90 Persen Penyalahgunaan Narkotika Anak Asli Papua

Kepala BNN Provinsi Papua didampingi anggotanya saat memberikan keteragan pers dalam Press Release capaian kinerja BNNP Papua 2019 di Kantor BNN Papua, Selasa (10/12). (Elfira/Cepos)

BNN Kantongi Dua Nama Jaringan Sabu di Papua

JAYAPURA- Sebanyak dua persen dari total penduduk Provinsi Papua terpapar narkoba dan mayoritas dari kalangan pelajar atau usia produktif. Hal ini disebabkan mudanya mendapatkan ganja serta mudanya penggunaan ganja itu sendiri.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua Brigjen Pol Jackson Lapalonga menyebutkan, mayoritas usia produktif penyalahgunaan Narkotika 90 persen diantaranya adalah anak asli papua.

“Kalangan remaja rentang dengan penyalahgunaan narkotika akibat pengawasan orang tua  yang kurang terhadap anaknya, ini harus menjadi perhatian kita semua,” ungkap Kepala BNN Provinsi Papua Jackson Lapalonga dalam Press Release capaian kinerja BNNP Papua 2019 di Kantor BNN Papua, Selasa (10/12).

Selain itu lanjut dia, harus ada peraturan yang lebih baku di sekolah menyangkut warning  terhadap penyalahgunaan narkotika. Sehingga murid punya pengetahuan  bahwa sekolahnya punya peraturan yang ketat  terhadap masalah penyalahgunaan narkotika.

“Wilayah yang banyak terjadi penyalahgunaan ganja yakni Kota Jayapura, Kabupate Jayapura lalu menyusul Kabupaten Keerom,” katanya.

BNN Papua akan ada program khusus untuk mengatasi permasalahan penyalahgunaan Narkotika, pihaknya meminta pihak Sekolah rutin ikut memberantas narkoba di lingkungan sekolah baik dengan tes urin maupun berbagai kegiatan penyuluhan yang berkala.

“Pemeriksaan urine harus dilakukan sehingga pelajar punya  kewaspadaan, secara keinginannya sendiri dia menghindari  penyalahgunaan narkotika,” ungkapnya.

Menurut dia, masuknya ganja ke wilayah Papua melalui perairan laut dan jalur darat Papua New Guinea (PNG), negara yang berdekatan langsung dengan Kota Jayapura. Selebihnya, tiga kabupaten yakni Keerom, Pegunungan Bintang dan Boven Digoel menjadi pemasok ganja di Papua. BNN menemukan lahan ganja di tiga daerah tersebut.

Menurutnya, menjamurnya ganja di kalangan pelajar dan usia produktif lainnya lantaran mudah didapat. Pengedar menyediakan ganja dengan paket kecil serta harga relatif murah. Begitu juga dengan penguna lem Aibon. Sementara, BNN Papua selama ini telah gencar memberikan sosialisasi ke berbagai sekolah dan instansi di wilayah hukumnya, terkait bahaya laten Narkoba.

“BNN Papua tidak mungkin bisa mengatasi ini sendiri tanpa adanya kerjasama dari seluruh pihak. Tanggung jawab dari sekolah, guru dan orangtua serta yang bersangkutan (pengguna-red) sangat kami harapkan,” ujarnya.

BNN Papua juga meminta komitmen semua institusi serta instansi agar sama-sama memberantas Narkoba di Bumi Cenderawasih. Misalnya, melakukan kegiatan pencegahan dengan cara test urine secara berkala, atau dengan cara menyelipkan kampanye menolak Narkoba di tiap-tiap sekolah maupun giat apel di perkantoran.

BNN juga telah mengantongi dua nama jaringan Sabu di Papua. Pelakunya hidup secara berpindah pindah. Adapun jaringannya yakni Kalimantan, Makassar dan Jayapura. Bahkan, ada juga dikendalikan dari Lapas Narkotika Doyo, di Sentani. “Kedua, jaringan antara Biak dan Nabire. Pemasoknya ada di Makassar. Ini hasil pengamatan kami,” kata Jackson. (fia/wen)

Data penanganan kasus Narkotika

Jumlah Tersangka : 18 orang (17 laki-laki dan 1 Perempuan)

Shabu : 738.831 gram

Ganja : 15.189.590 gram

Warga PNG : 2 orang

Jumlah kasus : 18 kasus

Perkara selesai : 15 kasus

Menunggu Tahap 2 : 3 perkara

Menjalani Rehab : 21 orang tersangka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *