangkaian resistor yang kemudian diberi nama “George Saa Formula” pada lomba First to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 yang silam. Nama George Saa selalu dibicarakan di setiap kelas-kelas siswa, baik SD, SMP, SMA/SMK, maupun di perguruan tinggi, karena menjadi inspirasi dan panutan bagi anak-anak Papua lainnya untuk bisa berprestasi kedepan.

Pria yang akrab di sapa George ini setelah lulus Strata Satu (S1) di Aerospace Engineering dari Florida Institute of Technology, di Amerika Serikat (AS) langsung diterima bekerja di Perusahaan BP Beratau Ltd yang beroperasi di Kabupaten Bintuni Provinsi Papua Barat.

George bekerja di BP mulai tahun 2010 dan pada tahun 2015 atau kurang lebih 5 tahun, George akhirnya meminta pensiunan dini dari perusahaan raksasa yang beroperasi di bidang gas ini dan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, terutama di bidang pendidikan sains yang menjadi pengetahuannya selama ini. Tidak hanya itu, George juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakat yang ada di Papua.

Setelah resmi tidak memakai baju Perusahaan BP pada tahun 2015, maka George kemudian kembali ke Jayapura dan menjadi guru di St. Antonius Padua di DistriK Sentani Kabupaten Jayapura kurang lebih dua bulan. Setelah itu pada bulan Agustus tahu 2016, George kemudian melanjutkan studi strata dua (S2) di University of Birmingham, England dengan Jurusan Spesialisasi Diamond-Like Coating (Material Science) dan resmi lulus pada bulan Desember 2018.

Setelah lulus S2, George kemudian menjadi guru Matematika, Fisika, dan Kimia di salah satu sekolah internasional di Bali yang notabene murid-muridnya adalah bule (warga negara asing) dan warga negara Indonesia mix selama kurang lebih 6 bulan atau setengah tahun.

George mengatakan, alasan dirinya keluar dari Perusahaan BP lantaran menyadari dan merefleksikan diri sendiri. Artinya sebagai lulusan luar negeri tentu mempunyai gaji yang besar, pekerjaan, dan anak buah yang bekrja jelas, tetapi jika di lihat keluar di samping kiri dan kanan teryata memang ada banyak hal yang belum dilakukan oleh dirinya. Oleh karena itu, George memilih untuk keluar dari Perusahaan BP dan bisa melakukan apa saja bagi generasi dan orang Papua kedepan.

“Kalau saya di luar dan tidak terikat dengan apa-apa dan bisa buat apa saja bagi generasi Papua dan orang Papua, maka saya pikir banyak orang yang akan merasa suka cita dan itu bisa kita lihat sampai hari ini banyak orang yang berterima kasih, karena dengan begini saja kita bisa hidup dengan baik,” kata pria kelahiran Manokwari 22 September 1986 ini kepada Cenderawasih Pos di Aula Tauboria Sabtu (15/2).

Keputusan keluar dari Perusahaan BP yang diambil oleh George merupakan keputusan yang sedikit extrim, tetapi inilah jalan hidup yang harus dilakukan oleh George, sehingga bisa lebih bebas dalam memberikan kontribusi kepada generasi Papua, terutama bagaimana memotivasi anak-anak muda di Papua, untuk bisa memilih jalan yang sama dalam meraih cita-cita dan masa depannya setinggi langit.

Bagi anak-anak Papua yang kerja di perusahaan saat ini memang tidak perlu mengikuti jejak yang dilakukan George, tetapi selama ini perusahaan setidaknya mereka harus bisa berkontribusi lebih terhadap siapapun, terutama generasi di Papua, apalagi mereka yang selama ini mendapatkan biaya dari Pemerintah Papua untuk sekolah keluar negeri maupun dalam negeri.

Kini George mengikuti hati nuraninya untuk melakukan hal-hal kecil yang dapat memberikan perubahan bagi banyak orang, terutama generasi muda di Papua, seperti pelatihan-pelatihan kepada anak-anak muda Papua. Inilah yang dilakukan sebagai bentuk dari sebagian kepeduliannya terhadap pendidikan anak-anak Papua kedepan.

Walaupun terkesan mungkin hanya sebagian kecil yang dilakukan, tetapi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka perubahan bisa saja terjadi. George akan melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri, sehingga apapun yang dilakukan baik, maka akan tetap dilakukan kedepanya.

“Sesuatu yang saya lakukan dengan kemampuan sendiri, maka saya akan kasih jalan seperti biasa yang saya rasa indah, bagus, maka saya akan lakukan. Saya sendiri rasa Tuhan memang pakai saya untuk bagaimana memberikan kontribusi bagi anak-anak Papua, walaupun hal yang kita lakukan tidak besar, tetapi bisa memberikan dampak yang besar kedepan,” ucap pemuda berusia 33 tahun ini.

George tetap berprinsip untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menolong orang dan tidak merugikan orang, maka akan tetap dilakukan kedepan, karena bagi dirinya ini sudah cukup. Apalagi kalau ada satu atau dua orang mengakui apa yang dilakukan, maka dirinya sangat berterima kasih. Karena tidak perlu menunggu seluruh dunia untuk mengakui pekerjaanmu, tetapi kamu terus merasa masih kurang. Oleh karena itu, George sendiri tidak punya pemikiran berikutnya harus buat apa, tetapi apapun kedepan yang dilakukan, maka akan tetap dilakukan.

Saat ini George telah membuka Rumah Belajar yang diberi nama Ondyssus yang berada di rumahnya yang beralamat di Jalan Yomake Pasar Baru Hinekombe-Kemiri Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. Meskipun rumah belajar yang didirikan ini belum berbadan hukum, tetapi saat ini George sedang mengurusnya agar rumah belajar ini mendapatkan badan hukum. Tidak hanya itu, dirinya juga mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak yang berada di Dok V Kota Jayapura.

George saat juga sedang mempersiapkan diri dan mencari dukungan, untuk melanjutkan studi strata tiga (S3) di luar negeri. George sendiri banyak mendapatkan penawaran untuk melakukan tes dosen, seperti misalnya di ITB tetapi dirinya melihat jika menjadi dosen tentu mengurangi waktunya untuk bebas. (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *