Regulasi FIFA dan AFC, Persipura Tolikara Harusnya ke Final

KETERANGAN PERS: Sekretaris Umum Persipura, Rocky Bebena (tengah) didampingi Manajer Persipura Tolikara, Usman G Wanimbo (paling kanan) dan Asisten Manajer Persipura Tolikara, Mathius Wally (paling kiri) saat memberikan keterangan pers di RM B-One Jayapura, Senin (9/12) malam. (ERIK/CEPOS)

JAYAPURA-Tim Persipura Jayapura Tolikara Putri kini telah secara resmi melakukan protes ke PSSI mengenai polemik yang terjadi di leg kedua babak semifinal Liga 1 putri 2019 yang mempertemukan Persipura Tolikara dengan PS TIRA Persikabo yang digelar di Stadion Cenderawasih Biak, Sabtu (7/12) lalu.

Dalam laga leg kedua Persipura Tolikara kontra PS TIRA Persikabo berakhir dengan kemenangan PS TIRA dengan skor 2-1. Sehingga agregat menjadi sama kuat menjadi 6-6. Sebab di leg pertama, Persipura Tolikara berhasil menang 5-4 di markas PS TIRA.

Mengacu pada regulasi atau aturan FIFA dan AFC, Persipura harusnya dipastikan lolos ke babak final. Namun dalam pertandingan tersebut Persipura Tolikara diminta melanjutkan pertandingan yang harus diselesaikan dengan adu penalti. Tapi manajemen Persipura Tolikara menolak hal tersebut, dengan mengacu pada regulasi FIFA. Sebab Persipura unggul secara gol tandang dan tidak seharusya dilanjutkan pada adu penalti. Hingga saat ini PSSI belum memberikan status kemenangan bagi Persipura Tolikara untuk melaju ke babak final bersua Persib Bandung.

Manajemen Persipura Tolikara telah melayangkan surat protes kepada PSSI terkait regulasi semifinal leg kedua tersebut. Pasalnya, mereka menilai jika regulasi yang dibuat PSSI sebelum leg kedua itu bertentangan dengan regulasi sepak bola aliran FIFA dan AFC.

Diketahui, usai leg pertama digelar, dan tiga hari jelang kick off leg kedua, PSSI mengeluarkan surat yang menyebutkan jika tim yang kalah pada pertemuan pertama menang di leg kedua maka akan dilanjutkan dengan adu penalti tanpa adanya perpanjangan waktu dan tanpa menghitung selisih gol dengan mengacu pada regulasi Liga 1 Putri 2019 pasal 9 dan pasal 10.

Rocky Bebena, Sekretaris Umum Persipura, mengungkapkan perihal tersebut. Bahkan sudah diprotes oleh pihaknya sebelum laga dimulai. Namun match com tak bisa mengambil keputusan terkait hal tersebut. Apalagi surat yang berisi regulasi baru yang dikeluarkan oleh PSSI terbilang janggal ketika leg pertama telah usai digelar.

“Kami diminta untuk melakukan adu penalti namun kami menolak karena ini sebuah keputusan yang diluar statuta atau regulasi FIFA, AFC maupun PSSI. Jadi saya pun sepanjang mengurus sepak bola baru menemukan hal ini,” ujar mantan wartawan Cenderawasih Pos itu kepada awak media di Jayapura, Senin (9/12) malam kemarin.

“Kami sudah menyurati ke PSSI soal ini, dan kami pertanyakan keputusan dalam isi surat PSSI tersebut, karena menurut hemat kami pasal 9 itu hanya mengatur durasi pertandingan, sedangkan di pasal 10 itu tentang, jika dalam satu pertandingan ada dua tim yang memiliki nilai yang sama maka untuk menentukan peringkat disitu akan dilihat dari selisih gol,” sambungnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Jayapura melanjutkan, jika berkaca pada regulasi atau aturan FIFA dan AFC, harusnya Persipura Tolikara yang lolos ke final. Karena unggul dalam produktifitas gol tandang. Dimana Persipura unggul 5-4 di kandang PS TIRA dan kalah 1-2 di markasnya sendiri.

“Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa tidak mungkin lagi ada adu penalti. Untuk itu jika PSSI merasa bahwa ini adalah keputusan mereka yang harus diikuti, menurut kami ini adalah keliru. Dan ini tidak benar karena ada sesuatu yang merugikan tim lain terutama kami. Karena kami ikut kompetisi bukan langsung lolos ke semifinal tapi melewati empat seri,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Persipura Tolikara, Usman G Wanimbo mengatakan, isi surat regulasi semifinal leg kedua itu juga berbunyi jika lampu stadion juga menjadi salah satu faktor laga tersebut tidak mengenal perpanjangan waktu. Padahal, kata Usman jika laga tersebut berjalan justru masih dalam kondisi terang karena kick off digelar pukul 15.00 WIT.

“Itu sebenarnya masih ada waktu untuk melakukan perpanjangan waktu. Tapi itu tidak dilakukan dan langsung mau adu penalti. Jadi kita menolak keras itu dan para pemain kita pun keluar dari lapangan. Kalau memang alasannya lampu, kan semifinal itu jadwalnya bisa dimajukan lebih cepat,” keluhnya.

Usman juga melihat keanehan surat keputusan yang dikirim PSSI ke pihaknya. Dimana tertulis Persipura lawan Persib Bandung dan bukan PS Tira Persikabo. Ia pun menolak untuk menandatangani surat tersebut.

“Kami menolak tanda tangan surat itu karena mengacu kepada kesepakatan bahwa regulasi itu dari FIFA Dan AFC maupun PSSI. Kami merasa dirugikan dengan ini. Ini kan adalah liga perdana sepak bola putri. Jadi jangan ada oknum yang hendak mencederai kompetisi ini,” tegas Usman Wanimbo yang saat ini menjabat sebagai Bupati Tolikara.

Di tempat yang sama, Asisten Manajer Persipura Tolikara, Mathius Wally menambahkan, jika pihaknya enggan menandatangani surat tersebut bukan karena tak mau melanjutkan pertandingan. Tapi menilai regulasi tersebut bertentangan dengan statuta atau regulasi FIFA.

“Kami protes karena pertandingan lanjutan itu berdasarkan isi surat yang bertentangan dengan regulasi atau aturan. Karena kita tahu pasti PSSI mengadopsi peraturan FIFA. PSSI sebagai induk organisasi sepak bola Indonesia harus memandang semua tim sama dan tidak boleh ada diskriminasi juga terhadap Persipura. Dan saya kira dengan adanya surat ini lebih menekankan kepada diskriminasi terhadap Persipura. Jadi mohon ada keputusan yang lebih bijak dari PSSI untuk Persipura sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tandasnya. (eri/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *