Konsep Pemuda Pulang Kampung Perlu Dibangun

John Gobay

JAYAPURA – Konsep pembangunan di Papua saat ini beragam. Khususnya dibidang pendidikan misalnya, ada yang mendorong program pendidikan ke luar Papua bahkan ke luar negeri termasuk yang mengikuti berbagai pelatihan dengan disiplin ilmu yang komplit. Namun menurut Sekretaris II Dewan Adat Papua (DAP), John Gobay berpendapat bahwa meski seseorang memiliki disiplin ilmu yang tinggi, penting untuk tetap memikirkan kampung halaman.

Suasana dan semua yang ada di kota kata John Gobay memang semuanya menarik. Tapi jangan lupadimana sejatinya kampung menyimpan potensi yang sangat besar untuk bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat di kampung yang sudah pasti bisa berimpact pada masyarakat di perkotaan. Karenanya John mengusulkan agar pemerintah juga memikirkan soal progam pemuda pulang kampung.

“Saya mengusulkan seperti itu, program pemuda pulang kampung. Ini agar anak anak yang menganggur dapat pulang ke kampung dan  memikirkan apa yang bisa dilakukan di kampungnya. Menjadi manusia yang lebih bermanfaat,” kata John, Rabu (12/2). Namun sebelum diterjunkan kembali ke kampung halaman, para pemuda ini perlu diberikan materi oleh instansi pemerintah sesuai dengan potensi daerah agar pemuda pemuda langsung klop dengan apa yang dimiliki daerahnya. “Materi lain bisa tentang kewirausahaan, kesehatan maupun pertanian dan perkebunan,” jelasnya. Keberadaan pemuda ini nantinya bisa juga digunakan untuk program penguatan masyarakat adat.

Soal pemuda pulang kampung ini John menceritakan soal sebuah pengalaman dari seorang Ir.Didimus Tebai. Yang bersagkutan adalah contoh pemuda pulang kampung setelah menyelesaikan studi pertanian  di Faperta Uncen Manokwari dan sesuai dengan potensi di Lembah Kamuu ia berhasil mengembangkan Kopi YP5, Moanemani yang masih eksis hingga saat ini. “Ini satu contoh saja, Ir Didimus tidak terlalu silau melihat kemewahan kota,” jelasnya.

Teknisnya adalah  jika si A dia berasal dari wilayah adat A  maka ia dikembalikan kesana  yang tentunya bisa ikut mengelola dana kampung atau ikut bertanggung jawab atas lembaga pemberdayaan masyarakat dikampungnya. “Jadi program pemberdayaam bisa dihidupkan melalui LPM Kampung atau wilayah adat atau komunitas dari basis tersebut guna mengurangi pemuda yang pengangguran dan bingung mau berbuat apa di kota,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *