Damai Tidak Hanya Slogan

JAYAPURA- Banyak orang bicara tentang kedamaian di Papua, tetapi hal ini seakan-akan menjadi slogan semata, karena realita yang terjadi justru berbanding terbalik. Oleh karena itu, Papua penuh damai yang diutarakan setiap saat tidak hanya menjadi slogan semata, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di Papua.

Pastor Paroki Gereja Katolik Gembala Baik Abepura, Jems Kosay, Pr, mengungkapkan bahwa kelahiran Yesus Kristus sendiri adalah Imanuel atau Allah beserta kita, tetapi Yesus Kristus sendiri adalah simbol damai yang menebus dan membebaskan manusia dari kungkungan keterikatan dosa.

“Dalam hubungan dengan situasi hidup dengan umat di Paroki Gembala Baik, tetapi secara umum di Papua, saya berharap agar damai tidak sekedar slogan dan suka cita tidak sekedar acara yang wauw. Orang makan-minum, buat acara dan pondok di mana-mana. Buat saya itu amat kecil,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos di Gereja Katolik Paroki Gembala Baik Abepura, Senin (23/12).

Menurut Pastor Jems, perayaan suka cita merupakan bagian dari akspresi dari setiap orang, tetapi dirinya menginginkan agar kedamaian harus dimaknai lebih dalam lagi, terkait menyikapi dan mengambil bagian dalam berbagai persoalan yang terjadi di Papua.

“Imanuel artinya Tuhan beserta kita. Artinya bagaimana betul Tuhan itu menyertai kita. Oleh karena itu, kita harus hidup sebagaimana yang diinginkan atau dimaukan oleh Tuhan, karena Dia (Tuhan) sudah membaharui kita dan membebaskan kita dari ikatan dosa,” ucapnya.

Pastor Jems, menyatakan dalam konteks Papua saat ini banyak hal yang perlu dibenahi. Oleh karena itu, Tuhan perlu dibawa dalam semua aspek kehidupan, seperti misalnya aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.

Pastor Jems, berharap masa advent yang telah dilalui ini membawa setiap orang untuk membuka pintu hati terhadap semua pembaharuan. Untuk diperbaharui memang tidak gampang, sebab orang harus rendah hati, jujur, dan lain sebagainya.

“Banyak persoalan kita tahu di Papua ini. Saya berharap Tuhan bisa kita bawa ke sana dan orang musti bahwa itu betul salah dan perlu untuk disikapi, tanpa harus memakai topeng dengan slogan seolah-olah damai, seolah-olah suka cita,” ujarnya. (bet/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *