Jangan Pernah Takut Single Pikirkan Kebahagiaan Diri Sendiri

Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fisip Uncen, Rima Nusantriani Banurea, saat mempresentasikan hasil penelitian mengenai kekerasan dalam pacaran  disela-sela kegiatan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan yang berlangsung di Aula Fisip Uncen, Senin (2/11). (Yewen/Cepos)

Ketika Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Terus Digaungkan

Setiap tahunnya, yakni mulai 25 November-10 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Berkaitan dengan hal tersebut maka dilakukan presentasi terhadap kekerasan dalam pacaran, Seperti apa?

Laporan: Robert  Yewen

Ya, selama 16 hari telah ditetapkan menjadi hari anti kekerasan terhadap perempuan.

Momen ini tercetus oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Apalagi khusus di Papua kekerasan terhadap perempuan memang paling tinggi di Indonesia, tiap bulan ada laporan tentang kekerasan terhadap perempuan, baik dilakukan oleh suami, pacar, teman dan sebagainya.

Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fisip Uncen, Rima Nusantriani Banurea, saat memberikan materi dalam kegiatan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan.

Menurut Rima, kekerasan dalam pacaran kebanyakan telah terjadi bagi para mahasiswi, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan finansial, kekerasan digital, dan kekerasan seksual. Dari hasil penelitian memang kekerasan ini selalu dialami dalam pacaran.

“Kekerasan ini terjadi, karena cinta yang menjadi dasar hubungan pacaran  disalahartikan baik oleh pelaku maupun korban. Selain itu, kekerasan dalam pacaran  hadir dikarenakan adanya pembiaran serta dipelihara baik pihak korban dan pelaku,” tuturnya.

Senada dengan itu, Dosen Kesos Fisip Uncen, Fitrine Abidjulu, menjelaskan bahwa untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam pacaran, maka perlu ada komunikasi, cerita, pertolongan, jangan sendiri, dan jangan menyalahkan diri sendiri.

“Keluar dari hubungan pacaran, namun kabari teman, keluarga tentang rencana tersebut. Jangan pernah takut single dan pikirkan kebahagiaan sendiri. Menjadi perempuan harus kritis dan menjadi pria yang baru yang anti kekerasan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Puspa Anggrek Hitam Provinsi Papua, Eirene Waromi, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari bagaimana mengkampanyekan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh Puspa Angrek Hitam Provinsi Papua bekerjasama dengan Fisip Uncen, Alumni Fisip Uncen, dan Stand Up Indo Jayapura.

“Kita harapkan melalui kegiatan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan ini dapat memberikan gambaran terhadap para mahasiswa dan mahasiswi, sehingga ikut bersama-sama mendorong stop kekerasan terhadap perempuan di Papua,” harapnya.

Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan ini menghadiri beberapa perempuan hebat yang selama ini bicara mengenai hak-hak dan masa depan perempuan. Selain itu juga dimeriahkan oleh Komika nasional asal Papua, Yewen yang berbicara mengenai anti kekerasan terhadap perempuan di Papua. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *