Melabuhkan Harapan ke Shin Tae-Yong, Pelatih Baru Timnas

Pelatih asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, saat diperkenalkan secara resmi kepada awak media sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia di Stadion Pakansari Bogor, Sabtu 28/12/19. Shin mendapat kontrak 4 tahun menangani timnas. Foto: Chandra Satwika/Jawa Pos.

Saya pernah ke sini dua kali, sebagai pemain di tahun 1994 dan sebagai pelatih bersama timnas Korea Selatan (Korsel) U-22 pada 2015. Saya masih ingat, terutama 2015 bagaimana timnas Indonesia bermain. Kami (Korsel) memang menang saat itu, tapi kualitas pertandingan sangat luar biasa. Ketika kemudian saya dihubungi oleh Sekjen PSSI Ratu Tisha beberapa bulan lalu mengenai tawaran untuk melatih timnas Indonesia, saya ingat lagi pertandingan itu. Saya juga langsung nonton video pertandingan timnas U-22 di SEA Games 2019 dan uji coba. Juga timnas senior di kualifikasi Piala Dunia. Saya lihat walau gagal dan kalah, ada satu harapan yang bisa dikembangkan. Pemain-pemain Indonesia punya bakat luar biasa. Saya melihat harapan itu dan berjanji akan berusaha maksimal di sini.

Dari yang Anda ketahui sejauh ini, apa problem terbesar yang mesti segera dibenahi di sepak bola Indonesia?

Begini, kemampuan setiap pemain berbeda-beda. Ada yang kurang satu, yang lainnya punya. Tapi, yang saya lihat masalah terbesarnya adalah soal fisik. Beberapa video yang saya tonton, pemain Indonesia selalu kehabisan tenaga di babak kedua. Tepatnya setelah 20 menit pertandingan berjalan. Saya akan segera cari tahu solusinya, saya akan diskusikan dengan (pelatih timnas U-22) Indra Sjafri masalah itu. Kenapa fisik yang harus dibenahi? Fisik harus kuat, maka mental akan kuat. Fisik kuat artinya bisa fokus  sepanjang pertandingan. Dan, yang paling penting, kalau fisik kuat, ada semangat untuk menang. Jika itu semua dikombinasikan, timnas akan kuat.

Dari beberapa video Timnas yang sudah anda tonton, bagaimana Anda menilai kontribusi para pemain naturalisasi?

Skill dan kemampuan mereka sama dengan pemain (lokal) Indonesia. Apalagi jika tak ada hati bermain untuk Indonesia, saya tidak suka itu. Saya juga tidak akan membeda-bedakan pemain yang main di luar negeri atau di dalam negeri. Satu hal yang saya ingin saya tegaskan kepada pemain adalah, kalau kamu bermain untuk negaramu, bermainlah dengan hati, dengan semangat untuk menang di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *