Usut Kasus Garuda, KPK Dapat Dukungan Inggris

JAKARTA, Jawa Pos – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat dukungan dalam menangani kasus dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. Dukungan itu berupa kesepakatan Deferred Prosecution Agreement (DPA) antara Serious Fraud Office (SFO) dengan Airbus SE.

Plt Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pihaknya mengapresiasi SFO (lembaga antirasuah Inggris) dan penegak hukum di Inggris atas kesepakatan itu. Selama kasus Garuda bergulir, KPK banyak dibantu SFO dan CPIB (lembaga antikorupsi) Singapura. Itu lantaran pengadaan pesawat dan mesin pesawat di Garuda melibatkan pabrikan di Inggris serta rekanan di Singapura.

Ali menjelaskan, berdasarkan kesepakatan DPA, SFO bersedia menunda proses penuntutan pidana terhadap Airbus SE, salah satu pabrikan pesawat di Garuda yang diduga memberikan fee kepada Emirsyah Satar (eks Dirut Garuda). Syaratnya, Airbus SE bersedia bekerja sama penuh dengan penegak hukum dengan mengakui perbuatan, membayar denda, dan melakukan program reformasi dan tata kelola perusahaan.

Airbus SE bersedia membayar denda sebesar 991 juta Euro kepada pemerintah Inggris. Jumlah tersebut adalah bagian dari kesepakatan global sebesar 3,6 miliar Euro yang akan dibayarkan Airbus SE kepada pemerintah Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Ali menyebut kesepakatan DPA adalah hasil penyidikan yang dilakukan SFO terhadap dugaan pemberian suap Airbus SE kepada pejabat-pejabat yang ada di 5 yurisdiksi. Yaitu Indonesia, Sri Lanka, Malaysia, Taiwan, dan Ghana pada kurun waktu 2011-2015. Di Indonesia, penyidikan yang dilakukan SFO sejalan dengan proses penanganan perkara Garuda yang dilakukan KPK.

“KPK yakin DPA akan memperkuat alat bukti dalam penyidikan dan penuntutan perkara dugaan suap terkait pengadaan mesin pesawat Garuda,” jelasnya.

Dalam dokumen Approved Judgement dan Statement of Facts yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari DPA, terdapat uraian fakta terkait dugaan pemberian suap kepada pejabat Garuda. “Fakta tersebut sudah sejalan dengan yang ditemukan pada penanganan perkara Garuda oleh KPK,” imbuhnya.

Saat ini terdakwa Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo sedang menjalani proses persidangan. Sedangkan tersangka Hadinoto Soedigdo (eks Direktur Teknik Garuda Indonesia) masih dalam penyidikan. (tyo/oni/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *