Pengawasan Hog Cholera Diperketat

BIAK-Pengawasan terhadap masuknya babi, sapi dan produknya ke wilayah Kabupaten Biak Numfor menjadi perhatian serius sejumlah instansi terkait. Dinas Pertanian Kabupaten Biak Numfor melakukan pengawasan secara ketat di pintu masuk, baik di pelabuhan laut maupun pelabuhan udara.

  Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Biak Numfor I Made Suardana, S.Sos.,MAP mengatakan, bahwa hingga saat ini ternak babi dan sapi masih bebas dari penyakit yang disebabkan oleh virus hog cholera. Oleh karena itu, masyarakat minta ikut mendukung wilayah Kabupaten Biak Numfor tetap bebas dari virus yang cukup mematikan terhadap ternak itu.

  “Memang di sejumlah daerah di Indonesia ternak babi terserang virus hog cholera, khususnya lagi di beberapa daerah di wilayah Sumatera, tapi syukur di Biak Numfor masih tetap aman atau bebas penyakit yang mematikan bagi ternak itu,” ujarnya kepada Cenderawasih Pos, kemarin.

  Terkait dengan penyakit hog cholera itu, maka masyarakat khususnya peternak babi dan sapi di Kabupaten Biak Numfor diminta tidak panik karena hingga saat ini belum ditemukan kasus penyakit tersebut.

  Sekedar diketahui, hog cholera atau kolera babi yang juga dikenal dengan sebutan demam babi klasik, merupakan penyakit sangat fatal yang menyerang babi, karena bisa mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh falvivirus, yakni virus demam babi klasik dari genus Pestivirus.

  Penyakit babi kolera ditularkan dari babi yang terinfeksi ke babi lain, lewat agen pengangkut. Sebagai contoh, penularan dapat terjadi ketika ada proses pemindahan ternak babi dari satu peternakan ke peternakan lain atau sampah yang digunakan untuk pakan babi yang terkontaminasi.

  Selain itu, sepatu, pakaian, pisau, peralatan rumah tangga, maupun kendaraan yang digunakan dalam mengelola ternak babi juga bisa menjadi pengantar virus. “Dalam rentang waktu empat hari sampai tiga minggu setelah terpapar virus, babi akan mengalami demam tinggi,” kata Kadis Pertanian

  Sementara tanda-tanda lain, lanjutnya, agak bervariasi, mulai dari hilang nafsu makan, depresi, mata memerah dan kering, muntah, diare, batuk, hingga sulit bernapas. Pada babi yang memiliki warna terang, biasanya akan nampak ruam kulit.

  Selain itu, selaput lendir dan tengggorokan dapat meradang, hingga mengalami leukopenia (rendahnya jumlah sel darah putih) parah. Lama kelamaan babi lebih banyak berbaring dan enggan bergerak. Terkadang, babi akan berjalan dengan cara yang aneh, yakni punggung melengkung. Jika sudah parah, babi tak bisa bangkit, koma, dan akhirnya mati.(itb/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *