Temukan Calon Istri saat Bekerja di Pabrik

Ponari bersama tunangannya, Zuroh

Sejak saat itu, batu milik Ponari tersebut menjadi bahan pembicaraan di dusun mereka. Hingga suatu saat, salah seorang tetangga yang jatuh sakit dan tak sembuh-sembuh meminta bantuan untuk minum air yang sudah dicelupi batu milik Ponari tersebut. ’’Lha kok ternyata sembuh. Padahal, berobat ke mana-mana ndak sembuh,’’ ucap Mbah Legi.

Sejak saat itu, ramai orang datang. Mereka berbondong-bondong minta disembuhkan dengan air yang sudah dicelupi batu itu. Lama-kelamaan, yang datang bukan hanya warga desa setempat, tetapi dari mana-mana.

Lambat laun, jumlah pasien Ponari membeludak. Bukan lagi puluhan atau ratusan, tetapi sampai ribuan orang. Media-media massa nasional pun ikut meliput fenomena itu. ’’Ndak tahu juga waktu itu kok bisa tiba-tiba ramai kayak gitu,’’ katanya.

Hingga saat ini, masih ada pasien yang datang untuk minta disembuhkan. Namun, jumlahnya sudah jauh menurun. ’’Seminggu kadang ada 2–3 tamu yang datang. Tetapi, kadang juga nggak ada sama sekali,’’ ucap ibu Ponari, Mukaromah.

Ponari mengaku tidak ingat sama sekali kejadian yang dia alami 11 tahun silam tersebut. Gegernya negeri ini gara-gara batu yang dia temukan itu juga tidak ikut membuatnya menikmati ketenaran. Yang dia tahu, saat itu setiap hari tubuhnya terlalu lelah gara-gara meladeni ribuan pasien yang datang ke rumahnya. ’’Saya kayak ndak sadar waktu itu,’’ ungkapnya.

Ponari menyebutkan, hidupnya saat ini jauh lebih nyaman. Setelah hiruk pikuk tentang batu itu berakhir, dia bisa menjalani hidup sebagaimana teman-teman sebayanya di desa.

Subandi, salah seorang tetangga, mengungkapkan, Ponari bisa kembali bersosialisasi dengan warga setelah gonjang-ganjing batu itu mereda. ’’Ya, kadang begadang juga sama anak-anak muda sini,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, warga setempat turut mendapat imbas pada masa ketenaran Ponari. Denyut ekonomi desa berjalan begitu cepat. ’’Pas itu jualan apa saja yo rame,’’ ucap Subandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *