Temukan Calon Istri saat Bekerja di Pabrik

Ponari bersama tunangannya, Zuroh

Selain itu, keluarga Ponari dikenal murah hati. Tidak segan menyalurkan sebagian uang hasil pemberian pasien yang mereka terima untuk desa. Subandi menceritakan, musala yang berdiri di barat rumahnya dibangun dengan uang dari Ponari. Begitu pun perbaikan jembatan menuju dusun. ’’Kalau ke sini tadi di pinggir jalan ada masjid besar. Itu juga biaya renovasinya dari Ponari,’’ tambahnya.

Untuk mengabadikan peristiwa yang membuat desa mereka terkenal itu, warga menamai gapura menuju rumah Ponari dengan sebutan Gang Ponari. Ada empat gang di desa tersebut yang diberi nama Gang Ponari.

Sementara itu, setelah pasiennya tak lagi banyak, Ponari melanjutkan pendidikan. Dia kini telah menamatkan sekolah kejar paket B setara SMP. Ponari beberapa tahun lalu juga sempat tinggal di Sidoarjo bersama sejumlah temannya. Mereka bekerja di pabrik kerupuk. ’’Baru tiga hari kerja sudah ndak kerasan. Akhirnya pulang lagi ke Jombang,’’ ungkapnya.

Ponari lantas berpindah-pindah kerja di beberapa pabrik di sekitar Kabupaten Jombang. Salah satunya pabrik makanan ringan. Di situlah dia akhirnya bertemu dengan Zuroh. Perempuan 22 tahun asal Desa Jogoroto, Jombang, itu telah mencuri hati Ponari. Keduanya pun melangsungkan lamaran pada 11 Januari lalu. ’’Resepsinya insya Allah habis Idul Adha nanti,’’ kata Ponari.

Saat pertama berkenalan, Zuroh tidak tahu bahwa kekasihnya itu adalah anak kecil yang dulu sempat bikin geger warga se-Indonesia. Belakangan, Zuroh pun tahu. Itu pun tidak dari Ponari langsung, tetapi dari teman-temannya di pabrik. Ponari yang sampai saat ini dikenal pendiam dan pemalu memang sengaja menyembunyikan hal tersebut. ’’Anaknya memang pemalu. Ndak banyak bicara juga,’’ ungkap Zuroh.

Dia mengaku jatuh cinta kepada Ponari karena sifatnya yang baik dan pendiam. Zuroh juga menyebut Ponari sebagai laki-laki yang penuh pengertian. ’’Saya jadi nyaman,’’ ucapnya.

Seperti halnya pasangan muda lain, Ponari dan Zuroh sudah merancang hidup. Mereka berencana membuat rumah di desa asal Zuroh. Ponari dan Zuroh juga ingin meneruskan pekerjaan di tempat masing-masing. Ponari saat ini bekerja di salah satu klinik pengobatan herbal di Kota Jombang, sedangkan Zuroh di salah satu pabrik.

Sementara Ponari terus melanjutkan hidup, batu ajaib itu masih tersimpan rapi di lemari Mbah Legi, di rumah orang tua Ponari. (*/c5/ayi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *