Pelaku Pemukulan Guru di  Jagebob Tetap Diproses

MERAUKE-Meski sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  Kabupaten Merauke   Thiasoni Betaubun   menginformasikan  kepada media  jika   kasus pemukulan yang dialami  seorang guru di Jagebob dari  orang   tua siswa diselesaikan secara kekeluargaan, namun      ternyata  proses terhadap     pelaku   yang sudah berstatus   tersangka  tersebut masih  tetap berlanjut.

   Bahkan, sampai sekarang  pelaku  yang sudah ditangani  Polisi tersebut telah  menjalani penahanan.  Kapolsek    Jagebob, Ipda   Sukirno, S.Sos,  ketika  dihubungi lewat  telpon selulernya,    Kamis (6/2) mengungkapkan jika    tersangka yang  berinisial Je (42)  tersebut  telah ditahan  dan masih dalam proses  penanganan polisi.

  “Sampai   sekarang   masih  kita tangani dan masih ditahan,’’ kata Kapolsek.

    Soal   penyelesaian   kekeluargaan, menurut Kapolsek, tidak  menutup kemungkinan adanya   jalur penyelesaian secara kekeluargaan  tersebut. Namun sampai sekarang proses hukumnya  masih berjalan. Soal kedatangan  Kepala Dinas Pendidikan ke Jageobob tersebut, Kapolsek  menjelaskan, kemungkinan   yang bersangkutan datang untuk cek  kronologis kejadiannya sekaligus memberikan  arahan kepada guru-guru yang ada di Jagebo.

  “Tapi  proses hukum  terhadap pelaku   masih  jalan.   Sampai sekarang  belum ada  permintaan penyelesaian  dari korban. Kalaupun nanti ada   itu sah-sah saja. Tapi sampai  sekarang proses hukumnya   masih jalan,’’ kata  Kapolsek.

   Kapolsek menjelaskan,  berdasarkan pemeriksaan   yang  dilakukan, pemukulan   itu dilakukan  Je terhadap korban Sudarsono  saat  jam  pelajaran di sekolah. Ketika  itu, pelaku   yang disulut  emosi setelah mendapatkan  laporan  dari anaknya  langsung menghampiri  korban  dan memukulnya  tanpa  bertanya kebenaran.

   Dimana saat itu, anak pelaku melaporkan kepada   orang tuanya kalau   anak tersebut dipukul  oleh  korban. Padahal, dari   para  guru dan siswa yang  melihat kejadian itu  saat dimintai  keterangan sebagai saksi  jika  korban hanya mencubit  anak dari pelaku. ‘’Kita juga sudah  melakukan  visum  langsung ke  anak pelaku dan tidak ditemukan ada  tanda-tanda kekerasan,’’ katanya.

   Karena itu,     Kapolsek meminta  kepada masyarakat  agar   masalah yang terjadi ini  bisa menjadi pelajaran. Jika  mendapat laporan  dari anak, tidak   langsung ditelan mentah-mentah. ‘’Tapi  perlu dicros cek   kebenarannya,’’  terangnya.

  Tersangka Je, kata Kapolsek dijerat Pasal 351 ayat (1) dengan ancaman  2 tahun  6 bulan. ‘’Kita tahan karena ada    pertimbangan jangan sampai ada konflik sosial. Karena    ini di lokasi  trans yang tidak mengerti  hukum. Kenapa  orang salah    tidak diamankan. Kita mau jelaskan ke masyarakat  belum tentu  masyarakat paham. Kita takut  adanya konflik sosial  sehingga untuk menghindari  itu,  maka   pelaku kita tahan,’’ tandasnya. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *