OAP Harus Memimpin di 11 Kabupaten

BOY MARKUS DAWIR (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Pemilu Kepala Daerah (Pilkada)  di 11 kabupaten gaungnya mulai dibunyikan. Sejumlah kandidat pelan – pelan mulai meloby mencari dukungan dari partai-partai. Pesta demokrasi yang kadang dianggap menguras banyak anggaran namun menjadi proses pembelajaran politik kepada masyarakat sehingga mau tidak mau harus dilakukan. Rakyat harus memiliki pemimpin yang berasal dari pilihan mereka masing-masing. Nah, untuk Pilkada 11 kabupaten ini, salah satu anggota DPR Papua, Boy Markus Dawir berharap agar mereka yang maju nyalon dan terpilih nanti  semua adalah orang asli Papua.

Boy berpendapat bahwa saat ini adalah peluang agar pemimpin yang memimpin di daerah adalah anak-anak asli Papua. Karenanya ia berharap masyarakat nusantara yang non Asli Papua bisa menghargai semangat yang sedang dibangun ini. “ Dalam Pilkada tahun 2020 nanti saya  menghimbau kepada teman-teman nusantara untuk bisa menghargai hak kesulungan. Ini sebagai bentuk penghormatan anak-anak asli Papua di 11   kabupaten yang akan melakukan Pilkada. Ini peluang  untuk mereka memimpin negerinya sendiri,” kata Boy Dawir, Sabtu (16/11).

  Ini dikatakan sejalan dengan semangat yang dituangkan dalam revisi Otsus dimana gubernur dan wakil, bupati dan wakil serta pimpinan DPRP diminta harus anak asli Papua. Anak Papua perlu berdiri mengawal pelaksanaan pembangunan di tempatnya. Selain itu hal positif lainnya adalah persoalan sosial kultur budaya bisa lebih dipahami dan akan membantu  dalam proses penyelesaikan.

Boy menaruh harap masyarakat nusantara bisa memberi ruang seluas-luasnya kepada anak negeri untuk bertarung dengan masyarakatnya sendiri mengingat hingga kini masih sulit anak Papua bisa memimpin di daerah lain.

  “Soalnya anak-anak Papua tidak  mungkin bertarung dan maju dalam Pilkada dari daerah lain sehingga inilah ruangnya. Di Merauke kami lihat ada beberapa kandidat dari luar Papua yang akan maju dan kami pikir mari berikan peluang buat teman-teman disana dan menjunjung semboyan dimana bumi dipijak disitu langit harus dijunjung,” bebernya.

  Boy menyebut meski sedikit diskriminasi namun yang disampaikan adalah diskriminasi positif dimana memberi ruang kepada anak negeri untuk berbuat lebih. “Mari menerapkan ini. Beri kesempatan buat teman-teman asli Papua untuk memimpin negerinya sendiri. Mereka  lebih paham sosial kultur dan jika ada persoalan kami yakin mereka lebih memahami dan tahu cara menyelesaikannya. Ini juga yang sedang kami memperjuangkan hingga ke pusat,” pungkasnya. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *