Kekerasan Tak Menyelesaikan Masalah

Pengunjung menyaksikan diskusi dan kegiatan lainnya yang diselenggarakan koalisi masyarakat sipil dalam rangka kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, di depan Gedung Kesenian, Selasa (10/12) malam. (Elfira/Cepos)

Puncak Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

JAYAPURA- Puncak kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diselenggarakan koalisi masyarakat sipil sejak 25 November hingga 10 Desember  yang bertepatan dengan peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia, ditutup dengan dialog bertemakan perempuan, live music dan tampilan komedi dari  Yewen di Gedung Kesenian, Selasa (10/12).

Pantauan Cenderawasih Pos di lapangan, kendati guyuran hujan namun semangat penyelenggara dan pengunjung terus ada. Depan gedung kesenianpun dipadati orang untuk menyaksikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Sejak kampanye hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dimulai  di Papua, berbagai kegiatan telah dilakukan Koalisi Masyarakat Sipil diantaranya diskusi flim, nonton bareng, pelatihan menulis dan membuat vidio pendek, pemutaran flim, peringatan 1 tahuan tragedi kemanusiaan Nduga, Workshop kesehatan seksual dan reproduksi, perayaan disabilitas, kampanye noken,  workshop rasisme dan prakteknya dalam konteks papua, peringatan 5 tahun paniai berdarah dan peringatan HAM sedunia ke 71 yang jatuh pada Selasa (10/12).

Direktur Elsam Pdt Matius Adadikam mengatakan, dengan kampanye yang dilakukan secara perlahan membuka pikiran masyarakat untuk melihat kenyataan bahwa ada kekerasan-kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat itu sendiri.

“Kekerasan itu tidak hanya terjadi dalam keluarga melainkan ada kekerasan secara  struktural yang terjadi, dalam kampanye 16 hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Siapa saja yang terlibat akan memaknai bahwa kita harus meminimalisir dan berusaha untuk  tidak lagi melakukan kekerasan kemanusiaan tapi juga kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dihentikan,” ucap Pdt Adadikam kepada Cenderawasih Pos.

Terkait dengan Hari HAM sedunia, Koalisi Masyarakat Sipil Papua meminta agar dalam lingkup  yang paling kecil dimana kita berada tetapi juga secara menyeluruh  dalam lingkup yang paling besar setiap orang harus berusaha menghormati hak-hak  yang melekat pada manusia itu sendiri.

“Yang terpenting, saling mencintai, membangun perdamaian diantara sesama manusia untuk hidup bersama,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Kegiatan Ester Haluk  mengatakan kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua banyak yang belum terselesaikan. Sementara berbicara dalam konteks perempuan, kebijakan secara structural akan mempengaruhi perempuan secara umum.

“Perempuan paling  terkena dampak ketika pemberlakuan kebijakan, kita lihat bahwa hingga saat ini perempuan yang ada di Nduga masih mengalami kekerasan,” ungkapnya.

Di momen peringatan hari HAM ke 71 tahun, ia berharap masalah kemanusiaan dikedepankan.  Sebab pendekatan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.

“Kita bicara kemanusiaan kita tangani dulu manusianya, papua ini sudah menjadi situs kekerasan. Itu sebabnya, kami berharap masalah kemanusiaan dikedepankan itu yang paling penting, kami perempuan biasa berbicara kehidupan,” tegasnya.

Dirinya juga mengajak semua kaum perempuan bersatu melihat masalah kekerasan secara bersama-sama, sebab semua masalah  yang terjadi di papua yang menyangkut kehidupan  menjadi urusan perempuan. Sehingga itu mari bersatu tanpa ada perbedaan. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *