Terjebak di Kamar, Banjir Angkat Kasur hingga Plafon

ZALZILATUL HIKMIA/JAWA POS KEHILANGAN ISTRI: Muhammad Ali ditemani menantunya di pengungsian banjir di Universitas Borobudur, Jakarta Timur, kemarin (2/1).

Cerita Duka Sebagian Korban Banjir Jabodetabek

MALAM tahun baru jadi mimpi buruk bagi Muhammad Ali, 82. Di saat yang lain berpesta merayakan pergantian tahun, warga RT 4, RW4, Kelurahan Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, itu justru bertaruh nyawa menghadapi datangnya banjir. Nahasnya, sang istri Nawa, 72, harus meregang nyawa di depan matanya.

Z. HIKMIA, Jakarta-FERLYNDA P., Bekasi, Jawa Pos

Ditemui di pengungsian di Universitas Borobudur, Jakarta Timur, kemarin, Ali terlihat gelisah. Dia tak nyaman dengan kondisinya. Berbaring sebentar, kemudian duduk. Lalu berbaring kembali. ”Badannya sakit,” ujarnya terbata-bata.

Sambil dipijat anak-anaknya, Ali terus mengeluh sakit pada sendi-sendinya. Sambil duduk, dia berusaha bercerita soal kejadian malam itu. Tak banyak cerita yang keluar sebenarnya. Bahkan, bisa dibilang dia seperti lupa pada sebagian peristiwa yang merenggut nyawa pendamping hidupnya. Beberapa kali bapak enam anak itu meminta anaknya untuk pulang dan melihat kondisi sang ibu. ”Kemarin juga gitu, padahal jenazah ibu disemayamkan di sebelahnya sebelum dimakamkan tadi pagi,” ungkap Muhammad Dawam, 41, anak bungsu Ali, kemarin (2/1).

Dawam adalah orang pertama yang menemukan kedua orang tuanya. Dia menjebol tembok dengan martil untuk menyelamatkan mereka. Pemandangan yang dilihat sungguh mengiris hatinya. Dia melihat sang ibu mengapung di air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.