Jenazah Bom Tergeletak di Tumpukan Material

EVAKUASI - Kondisi para korban yang kemudian  dilarikan menggunakan mobil ambulance dalam simulasi yang dilakukan di Halaman Balatkes, Padang Bulan Waena, Rabu (18/12). Pelatihan bagi para sopir ambulance ini dianggap penting agar sopir paham apa yang harus dilakukan ketika sewaktu-waktu terjadi musibah saat  pagelaran PON. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Pengguna  jalan di Balatkes Padang Bulan Waena, Rabu (18/12) mendadak panik. Ini setelah sejumlah korban tiba-tiba terbaring di tiga tempat. Pertama korban kecelakaan yang persis di depan kampus, lalu terjadi ledakan di bagian belakang kampus hingga akibat hujan deras terjadi longsor dan menimpa sejumlah rumah penduduk. Tak sedikit korban yang jatuh kemarin dan mobil ambulance terlihat sibuk wira wiri memban korban  luka maupun jenasah. Ada juga korban yang terhempas karena bom dan tergeletak di tumpukan material.

Ini tersaji dalam simulasi yang dilakukan di halaman Balatkes yang dikomandoi oleh IDI wilayah Papua. Agendanya adalah pelatihan bagi driver yang akan membawa mobil ambulance. Yang jelas untuk para sopir harus selalu ready baik dengan kendaraannya termasuk memahami apa yang harus dilakukan. “Jadi pekan sebelumnya sudah dilakukan pelatihan bagi relawan PON terkait Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan kali ini lebih fokus untuk melatih sopir ambulance,” kata Dr Raja MN Sitorus SpB  selaku ketua panitia pelatihan didampingi dr Rakhel D Sagrim selaku koordinator lapangan di halaman  Baletkes, Padang Bulan Rabu, kemarin.

Kata Raja, sopir ambulance bukanlah sopir sembarang. Ia memiliki peran penting ketika terjadi kecelakaan ataupun musibah. Kejadian dimana dan ia harus apa  yang harus dilakukan. “Jadi  cukup detail pemahaman yang harus dimiliki, mulai dari kecepatan mobil, bagaimana merespon kemacetan termasuk ketika mau parkir di garasi juga ia  diajarkan,”  beber Raja. Sebelumnya para sopir ini dilatih oleh Ditlantas Polda Papua dan dari 117 driver tercatat ada 69 driver yang mengikuti latihan.

Nantinya para sopir ambulance ini juga akan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat dan bila tidak lolos ujian maka tidak mendapatkan sertifikat. Terkait yang  harus dilakukan Raja menjelaskan semisal di ada kejadian bom meledak. Mobil ambulance tak boleh masuk ke zona merah. Ia harus menunggu di zona lokasi kuning dan mana yang lebih dulu ditolong ini juga telah diajarkan. Setelah pelatihan dua hari ini pihak IDI masih akan menunggu petunjuk dari Dinkes Provinsi untuk kembali menggelar pelatihan di bulan Januari. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *