Perempuan Bergerak, Selamatkan Manusia Papua

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan 2019, dimulai 25 November – 10 Desember.

Jayapura – Koalisi Masyarakat Sipil menyelenggarakan rangkaian kegiatan dengan thema: “Perempuan Bergerak, Selamatkan Manusia Papua”.
Rangkaian kegiatan ini sebagai bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2019 yang dimulai pada 25 November dan akan berakhir pada 10 Desember 2019.

Tren peristiwa yang berdampak pada kekerasan yang dialami baik oleh masyarakat Papua secara umum, dan perempuan secara khusus sebagai dampak gelombang demonstrasi damai untuk menolak rasisme yang terjadi di Papua dalam rentang waktu 4 bulan terkahir yang terjadi di Kota dan Kabupaten Jayapura, Manokwari, Sorong, Nabire, Biak, Fak-Fak, Kepulauan Yapen, Merauke, Yahukimo, Bintuni, Timika, Deiyai, Paniai, Wamena, menjadi catatan bagi perempuan di Papua.

Koalisi mengamati terdapat sejumlah kasus yang terjadi baik itu kekerasan, pengrusakan dan pembakaran, pengungsian dan pembatasan akses internet di Papua sebagai dampak lanjutan dari aksi menolak rasisme yang terjadi diluar Papua, namun ikut mempengaruhi situasi didalam Papua.

Beberapa hal yang mencuat di media berkaitan dengan situasi Papua menjelang Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 2019 antara lain : Pertama, upaya pemerintah guna mengatasi konflik melalui upaya konsiliasi dibeberapa kabupaten/kota dan menghadirkan sejumlah aparat keamanan, belum mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat secara khusus perempuan di Papua, hal ini nampak pada tingginya angka pengungsian paska konflik di Kabupaten Nduga dan Jayawijaya. Kedua, belum tertanganinya pengungsi secara optimal, khususnya pengungsi dari Kabupaten Nduga oleh pemerintah, sehingga berdampak pada hilangnya akses perempuan terhadap lahan berkebun sebagai sumber kehidupan yang dikelola perempuan. Ketiga, pembatasan ruang kebebasan berekpresi semakin menguat dengan dilakukannya pemblokiran internet sebagai dampak dari penyebaran hoax atas situasi Papua, yang mengakibatkan terbatasnya komunikasi. Keempat, menguatnya isu pemekaran wilayah (Provinsi) Papua Selatan dan Papua Tabi, sementara persoalan utama terkait pemenuhan hak asasi manusia dikesampingkan.

Selain persoalan di atas, ada juga masalah pengabaian hak selama ini yang dialami masyarakat Papua termasuk perempuan. Ada masalah perampasan tanah adat akibat tingginya arus investasi, operasi militer, konflik sosial, masalah kekerasan dalam rumah tangga, marginalisasi ekonomi perempuan, situasi pelayanan kesehatan yang belum optimal, masalah kerusakan lingkungan.

Karena itu Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari berbagai lembaga, organisasi, komunitas dan individu di Jayapura melakukan kampanye bersama selama 16 hari mulai 25 November sampai 10 Desember 2019.
Kampanye ini bertujuan agar masyarakat secara khusus perempuan bicara dan bergerak guna mendorong terpenuhinya lingkungan yang bebas kekerasan baik di ruang public mauapun domestic dan menolak setiap bentuk penghilangan hak hidup dan hak dasar lainnya sebagaimana termaksud dalam konstitusi.

Sejumlah aktivitas sepanjang masa kampanye antara lain :
• Pembukaan posko pengaduan (menerima konsultasi dan aduan kasuskekerasan terhadap perempuan), mulai tanggal 25 November 2019;
• Liputan isu perempuan dan publikasi opini terkait isu perempuan pada 25 November – 10 Desember 2019;
• Diskusi dan pemutaran film, 26 – 30 November 2019;
• Sosialisasi dan pemeriksaan HIV, 30 November 2019;
• Memoria passionis dan kampanye melawan lupa (peristiwa Nduga, Abepura berdarah dan Paniai 
berdarah), 02, 07 dan 08 Desember 2019;
• Workshop tentang Dialog, 04 Desember 2019;
• Bedah buku, 04 Desember 2019;
• Kampanye noken, 04 Desember 2019;
• Pelatihan menulis dan membuat video pendek, 06 Desember 2019;
• Jejak petualang dan story telling, 07 Desember 2019;
• Diskusi perempuan lintas denominasi gereja, 09 Desember 2019;
• Talkshow tentang perempuan, lingkungan dan budaya, 10 Desember 2019;
• Puncak peringatan hari HAM dan penutupan kampanye 16 HAKTP 2019, oleh Kork dan 
stand up komedi Yewen di Pasar Mama Papua, 10 Desember 2019;

Tentang Kampanye 16 HAKtP

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) merupakan kampanye Internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. Penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM perempuan, Pemerintah, maupun masyarakat secara umum.(luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *