Ketika Hobi Menantang Maut Jadi Profesi Tiga Pemuda Pecinta Alam

Rahmat, Sulfandy dan Munawir saat bekerja membersihkan gedung Graha Pena Papua di Jalan Balai Kota No 7 Entrop, Kamis (13/2). Elfira/Cepos

Bergelantungan di Gedung Bertingkat, di Papua Graha Pena Papua yang Pertama

Tidak sedikit orang menjadikan hobinya sebagai pekerjaan. Seperti tiga pemuda pecinta alam Rahmat, Sulfandy dan Munawir, yang mempunyai hobi panjat dinding. Apa hobi mereka dan pekerjaan apa yang digeluti ?

Laporan: Elfira, Jayapura

TERIK matahari selepas hujan pukul 10:28 WIT, Kamis (13/2) sedang diobral pagi kemarin. Panasnya sedikit menyengat kulit dan sinarnya menyilaukan mata.

Dari kejauhan, terlihat tiga pria bernama Rahmat, Sulfandy dan Munawir sedang bergelantung di gedung Graha Pena Papua dengan ketinggian 30-35 meter menggunakan tali karmantle dan beberapa peralatan lain yang menempel di badan mereka. Ya, sudah sejak seminggu terakhir, tiga pemuda ini membersihkan kaca dan dindin gedung Graha Pena Papua.

Bagi ketiga pemuda asal Makassar ini, memanjat dinding adalah bagian dari hobi mereka. Sehingga bukan hal baru bagi mereka tentang ketinggian, ketiganya telah lama jatuh cinta dengan olahraga panjat dinding. Bahkan, ketinggian seakan jadi teman. Hobi itu pun kini jadi pekerjaan mereka.

Diantara banyak pekerjaan, mereka justru memilih pekerjaan tersebut sebagai penopang kebutuhan sehari-hari. Sebuah kegiatan ekstrem seperti ini, hanya diminati oleh orang-orang yang bisa dikategorikan sedikit gila seperti mereka.

“Bagaimana ya, sudah terlanjur jatuh cinta saya sama pekerjaan ini. Habis bagian dari hobi juga sih, dan setiap pekerjaan pasti punya tantangan tersendiri,” ucap Rahmat pemuda yang basicnya dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Terkadang, akal sehat memang selalu kalah dengan rasa cinta. Tiga pemuda ini telah lama jatuh cinta dengan olahraga panjat dinding. Sehingga saat berada di ketinggian, sudah bukan hal awam bagi mereka.

Pekerjaan seperti ini kata Rahmat, bukan hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Melainkan ada juga teman mereka yang perempuan. “Jangan salah loh, ada juga cewek yang bekerja seperti apa yang kami kerjakan ini,” ucap Rahmat tersenyum sembari merapikan peralatan yang melekat pada tubuhnya.

Adapun gedung-gedung yang sudah dibersihkan Rahmat yakni Telkom Proprty, Siloam, Lippo Karawaci, Telkomsel, Reddors dan Novotel. Dan untuk wilayah Papua, ini baru pertama kalinya mereka datang dan membersihkan gedung Graha Pena Papua yang menjadi markas kru Cenderawasih Pos mengolah berita.

Berada di ketinggian membutuhkan sebuah keberanian dan fokus tinggi. Tidak gampang panik. Meskipun begitu, rasa was-was tetap sesekali muncul di angan-angan. Yang terpenting kata Rahmat, persiapannya. Kalau sudah lengkap dan dicek aman semua, rasa was-was akan hilang sendiri.

“Yang terpenting percayakan pada alat. Dalam pekerjaan ini, nyawa adalah taruhannya. Keselamatan ditentukan dari persiapan dan alat yang digunakan. Semakin teliti maka risiko bisa diminimalisasi dan alhamdulillah baik-baik saja,” tuturnya.

Saat berada di atas ketinggian, ketiga pemuda ini tak lantas diam-diam begitu saja. Para pekerja ini tetap saling melempar canda dan gurauan. Bukan karena tidak serius bekerja. Namun lebih untuk menghilangkan rasa jenuh.

“Kalau diam saja malah ketiduran. Makanya kita biasa tetap bercanda,” ucap Rahmat yang menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2016 silam.

Bagi mereka, bekerja di ketinggian merupakan sebuah keberuntungan. Selain menjadi hobi yang dibayar, mereka juga bisa menikmati pemandangan dari ketinggian. Tak jarang ketika sedang di ketinggian mereka justru terpana dengan keindahan pemandangan yang ada di sekitar mereka.

Terpaan angin kencang dan terik matahari seakan tak lagi berarti bagi mereka, toh itu sudah bagian dari resiko pekerjaan. Bahkan ketakutan akan terjadi kerusakan alat atau tali pun sudah tidak terlalu dipikirkan. Semua dilandasi dari rasa kecintaan pada pekerjaan yang luar biasa.

Rahmat sendiri sudah mengunjungi beberapa kota besar di Indonesia seperti di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Rahmat bahkan telah memiliki pengalaman bekerja selama 4 tahun terakhir yakni bergelantung di ketinggian kisaran 220 meter.

“Yang perlu diingat, yang bekerja dibidang ini harus punya sertifikasi dan itu wajib bagi mereka. Bahkan, mengikuti training terlebih dahulu dan saling berbagi pengalaman kerja,” kisahnya ketika ditemui Cenderawasih Pos di sela-sela ia mempersiapkan diri untuk bekerja.

Mereka juga bekerja dinaungi dalam asosiasi bernama Rope Access atau Perusahaan Jasa  Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) dan tetap mengacu pada dasar hukum peraturan Menteri ketenaga kerjaan RI tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan pada ketinggian.

“Yang terpenting itu, sebelum bekerja periksa terlebih dulu alatnya, dicek satu persatu,” ucap Rahmat sebagai pengawas dalam pekerjaan kali ini. sebab ia sudah level dua.

Rahmat  sendiri saat ini berada dibawah Phinisi Height Specialist yang merupakan badan usaha yang bergerak dalam bidang jasa profesional, ilmiah, teknis dan perdagangan umum yang berdomisili di Jakarta.

“Pinisi Height Specialist” terfokus pada pelayanan jasa servis bekerja di ketinggian dengan metode akses tali (rope access) dan penahan jatuh (fall protection) dalam penerapan sistem kerjanya mempunyai komitmen serta memberikan yang terbaik untuk pelanggan

Adapun layanan servis meliputi Cleaning service berupa pembersihan dinding bagian luar bangunan yang sulit dijangkau. Paninting berupa pelapisan dan pengecatan bagian bangunan luar yang sulit dijangkau. Perawatan dan perbaikan bagian bangunan luar area yang sulit dijangkau. Installation dan engineering.

Peralatan yang digunakan saat bekerja yakni Helm, full body harnest, tali karmantle, connector, descender, ascender, Backup device, cowstail, lanyard, sling pemanbat dan work  positioning.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *