Ritual Dilakukan dengan Menyebut Nama-nama Tempat

Para petugas adat melakukan proses ritual adat di Jembatan Yotefa disaksikan Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM, Rabu (18/12). Proses ini sebagai tanda dilepaskannya tanah adat

JAYAPURA – Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM menepati janjinya untuk mengadakan acara ritual adat di dua lokasi yakni Jembatan Yotefa dan Ring Road guna menghormati para leluhur sebagai pemilik negeri yang telah diwariskan kepada generasi saat ini. Bercermin dari beberapa kali insiden kecelakaan di dua lokasi ini, Tomi Mano menganggap ada hal yang harus dituntaskan yakni duduk dan berbicara dengan masyarakat adat sebagai pemilik kawasan.

Proses ritual  diawali dengan tari-tarian  dimana masyarakat adat kampung Enggros Tobati dari beberapa suku ikut terlibat dan rombongan pemerintah dan tokoh adat mengikuti hingga ke tengah jembatan. Nah disitulah petugas yang telah ditunjuk langsung menjalankan tugasnya. Yang dilakukan adalah menyebut nama-nama kawasan yang dilintasi  ring road dan Jembatan Yotefa. “Ritual telah dilakukan oleh petugas adat.

Mengapa ritual harus dilaksanakan, itu karena ada bidang-bidang nama tanah adat telah diberikan oleh leluhur untuk masyarakat adat kelola dan gunakan. Hingga saat 31 Maret 2014 kepala suku Njraw Hassor melepas tanah adat seluas 400 x 32 meter tersebut kepada pemerintah,” kata Johanis Ireeuw dari Dewan Adat Tobati-Engros, Rabu (18/12) di lokasi ritual.

Hanya saja nama dari tanah adat ini belum dilepas sehingga perlu dilakukan ritual. Begitupula yang terjadi di jalan ring road. Jalan di atas laut ini melewati bidang tanah adat yang masing-masing memiliki nama dan petugas Haay didampingi Hababuk sudah menjalankan tugasnya dengan mengucapkan nama-nama lokasi yang dilewati pembangunan. Ucapan nama-nama tanah adat ini  secara tidak langsung menyatakan bahwa lokasi tersebut telah dilepas secara sah sehingga bidang tanah yang tadinya milik leluhur kini jadi milik negara untuk digunakan.

“Petugas adat sudah menyebut nama-nama itu dan secara sah dalam buku adat tanah adat ini sudah dilepas menjadi tanah negara. Tinggalkan segala  kepentingan dan harus saling mengasihi,” bebernya. Johanis mengingatkan kembali soal tiga tungku, pertama agama yang menjadi milik Tuhan yang menjadikan alam semesta, kedua tungku adat milik manusia dan ketiga adalah pemerintah yang kini memerintah. “Semua perlu membangun untuk kemuliaan nama Tuhan,” ucapnya.

Sementara Tomi Mano menambahkan bahwa doa syukur termasuk acara ritual adat sudah dilakukan dan ia berharap masyarakat bisa lebih menghargai hadirnya pembangunan untuk sama-sama dijaga.  “Kami catat ada enam kali kejadian, kami berharap tak ada lagi dan semua wajib menjaga dan bersikap yang baik di atas tanah adat ini. Pemerintah sudah menyiapkan dan silahkan digunakan namu tetap dijaga,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *