Melihat Pengelolaan Kotoran Ayam  PT Harvest  Pulus  Papua di Merauke

Manager Pemasaran  PT Harvest Pulus Papua  David Arinata saat menunjukkan  peternakan   ayam PT Harvest Pulus Papua yang ada di  Semangga. Pengelolaan  limbah  atau kotoran ayam di   peternakan ayam petelur   oleh perusahaan ini sudah mulai menggunakan mesin dan areal  peternakan  terlihat  bersih. (Sulo/Cepos)

Tidak Ada Bau Menyengat, Boleh Diambil Gratis Untuk Pupuk

Menyikapi adanya  keberatan dari masyarakat  Kampung Marga Mulia terhadap  peternakan ayam  milik  PT Harvest  Pulus  Papua yang  ada di Kampung Marga Mulia, Distrik Semangga Merauke membuat   pihak   perusahaan  tersebut mengajak wartawan  yang ada di Merauke   untuk melihat langsung   pengelolaan  kotoran  atau limbah   yang dihasilkan dari sekitar 30.000 ekor   ayam  petelur setiap   harinya  tersebut, Sabtu   (11/1).

Laporan: Yulius Sulo_Merauke.

David Arinata, Manager Pemasaran PT Harvest Pulus Papua  yang membawa 7 wartawan  ke   lokasi   peternakan ayam tersebut meminta  wartawan   untuk  dapat menilai  sendiri  apakah  di lokasi  ada bau yang  menyengat   seperti yang  disampaikan warga tersebut  atau bagaimana.      “Saya sengaja  ajak teman-teman wartawan   untuk  melihat dan menilai sendiri. Karena selama ini mungkin hanya  dapat informasi katanya. Kalau sudah melihat sendiri, teman-teman  bisa menilai  seperti apa,” kata  David.

   Untuk  masuk  areal   kandang ayam  tersebut, kita melewati   2 kali biosecurity sistem, dimana ada  cairan  yang disemprotkan  ke  tubuh  kita. ‘’Namanya   ayam pemeliharaan seperti  ini sangat sensitif. Jadi   orang tidak boleh sembarangan   masuk. Untuk kita  masuk ini sudah mendapat izin dari  direksi,” kata David.

   Di dalam  lokasi  itu,  David  membawa wartawan   ke kandang   ayam  yang  tertutup  dari luar  tersebut. Hanya   kedengaran  suara  ribuan  ekor ayam dalam kandang tersebut. David menunjukkan  beberapa kandang  yang sistem  pengelolaan   kotoran  sudah  dilakukan dengan menggunakan  mesin. Artinya, kotoran   yang dihasilkan ayam  tersebut dikumpulkan  kemudian didorong dengan menggunakan mesin ke satu titik  kumpul  untuk selanjutnya  dibuang ke tempat  pembuangan   terakhir.

   Lagimin,   petugas  yang sehari-harinya mengurus kotoran  ayam  tersebut menjelaskan, sebelum dibuang ke  tempat  pembuangan limbah, terlebih dahulu  kotoran dicampur  dengan sekam  padi dan kapur dan campuran lainnya untuk menghilangkan   bau. ‘’Di tempat  pembuangan  terakhir,   dilakukan fermentasi selama kurang lebih 2 minggu. Di sana ditutup dengan   tarpal,’’ katanya.   

  Kotoran yang  sudah difermentasi tersebut,   kemudian diambil oleh warga  secara gratis sebagai pupuk. Selama  sekitar  30 menit  berada di   kandang ayam tersebut, tidak  tercium bau menyengat.  David menilai,   adanya penolakan  yang  muncul  tersebut karena kemungkinan adanya persaingan  usaha. David menambahkan  bahwa   total produksi  setiap harinya rata-rata  18.200 butir  telur. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *