Punya Bapak Angkat yang All-out Kawal Burung

Folly akbar/jawa pos JADI PANUTAN: Dari kiri, Mardiyanta, Kelik, dan Asman yang aktif menjaga kelestarian burung.

Inspirasi dari Jatimulyo, Desa Ramah Burung di Kaki Pegunungan Menoreh

Kombinasi apik pemerintah desa dengan masyarakat berhasil melestarikan 101 spesies burung di Desa Jatimulyo. Selain lingkungan yang lebih asri, konservasi burung membawa nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.

FOLLY AKBAR, Jawa Pos, Kulonprogo

BALIHO yang banyak terpasang di pinggir jalan menyambut siapa pun yang memasuki kawasan Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.

Semakin masuk ke dalam, baliho semakin banyak. Namun, bukan baliho tokoh politik layaknya di musim pemilu. Melainkan baliho peringatan untuk tidak berburu burung.

Warga desa yang tinggal di bawah Pegunungan Menoreh itu memang sudah sejak beberapa tahun terakhir mendeklarasikan diri untuk berperang melawan perburuan burung. Perlawanan tersebut diperkuat dengan Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup.

Dalam perdes tersebut, menangkap burung ditetapkan sebagai aktivitas terlarang di Jatimulyo. Siapa pun yang nekat melakukannya, sanksi berlapis harus dihadapi. ”Peringatan dulu, kalau diulangi lagi, ya bayar denda,” kata Sekretaris Desa Jatimulyo Mardiyanta saat ditemui Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos) Senin lalu (30/12/2019). Dendanya pun bisa mencapai Rp 10 juta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *