Dosen Dan Mahasiswa Harus Mendorong Sagu Sebagai Pangan Nasional

Pengiat Sagu Papua, Marshall Suebu bersama salah satu dosen Prodi Kesos Fisip Uncen, Reni Shintasari, di sela-sela sosialisasi sagu masuk kampus di ruang Prodi Kesos Jurusan Sosiologi Fisip Uncen, Selasa (17/12).(Yewen/Cepos)

Ketika Program Sagu Masuk Kampus Disosialisasikan

Untuk tetap menjaga dan melestarikan sagu di Papua, maka salah satu langkah yang dilakukan oleh pengiat sagu, yaitu program sagu masuk sekolah dan sagu masuk kampus. Seperti apa saja program sagu masuk sekolah dan sagu masuk kampus?

Laporan: Roberth Yewen

Sagu tidak bisa diganti dengan kelapa sawit. Itulah sebuah ungkapan yang sering terdengar ketika kampanye sagu digelorakan dalam setiap kehidupan manusia. Bagi masyarakat Papua sagu adalah bagian dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, sagu tidak bisa digantikan oleh apapun, apalagi digantikan dengan sagu.

Hal inilah yang terus didorong oleh Pengiat Sagu Papua, untuk memperkenalkan sagu dalam program sagu masuk sekolah dan sagu masuk kampus yang telah dilaksanakan beberapa bulan terakhir ini. Para pengiat sagu sendiri sudah memulai dengan program sagu masuk sekolah yang dimulai dari tingkatan paling bawah, yaitu TK/PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK. Tidak hanya itu, hari ini (kemarin-red) sagu berhasil masuk kampus.

Program sagu masuk sekolah dan masuk kampus merupakan bagian terpenting yang harus terus digelorakan kepada setiap kalangan, terutama para pelajar dan mahasiswa, sehingga ikut berperan aktif dalam mengelorakan serta menubuhkembangkan sagu di daerahnya masing-masing. Selain itu, mewujudkan sagu sebagai pangan lokal dan nasional yang tetap dilestarikan.

Kesadaran menjaga dan melestarikan sagu harus dimulai dari setiap generasi, terutama generasi muda, sehingga setiap generasi, terutama para pelajar dan mahasiswa menjadikan sagu sebagai salah satu isu yang sangat penting, untuk tetap menjaga dan melestarikan sagu di Papua. Apalagi dengan kondisi hutan sagu yang memprihatinkan saat ini tentu menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat Papua, untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan hutan sagu di Papua.

Inilah yang menjadikan dorongan tersendiri bagi pengiat sagu di Papua, untuk tetap menjaga dan melestarikan sagu yang dimulai dari memberikan kesadaran tentang pentingnya sagu sebagai pangan lokal di Papua yang harus terus dijaga dan dilestrikan setiap saat. Apalagi sagu Papua merupakan yang terbanyak di Indonesia, selain di Meranti Kepulauan Riau.

Dengan adanya sagu masuk kampus yang dimulai dari Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Cenderawasih, maka para dosen dan mahasiswa akan ikut bersama-sama mendorong sagu sebagai pangan lokal dan nasional yang harus terus dijaga dan dilestarikan di Papua.

“Dengan program sagu masuk kampus ini, maka para dosen dan mahasiswa harus ikut berpartisipasi aktif dalam mendorong dan mendukung sagu sebagai pangan nasional kedepan di Indonesia,” ungkap Pengiat Sagu Papua, Marshall Suebu kepada cenderawasih pos, usai melakukan sosialisasi sagu masuk sekolah di Ruang Kelas Prodi Kesos Fisip Uncen, Selasa (17/12).

Marshall, melihat antusias para dosen dan mahasiswa sangat luar biasa. Oleh karena itu, hal ini menjadi kekuatan untuk ikut mendorong para mahasiswa dan dosen dalam melakukan penelitian-penelitian dan pengembangan, untuk bersama-sama mendukung sagu Papua sebagai lumbung pangan dunia yang harus terus digelorakan setiap hari.

Kehadiran sagu masuk kampus sendiri disambut baik oleh para akademisi dan mahasiswa, karena mengingat sagu merupakan potensi yang saat ini dimiliki oleh masyarakat Papua, sehingga harus dijaga dan dilestarikan serta disosialisasikan ke lingkungan yang paling terkecil, yaitu di keluarga, lingkungan, dan di lingkup yang paling luas, yaitu di masyarakat.

Para akademisi menilai bahwa sagu sendiri menjadi alternatif untuk menjadi salah satu bahan pangan ketahanan nasional di Indonesia. Oleh karena itu, sagu harus terus dilestarikan dan digelorakan serta dilindungi. Selain itu, terus dikampanyekan di kalangan kampus, sehingga bisa menjadi isu yang penting di kalangan mahasiswa dan dosen.

“Kita yang hadir ini mempunyai tanggung jawab bersama, untuk terus mekampanyekan sagu sebagai pangan lokal dan nasional yang harus terus dijaga dan dilestarikan serta digelorakan dalam kampus dan sekolah-sekolah,” ujar salah satu Dosen Prodi Kesos Jurusan Sosiologi Fisip Uncen, Reni Shintasari. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *