Tukang Loak Itu pun Batal Jadi Jenderal Bintang Tiga

PUSAT KERAJAAN: Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti saat meninjau lokasi Keraton Agung Sejagat (KAS) di Desa Pogungjurutengah (15/1)

Gayung bersambut, ramainya pengunjung itu pun dimanfaatkan warga untuk mengais rezeki. Banyak yang menjadi pedagang dadakan.

Area keraton dibagi menjadi dua tempat. Ruang sidang Gedung Sri Ratu Indratayana dan tempat padepokan. Khusus ruang sidang, para pengunjung hanya bisa melihat dari depan. Sebab, garis polisi masih terpasang di sana.

Dari penuturan warga dan eks pengikut, di dalamnya terdapat kursi raja. Ornamen dan bendera kerajaan juga terpasang. Jika dilihat dari luar, kondisinya tampak biasa. Tapi, saat masuk, begitu megah. ’’Lengkap di dalamnya ada tempat raja dan permaisuri,’’ ucap Eko Pratolong, salah seorang eks pengikut KAS.

Sementara itu, di area padepokan terdapat tiang tinggi yang terbuat dari kayu. Menurut Sumarmi yang tinggal tak jauh dari sana, tiang itu akan menjadi cikal bakal padepokan. Selain itu, di sisi utaranya terdapat sendang. Lokasi tersebut digadang-gadang menjadi tempat pemandian abdi dalem keraton. Nah, yang menjadi pusat perhatian adalah prasasti batu besar dengan ukiran tulisan aksara Jawa.

Yang sempat menghebohkan warga adalah saat pemindahan batu tersebut. Menurut Sumarmi, prasasti itu diambil dari pegunungan sekitar Purworejo. Prosesnya pun tak mudah. Butuh 12 jam untuk membawa batu ke lokasi.

’’Itu dibawa dengan menggunakan alat berat. Dari lokasi, batu tersebut langsung dibungkus dengan kain kafan,” katanya. (omy/c7/c11/ttg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *