Kebijakan Mendikbud Bisa Jadi Memajukan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menerima bunga dari siswa siswi SD berjoget saat upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 di halaman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta.

JAYAPURA-Sejumlah pandangan dan kebijakan baru yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim direspon pro kontra oleh berbagai kalangan. Mulai dari  penghapusan ujian sekolah berstandar nasional (USBN), mengganti sistem ujian nasional, perampingan rencana pelaksanaan pembelajaran dan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB). Namun ada juga yang menganggap ini sebuah terobosan dari kekakuan pola pendidikan yang sudah usang selama ini dan inilah waktunya dilakukan perubahan.

“Sebagaimana diketahui bahwa saat ini arus dan pengaruh globalisas sudah sangat sulit dibendung. Yang bisa dilakukan adalah ikut dalam arus perubahan dan berusaha mengarahkan arah  perubahan ke arah lebih baik sebagaimana yang diinginkan,” kata Rektor Universitas Cenderawasih, DR. Ir. Apolo Safanpo, ST., MT., menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos saat ditemui di Kotaraja, Senin (16/12) kemarin.

Ia menyatakan bahwa lembaga pendidikan juga harus mampu memprediksi ke mana arah pendidikan, sekaligus menginventarisasi kompetensi apa saja yang dibutuhkan pada masa akan datang terutama era globalisasi.

Anak-anak ke depan menurutnya harus memiliki kompetensi seperti apa untuk bersaing dengan generasi muda negara lain. Jika menerapkan kurikulum konvensional dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi maka bisa jadi kompetensi kualitas dan kualifikasi  lulusan yang ada saat ini akan kalah bersaing.

“Sebab arah perubahannya bisa jadi yang diajarkan sekarang tidak lagi dibutuhkan dimasa akan datang. Ide pak menteri ada baiknya dicoba dulu. Saya melihat bisa jadi perubahan inilah yang sebenarnya dibutuhkan untuk masa depan nanti. Hanya belum kita lihat,” tambah Apolo.

Soal pro kontra menurutnya hal biasa. Namun berusaha melakukan satu perubahan itu yang patut diapresiasi. “Misalnya soal penghapusan ujian nasional. Menurut Pak Menteri kualitas murid itu yang paham guru-gurunya dan tidak mungkin belajar dari kelas 1 hingga kelas 6 kemudian hasil ujiannya ditentukan oleh kementerian dengan ujian nasional. Jadi ia telah memikirkan bahwa yang sifatnya ujian nasional itu dihapus,” pungkasnya. (ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.