Banyak Ruko Terbakar, Penerimaan PAD Tak Maksimal

Beberapa Bangunan Ruko dan Kios yang terbakar pada kerusuhan 23 September Lalu yang tak bisa ditarik pajaknya oleh pemerintah daerah sebagai PAD. (Denny/ Cepos)

WAMENA-Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua mengaku akibat banyaknya bangunan ruko dan kios yang terbakar pasca terjadinya kerusuhan di Wamena 23 September lalu, membuat  penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak maksimal. Pasalnya, tak bisa menarik retribusi/pajak dari bangunan  ruko dan kios yang terbakar kemarin.

  “Kalau bangunannya terbakar, bagaimana kita bisa menarik pajak dari mereka yang menjadi korban, akibatnya pendapatan asli daerah kita yang tak berjalan maksimal seperti tahun -tahun  sebelumnya,”ungkap Bupati Jhon, Jumat (29/11) kemarin.

   Begitu juga dengan Pajak  Bumi dan Bangunan juga belum bisa untuk dilakukan penarikan seutuhnya karena banyak bangunan yang terbakar pada saat kerusuhan kemarin, sehingga pemerintah juga tidak bisa menagih pajak.

  “Kita tidak bisa menuntut korban yang bangunannya terbakar untuk membayar pajak kepada pemerintah, ini juga  yang berdampak ke PAD kita yang menurun,”jelas Banua.

   Untuk pajak yang bersumber dari potensi daerah, kata Bupati, seperti Galian C yang ada di Kali Uwe dan di beberapa tempat lainnya tetap berjalan karena setiap pengambilan material dalam satu pekerjaan yang dilakukan selalu terinklud dalam kontrak pemerintah dengan pihak ketiga, sehingga setiap tagihan pajak itu langsung dipotong di pihak ke tiga.

  “Kalau untuk Galian C, setiap kontrak satu pekerjaan yang dilakukan biasanya sudah masuk, sehingga untuk pajak dari galian C ini  bisa dipastikan akan tetap berjalan dan tak ada masalah, yang menjadi permasalahan hanya pajak bumi dan bangunan,”katanya

   Ia mencontohkan untuk 101 ruko yang terbakar di Pasar Wouma kemarin, secara otomatis pemerintah tak bisa menarik retribusi pajak dari sana, dengan banyaknya ruko yang terbakar seperti itu pastinya sangat berpengaruh untuk realisasi PAD Jayawijaya.

  “Untuk wilayah Wouma saja ada 101, belum lagi di wilayah Hom -hom  daerah lain dalam Kota yang berjumlah 400 lebih, kalau dihitung jelas PAD Jayawijaya yang utama bersumber dari pajak Bumi dan Bangunan kalau banyak yang terbakar otomatis tidak bisa ditarik pajaknya,”bebernya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *