Fasilitas Dirusak Orang, Air Menggenang kala Hujan

: Edi membersihkan dinding candi yang tergenang air setelah hujan mengguyur dengan deras.

Kisah Edi Saputro Jupel Situs Candi Tondowongso

Bangunan candi itu seperti tenggelam di lautan kebun tebu dan padang rumput. Bila musim penghujan tiba, bukan hanya rumput yang tumbuh dengan cepat di sekitarnya. Airnya juga menggenangi dinding-dinding candi.

RENDI MAHENDRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Sepintas, tak ada yang menonjol pada hamparan tanah lapang berumput di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah itu. Selain, tentu saja, rumput liar yang tumbuh subur. Dan beberapa lubang galian. Juga kebun tebu milik penduduk yang mengelilingi area itu.

Padahal di tengah-tengah tanah lapang itu terdapat situs bersejarah. Yang, sesuai nama tempatnya, disebut dengan Candi Tondowongso. Sayangnya, kondisi candi seperti terlupakan. Lokasinya yang lebih rendah dari tanah di sekitarnya membuatnya seperti tenggelam di lautan padang rumput dan kebun tebu. Apalagi bila musim penghujan tiba. Rumput yang bertumbuh dengan cepat semakin gagah menghalangi pandangan pada candi tersebut.

Hal itulah yang membuat Edi Saputro, 31, harus sigap merawat candi. Karena tugasnya sebagai juru pelaksana (jupel) candi yang ditemukan pada 2007 tersebut. “Biasanya yang bantu untuk membersihkan rumput tersebut kebanyakan warga sekitar. Rata-rata yang mempunyai hewan peliharaan seperti sapi. Mereka biasanya cari rumput di sini,” terang Edi.

Saat berbicara itu Edi menunjuk dua orang yang berada tidak jauh dari tempatnya. Dua orang itu tengah menyabit rumput.

Tapi, kendala Edi tak hanya soal rumput saja. Saat musim penghujan ini tantangan bertambah lagi. Yaitu genangan air. Setiap kali musim penghujan puing-puing Candi Tondowongso selalu tergenang.

“Kalau musim hujan begini ada sumber airnya di lubang galian candi itu. Jadi candi tersebut selalu tenggelam dalam genangan,” jelas Edi.

Saat itu hujan deras baru saja mengguyur area sekitar candi. Akibatnya, area candi seperti kolam besar. Bahkan, pernah genangan air memenuhi hampir seluruh lokasi situs yang seluas satu hektare tersebut.

“Dulu airnya pernah menggenang sampai sini,” kata Edi, menunjuk lokasi parkir kendaraan bagi pengunjung.

Ironisnya, sikap warga ternyata semakin menambah nestapa bangunan candi. Misalnya, pernah beberapa orang pernah ikan ke dalam air yang menggenangi lokasi candi. Selanjutnya mereka memancing. Mereka masih sempat mengambil bata dari bangunan candi hanya digunakan untuk duduk.

“Setelah itu mereka lempar begitu saja bata yang diambil itu tanpa mengembalikan ke tempat semula,” terang Edi.

Padahal, Edi mengatakan, candi tersebut keberadaannya dilindungi undang-undang. Bila ada kerusakan orang tersebut bisa kena sanksi hukum. Apalagi kalau disengaja.

“Jadi ya saya bilang ke orangnya, kalau masih mau tenang tinggal di rumah, ya mbok jangan  naruh ikan-ikan ke dalam candi dan memancingnya. Kan bukan kolam ikan,” terang Edi.

Edi, yang karyawan honorer di Dinas Pariwisata ini tak bisa menjaga candi selama 24 jam. Karena itu, masih banyak kegiatan negatif warga yang terjadi di sekitar candi tersebut. Misalnya, jika malam, area parkir dijadikan lokasi mabuk-mabukan. Ironisnya, kala mabuk, mereka terkadang merusak fasilitas sekitar candi.

Salah satu korbannya adalah papan nama candi. Dibengkokkan hingga rebah ke tanah. Membuat saat ini tidak ada papan penanda bahwa lokasi itu adalah situs Candi Tondowongso.“Harapan saya dinas terkait bisa memberi pagar di sekeliling candi biar aman,” ungkap Edi.

Sejak ditemukan pada 2007, belum ada pembangunan yang signifikan di area candi. Hanya ada tempat parkir yang luasnya sekitar 1,5 meter×2 meter, papan informasi yang sudah roboh, papan peringatan perlindungan cagar budaya, serta papan nama. Semua benda itu sekarang sudah berkarat.

Bagaimanapun situasinya, Edi tetap berusaha menjadi jupel yang baik. Lelaki yang tinggal tak jauh dari lokasi yang dijaganya itu selalu membawa buku tentang Tondowongso. Yang dia gunakan sebagai bahan memberi penjelasan bagi pengunjung yang meminta informasi.

“Biasanya kalau ada anak SMA atau mahasiswa yang datang ke sini karena tugas, saya sodorkan buku ini. Biar mereka membacanya sendiri. Soalnya kalau saya yang jelaskan takut salah,” terang Edi.

Buku yang ada di tangah Edi itu penuh dengan lipatan. Menjadi penanda beberapa bagian yang paling banyak dicari. Terutama tentang sejarah penemuan candi dan latar belakang bangunan tersebut. Di buku itu dijelaskan bahwa candi tersebut peninggalan agama Hindu. Tertimbun api vulkanik dari letusan Gunung Kelud.

“Dulu pas tahun 2007, pertama kali candi ini ditemukan, pengunjungnya sampai ribuan orang. Tapi sejak artefaknya dibawa ke Balai Pelestarian Purbakala Mojokerto, pengunjungnya jadi sepi. Harapan saya, artefaknya atau replikanya dikembalikan, kan daya tariknya di situ. Terus dibangun pagar untuk keamaan Mas,” pungkas Edi. (fud/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *