Tiga Tank “Dikeroyok” Ribuan Botol Plastik, RT/RW Jangan Masa Bodoh

SAMPAH PLASTIK - Ribuan sampah botol plastik yang berserakan di Belakang Lantamal X Jayapura ketika dibersihkan oleh para komunitas lingkungan di Jayapura Sabtu (7/12) kemarin. Di lokasi ini ada tiga tank sejarah yang bisa jadi wisata namun tak terawat. (Gamel Cepos))

Mengunjungi Lokasi Wisata Sejarah yang Kini Penuh Sampah

Kota Jayapura memiliki bibir pantai yang sangat menjanjikan untuk dijadikan lokasi wisata. Sebagian besar sudah tergarap baik. Sayangnya hal klasik selalu menjadi satu paket dengan lokasi wisata. Sampah.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Terkadang ada yang mengatakan sekolah tinggi-tinggi tapi masih nyampah. Lulus SMA, lulus sarjana dengan waktu belasan tahun tapi masih membuang sampah sembarangan.  Lalu selama sekolah ngapain saja? Sebuah kalimat ringan namun cukup menghantam jika dikaitkan dengan perilaku. Hanya saja perilaku nyampah sejatinya tak ada kaitannya dengan gelar pendidikan yang dimiliki seseorang.

Pasalnya tak semua orang dengan pendidikan tinggi paham bagaimana menjaga kebersihan, Begitu pula tak semua pejabat paham bagaimana mengurangi sampah plastik. Akan tetapi bagaimanapun juga publik figur patut memberi contoh yang baik karena menjadi panutan dan kerap menjadi sorotan publik. Persoalan lingkungan di Kota Jayapura sendiri masih sebatas dua hal. Pertama soal sampah dan kedua banjir. Sampah kadang bermunculan setelah banjir yang artinya banyak sampah yang terjebak disaluran air atau drainase.

Sampah-sampah yang kebanyakan berbentuk botol air mineral ini juga kadang muncul didaerah  pesisir pantai. Cenderawasih Pos bersama beberapa komunitas lingkungan di Jayapura menyambangi satu lokasi wisata yang menempatkan benda bersejarah namun dihiasi ribuan sampah plastik. “Sangat disayangkan memang sebab kalau mau dilihat dilokasi ini ada benda peninggalan sejarah tapi tak terawat dan kini kotor,” kata Megi Nando dari Rumah Bakau Jayapura, Ahad (8/12).

Ada tiga tank peninggalan sejarah yang telah dipajang namun tidak didukung dengan kondisi lingkungan sekitar.  Dilokasi ini ribuan botol plastik berjejer disepanjang bibir pantai. “Kesannya ada tiga tank tangguh yang dikepung oleh ribuan botol plastik,” sindir Megi. Mirisnya pengunjung yang datang juga tak mau ikut menjaga sampahnya tetapi justru ikut menambah sampah. Padahal lokasi tiga tank ini jika digarap maksimal tentu menjadi satu daya tarik wisata yang sangat dekat dengan kota. Dari pengakuan warga, sampah – sampah ini bukan dari sampah warga perumahan sekitar melainkan terbawa arus dari arah Teluk Humbold, Kota Jayapura.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Jayapura, Ketty Kailola membenarkan hal tersebut. Ia menyampaikan bahwa sampah-sampah tersebut lebih banyak dari pinggiran kota. “Kebanyakan dari Argapura dan Hamadi Gunung, kami lihat warga disana masih membuang sampah yang akhirnya bermuara ke laut,” beber Ketty. Wali Kota Jayapura, DR Benhur Tomi Mano MM rupanya mengetahui hal ini. Ia meminta Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga bersih. Plastik es batu yang digunakan jangan dibuang ke laut tetapi dikumpulkan untuk selanjutnya diangkat.

“Plastik es batu jangan dibuang ke laut, masyarakat sepanjang pantai juga harus juga bisa menegur orang suka nyampah, tegur saja,” pintanya. Disini Tomi Mano mengakui jika kesadaran masyarakat  masih kurang, peran kepala distrik, lurah dan RT/RW harus tumbuh untuk menerjemahkan visi misi walikota. “Saya melihat RT/RW kurang aktif mendorong dan memperhatikan kebersihan lingkungan. Harusnya ada gerakan dan masyarakat juga harus mempunyai rasa memiliki dan ikut berpartisipasi terhadap kebersihkan,” tegas Tomi Mano.

Orang nomor satu di Jayapura ini bahkan sempat menyambangi lokasi berserakannya  sampah di bibir pantai tersebut dan langsung meminta ditangani. Ia memaparkan bahwa sesuai intruksi walikota  nomor 1 Februari bahwa pengawasan dan sangsi termasuk belanja yang tidak lagi menggunakan kantong plastik harus terus dikawal.

Ia mengaku prihatin setelah melihat banyak anak-anak mandi dan bermain di tengah sampah. “Kasihan  saya melihat anak anak tadi mandi bersama sampah, sudah pasti kesehatan terganggu,  kebersihan yang kita galakkan harusnya bukan hanya di kota tetapi juga di laut dan pantai. Saya berterimakasih kepada teman teman komunitas yang selalu peduli dengan sampah,” ucapnya. Dari pemandangan ini ia lantas berfikir bagaimana Pemkot menjadwalkan untuk bersih – bersih pantai bersama di hamadi sambil rekreasi bersama semua eleman.  “Apalagi menjelang PON, banyak lokasi yang perlu dipromosikan,” imbuhnya.

Terkait aksi bersih-bersih ini, Komunitas Jayapura Litter Pickers maupun Rumah Bakau Jayapura menaruh harap agar kegiatan bersih-bersih jangan hanya seremoni. Jangan hanya dilakukan ketika ada pimpinan, ada absen maupun ada baliho. “Itu bukan peduli namanya tetapi cari muka. Mau dibilang peduli hanya karena ada laporan, ada foto yang akan disampaikan ke pimpinan,” sindir Megi. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *