10 Tahun Gunakan Narkoba Hingga Positif HIV, Kini Jadi Penyemangat Bagi yang Lain

Baby Rivona ((Gamel Cepos))

Ngobrol Bareng Baby Rivona, Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Tentang Perjuangannya

Disaat manusia terjebak pada dampak negatif lingkungan, efeknya bermacam-macam. Ada yang terlibat kriminal, kekerasan, hingga penyakit. Lingkungan juga membentuk karakter seseorang, tinggal apakah ingin terus terjebak atau bangkit dan berdiri.

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Tak bisa dipungkiri jika era globalisasi berbagai informasi dan kemajuan teknologi hanya berurusan dengan jari. Dengan berbagai kemudahan harus diimbangi dengan pintar memfilter apa yang tersaji. Persoalan lingkungan juga  bisa memberi dampak pada pembentukan karakter seseorang. Bila tak pandai bergaul tak jarang orang akan terjebak. Ini seperti yang diceritakan oleh Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Baby Rivona Nasution.

Siapa sangka wanita berkulit terang ini adalah wanita yang hidup dengan HIV/AIDS. Sebuah penyakit yang membuat  pasien tersebut harus mengkonsumsi obat seumur hidup. Namun dengan kondisi ini Baby justru tak menunjukkan kelemahan dan kata menyerah pada penyakit tersebut. Beby nampak lebih enerjik dibanding mereka yang hidup ingin hidup tanpa HIV. Ia bahkan bisa beraktifitas dengan jam terbang tinggi dan melakukan apa yang diinginkan tanpa rasa khawatir. Iapun berbagi cerita dimana dari organisasi yang dipimpinnya kini sudah ada  di 26 provinsi termasuk Papua. Hanya yang membedakan adalah saat terbentuk Juni 2006 lalu  penderita HIV/AIDS di  daerah-daerah masih minim. Hanya 5-8 orang. Namun kini jumlahnya terus bertambah.

Ia juga menyebut dalam IPPI sendiri terdapat  700 perempuan ODHA yang kini sama-sama berjuang untuk membantu wanita lain untuk baik yang sudah positif maupun yang belum. Upaya yang dilakukan adalah dengan menjadi influencer dari daerah ke daerah dan menyadarkan kaum perempuan tentang pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi. Ia juga menceritakan kegelisahan para ODHA yang hidup di bawah tekanan sosial. Ini kata Baby tak lepas dari frame yang salah yang muncul ke publik.

Sama dengan orang yang sedang terkena penyakit semisal flu, diabetes atau liver yang sama-sama mengkonsumsi obat. Hanya yang membedakan ODHA harus minum obar seumur hidup sedangkan penyakit lain akan berhenti minum obat ketika sembuh. Namun Baby berbagi testimoni bahwa sekalipun ODHA sejatinya bisa hidup normal seperti biasa asal patuh dalam mengkonsumsi obat. Ia sendiri sudah membuktikan dimana selama 17 ia  rutin mengkonsumsi ARV yang membuat ia nampak lebih sehat dibanding yang lain. “Saya bisa berkarya, terbang dari Jakarta ke Papua, menikah lagi, punya anak yang negatif. Ini semua karena saya rutin mengkonsumsi ARV. Tak ada obat lain yang bisa menekan virus sebaik ARV. Saya mengalami masa yang suram, tapi saya belajar bangkit,” ucapnya memberi motivasi. Dari ceritanya ini ia mengingatkan kalangan remaja untuk peduli dan memahami bagaimana bersikap. “Saya bicara kesehatan seksual dan reproduksi karena banyak perilaku remaja yang tak tahu informasi akhirnya terpuruk ke dalam kehidupan yang berisiko,” jelasnya. Namun dikatakan bila sehari saja absen mengkonsumsi ARV maka peluang untuk drop sangat terbuka.

“Ini yang kadang masih ditemukan, karena merasa badan bugar akhirnya absen minum obat dan akhirnya kondisi ngedrop. Harusnya jika positif maka harus bisa menumbuhkan komitmen untuk meminum obat. Lindungi diri sendiri dulu agar pasangan  tidak tertular. Nah jika kita sehat maka anak tidak akan terinfeksi,” imbuhnya. Disini media juga harus membantu menghilangkan stigma, jangan justru orang tua yang positif namun  anaknya yang tak tahu apa-apa justru kena imbas.

Beby memaparkan bahwa dari datanya terjadi perubahan trend dalam kurun waktu 14 tahun terakhir dimana jika dulu banyak yang terinfeksi karena narkoba, dalam beberapa tahun terakhir justru ibu-ibu rumah tangga yang sudah menikah sah yang positif. Ini tak lepas dari sang suami yang beresiko. “Tapi saya salut mereka yang terinfeksi yang memilih dengan IPPI dan berani berbicara dan mengaku sebagai ODHA. Kami harus terus berbicara untuk menyelamatkan  generasi muda. Jangan ada yang terinveksi lagi, kalaupun positif harus tetap optimis,” pintanya.

Saat pertama dinyatakan positif, Baby mengaku sempat berfikir jika kematiannya sudah dekat. Sedikit lagi ia mati tapi ternyata kematian tak kunjung datang dan ia akhirnya lelah menunggu kematian. “Saya akhirnya mencari informasi dengan terus membaca, ke rumah sakit, diskusi dengan dokter termasuk ODHA lainnya dan saya menemukan kebahagiaan karena bisa membantu yang lain. Selama 17 tahun hidup dengan HIV dan 17 tahun saya hingga kini baik-baik saja. Tuhan berikan saya kesehatan yang tak bisa dibeli. Saya memiliki penyakit yang mematikan tapi saya justru tak pernah sakit,” ceritanya.

Dari kondisi ODHA yang ada saat ini wanita dengan dua anak ini melihat sikap pemerintah cukup baik karena sudah menyediakan obat secara gratis dimana 18 tahun lalu harus beli dengan harga Rp 3 juta untuk 1 bulan. Namun harapan lainnya adalah jangan sampai ada kebijakan yang justru mendiskriminasi.

“Kami berharap media bisa membantu para ODHA, dengan memberikan informasi yang menyejukkan dan tidak melahirkan diskriminasi karena siapapun yang terlahir tentu tak ingin menjadi ODHA tapi jika sudah terlanjur tentu ia harus tetap bertahan untuk hidup tanpa harus dihakimi,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *