Pakai Masker Mulanya untuk Cegah Flu

Robby Kurniawan/Jawa Pos TEMANI BELAJAR: Merry Prasetyaning bersama keponakannya, Adli Alvaro, di rumahnya di Desa Tenggulunan, Candi, Sidoarjo, kemarin (30/1).

Merry Prasetyaning, Mahasiswi yang Pulang dari Wuhan

Merry Prasetyaning Utami Wijaya kuliah S-2 di Jurusan Pendidikan Bahasa Mandarin di Central China Normal University (CCNU), Wuhan. Dia pulang ke Sidoarjo saat wabah virus korona belum sebesar saat ini. Bersyukur bisa berkumpul keluarga. Namun, Merry juga kepikiran teman-temannya yang masih berada di sana.

ROBBY KURNIAWAN, Sidoarjo, Jawa Pos

Adli Alvaro tak sendirian belajar membaca dan menulis kemarin siang (30/1). Bocah 5 tahun itu ditemani tantenya, Merry Prasetyaning Utami Wijaya. ’’Ini gambar bulu. Huruf depannya B. Kalau ditulis, buat garis lurus, lalu ditambah angka 3,’’ terang Merry di rumahnya di Desa Tenggulunan, Candi, Sidoarjo.

Interaksi mereka begitu dekat. Keponakan yang punya nama panggilan Varo itu berkali-kali bersandar ke tubuh Merry. Dia tampak nyaman bersamanya. Padahal, perempuan 23 tahun itu baru pulang dari Wuhan pada 10 Januari lalu.

Namun, Varo tak tampak khawatir kena virus. ’’Saya sendiri sempat parno setelah pulang dan tahu kejadian,’’ tutur Merry.

Dia khawatir kepulangannya membawa virus, lalu menyebar ke lingkungan keluarga terdekat. Dia membersihkan semua barang yang dibawanya pulang. Termasuk mencuci bersih baju-bajunya.

Namun, keluarga tak merisaukan apa pun. Mereka merasa aman dan tenang. Apalagi, sejak Merry datang, belum ada tanda-tanda serangan virus korona 2019-nCoV di keluarga. Tidak ada yang demam. Pun, tak ada yang batuk.

Merry bercerita, kepulangannya saat itu tak sulit seperti sekarang. Saat ini Wuhan benar-benar terisolasi. Masyarakat di dalam kota tidak boleh pergi. ’’Sewaktu saya pulang, lancar aja,’’ ucapnya.

Ketika dirinya balik ke Indonesia, kata Merry, nama virus korona belum didengarnya. Hanya, pada akhir Desember lalu, para mahasiswa di CCNU mendapat imbauan dari pengajar untuk memakai masker selama berada di luar ruangan.

Penyebabnya, saat itu banyak orang yang terserang influenza. Karena itu, mereka dianjurkan menjauhi tempat-tempat keramaian agar tidak tertular. ’’Tidak tahunya, flu itu wabah korona. Sudah ada ribuan yang terserang. Ratusan penderita meninggal,’’ ungkapnya.

Merry merasa lega. Tetapi, masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia bisa pulang dengan selamat dan terhindar dari virus. Namun, dia mengkhawatirkan teman-temannya dari Indonesia yang masih berada di Wuhan. ’’Mereka tidak bisa pulang. Pasti tidak tenang. Kangen keluarga. Keluarga pun kangen mereka,’’ ucapnya.

Misalnya, Ayuwinda. Dia adalah teman sekamar Merry di asrama CCNU. Keduanya sama-sama lulusan S-1 Pendidikan Bahasan Mandarin di Unesa. Mereka masih saling berkomunikasi. Merry rajin menanyakan kabar Ayuwinda.

’’Ayuwinda bilang, mahasiswa Indonesia di sana sehat. Tak ada satu pun yang terjangkit. Setiap keluar asrama, mereka memakai masker. Juga, rajin mencuci tangan. Bahkan, di setiap kamar ada termometer untuk mengecek suhu tubuh tiap hari,’’ ungkap Merry.

Dari cerita teman-temannya, Merry menyampaikan bahwa Wuhan saat ini bagaikan kota mati. Tak banyak aktivitas. Untung, rutinitas perkuliahan sedang libur semester. ’’Saya pulang ini juga karena liburan semester. Yang lain memilih menetap karena keinginan masing-masing,’’ terangnya.

Menurut dia, Wuhan adalah pusat perekonomian Tiongkok. Banyak industri, pusat perbelanjaan, dan lokasi wisata. Tak heran, ribuan wisatawan berdatangan. Begitu pula mahasiswa asing.

Disebutkan, virus korona kali pertama menyebar dari kelelawar. Belakangan viral foto warga Wuhan yang mengonsumsi kelelawar. Merry mengaku belum pernah melihat langsung. Walau begitu, dia membenarkan bahwa ada pasar yang menjual berbagai hewan liar untuk dikonsumsi, yaitu Pasar Huanan.’’Jaraknya dengan kampus jauh. Harus naik MRT dua kali,’’ jelasnya.

Merry menambahkan, dirinya tak tertarik menjajal makanan ekstrem selama di Wuhan. Hanya, dia mengaku pernah sekali makan daging kura-kura. ’’Diajak mahasiswa Vietnam untuk mencoba,’’ ungkapnya.

Dia berharap teman-temannya tetap sehat sampai menunggu evakuasi dari pemerintah Indonesia. Merry juga tetap bersemangat untuk menyelesaikan studi S-2 di Wuhan. Begitupun keluarganya yang terus memberikan dukungan.

Sesuai dengan jadwal awal, dia akan kembali ke Wuhan Februari nanti. Namun, dengan kondisi saat ini, Merry akan menunggu perkembangan selanjutnya. ’’Kalau sudah aman, pasti akan lanjut. Tidak mudah dapat beasiswa dari pemerintah China,’’ ujarnya. (*/c5/ayi/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *