215 Warga Binaan Lapas Merauke Terima Remisi

Kasi Administrasi Keamanan dan Ketertiban Lapas Klas IIB Merauke  Bekti Utomo saat memberikan remisi bebas kepada 2 warga Lapas Merauke  di momen Hari  Natal. Kedua   warga Lapas ini bebas murni setelah mendapatkan  potongan masa pidana dari pemerintah  Republik Indonesia. (Sulo/Cepos)

MEREAUKE-Sebanyak 215 warga binaan  Lapas Merauke yang  merayakan  Natal menerima  remisi atau potongan pidana Natal dari Kementerian Hukum dan HAM Republik  Indonesia   pada hari Raya Natal, 25 Desember 2019.   Pembacaan   remisi  itu dirangkaikan   dengan perayaan Natal bersama Warga  Binaa Lapas  Merauke.

  Dari 215 warga binaan yang mendapat remisi  tersebut, untuk remisi 15 hari sebanyak  54 orang, remisi  1 bulan sebanyak  145 orang, 1 bulan 15 hari sebanyak 15 orang, dan 2 bulan  sebanyak 1 orang.

  Menteri  Hukum dan HAM RI Yazonna Laoly dalam sambutannya dibacakan Kasi Administrasi Keamanan dan Ketertiban Lapas Klas IIB Merauke  Bekti Utomo mengungkapkan bahwa Natal mengingatkan kita akan Kasih Allah   yang sangat luas, menyeluruh serta tidak membeda-bedakan  termasuk bagi mereka  yang saat  ini sedang menjalani pidana di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan negara.

   Menkum  HAM juga meminta seluruh warga binaan  tersebut untuk terus menyebar cinta kasih  sebagai sahabat  bagi semua orang agar tetap teguh  kepada prinsip baik tersebut. Pemberian   remisi  lanjut dia  juga dimaksudkan  untuk memberikan harapan  bagi warga binaan pemasyarakatan agar terus menerus berupaya memperbaiki diri.

  “Karena semakin  cepat mereka berubah  perilakukan menjadi baik maka dapat lebih cepat  berintegrasi kembali dengan  masyarakat. Tentunya, hal ini diharapkan dapat memacu semangat warga  binaan Pemasyarakatan dalam mengikuti pembinaan di Lapas dan Rutan.”ujarnya.    

  Ditambahkan, pemberian remisi  ini sangat ketat dilakukan  untuk menepis kontroversi mengenai pemberian remisi adalah sebuah komoditi yang rawan terhadap praktik ‘jual beli’ jajaran pemasyarakatan telah melakukan reformasi  yang nyata  yaitu dengan cara berubah system kerja yang kontroversial menjadi system kerja yang berbasis tehnologi informasi. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *