Pengawasan Kantor Polisi dan Rumah-rumah Ibadah Diperketat

kapolda

TANDATANGAN: Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw dengan ramah melayani permintaan tandatangan sejumlah murid SD di Kota Jayapura, beberapa waktu yang lalu. (Elfira/Cepos)

JAYAPURA-Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw  menyebutkan, kantor Polisi dan rumah-rumah ibadah, menjelang perayaan Natal pengawasannya diperketat.

Selain itu, pihaknya juga tetap waspada terhadap orang-orang yang berbeda pemahaman. “Anggota selalu kami ingatkan untuk waspada dan menggunakan SOP. Jika ke mana-mana menggunakan body sistem  dan lain sebagainya,” ucap Kapolda Paulus Waterpauw usai memimpin apel gelar pasukan Kontijensi Aman Nusa II 2019 menghadapi bencana tahun 2020 di Lapangan Mako Satuan  Brimob Polda Papua, Selasa (17/12).

Untuk mengantisipasi agar kejadian di Surabaya tidak terjadi di wilayah hukum Polda Papua, Paulus Waterpauw mengatakan butuh kerja sama serta sinergi semua pihak.

Sementara itu, terkait dengan 7 orang terduga teroris yang diamankan Tim Densus 88 Mabes Polri dibackup Tim Gegana Brimob Polda Papua di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura pada awal Desember lalu, menurutnya  telah berada di Mabes Polri untuk proses lebih lanjut.

Kapolda menerangkan, setelah melalui penyelidikan yang intens Densus membuktikan itu semua sehingga hasilnya diamankan beberapa orang tersebut dan sudah dikirim ke Jakarta.

“Prinsipnya dalam penegakan hukum  oleh Densus maupun kita semua, harus ada bukti yang konkrit tidak sembarang dalam menangkap orang,” ucap Paulus Waterpauw.

Disinggung apakah di Tempat Kejadian Perkara (TKP)  ditemukan rakitan bom, Kapolda mengaku laporan yang didapat dari komandan satuan tugasnya, kelompok terduga teroris tersebut baru berlatih di Jayapura.

“Mereka ini kelompok yang lari dari wilayahnya masing-masing yakni lampung dan Medan. Mereka termonitor melakukan aksi kegiatannya di sini,” jelasnya.

Bahkan menurutnya ada juga yang merunut dengan Kelompok Umar Thalib dan itu perlu diwaspadai semua. Artinya ada moment untuk nilai agama tetapi  jangan sampai ada kelompok yang membuat cover  sedemikian rupa.

“Siapapun yang masuk dan darimana dia memang sudah diketahui. Namun prinsipnya tidak semua orang ditangkap  kalau tidak ada bukti. Jadi diikuti dulu, ditunggui, dilidik serta diawasi hingga mereka menunjukan ada reaksi yang  betul-betul memiliki bukti baru mereka bisa ditangkap,” ungkapnya.

Dirinya mengimbau masyarakat untuk bisa bekerja sama. Jika ada orang baru yang datang dan terus tinggal di tempat kos, rumah sewa dan lain sebagainya. Apalagi jika warga tersebut jarang berkomunikasi   dengan masyarakt sekitar atau keluar subuh dan pulang tengah malam.

“Juga tidak pernah interaksi dengan masyarakat sekitaranya. Menutup diri dan keluar menggunaan helm begitu juga saat kembali. Itu ciri-ciri yang selama ini  teman-teman Densus temukan,” pungkasnya.(fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *