Willem Wandik Mengutuk Penembakan di Tolikara

Sementara itu, anggota DPR RI Willem Wandik, mengutuk penembakan di Tolikara yang menewaskan seorang warga sipil bernama Lemitur Wandik, Sabtu (9/11) lalu. Lemitur Wandik diketahui sebagai Mahasiswa Tolikara yang kuliah di Jayapura.

Menurutnya, Lemitur diberondong peluru oleh sejumlah oknum anggota TNI yang mengejar seorang pemuda yang terlibat keributan dengan seorang oknum TNI tapi tidak ditemukan di TKP. Akibatnya, oknum aparat diduga membabi buta melepaskan tembakan yang mengenai Lemetur Wandik  yang bukan pelaku utama terlibat insiden dengan seorang oknum TNI.

“Sesunguhnya pada saat itu korban sudah lari karena ketakutan dikejar TNI dan berada di tempat yang sangat jauh dari tempat kejadian keributan. Bahkan terdapat sejumlah warga yang terkena luka tembak, dianiaya, dan salah seorang diantaranya meninggal dunia, yang kemudian dikenali sebagai Lemitur Wandik,” ucap Willem Wandik dalam rilis yang diterima Cenderawasih Pos, Senin (11/11).

Dikatakan, penembakan yang dilakukan oknum aparat keamanan menjadi perilaku yang terus berulang di tanah Papua. Peristiwa ini menurutnya tidak pernah dikoreksi oleh perwira militer. Entah dengan tujuan apa, para jenderal menurutnya justru membiarkan warga sipil tewas dalam masalah yang justru sepele.

“Nilai manusia sepertinya tidak berharga di tanah Papua. Terlebih lagi image yang dibangun selama ini oleh aparat militer bahwa Tanah Papua tempat kelompok kriminal bersenjata. Sehingga aparat boleh seenaknya mengeluarkan letusan senjata, dengan dalih melindungi kepentingan umum,” paparnya.

Bagaimana mungkin menurutnya, seorang Lemetur Wandik dapat mengancam nyawa aparat militer dalam jarak yang begitu jauh dari TKP atau lokasi keributan. Sementara oknum aparat militer berlari mengejar dengan melepaskan bedil peluru tajam ke arah warga yang lari berhamburan karena ketakutan.

“Ini secara jelas merupakan kejahatan kemanusiaan. Dengan secara sengaja menargetkan, mengejar warga sipil dengan tujuan menciptakan korban sebanyakbanyaknya. Bagi orang di luar tanah Papua, masalah ini tidak begitu mereka pahami bahwa perilaku oknum aparat keamanan  selalu menciptakan korban pada satu pihak saja yaitu warga sipil OAP,” tudingnya.

Sebagai anggota parlemen RI, dirinya mengutuk keras setiap perbuatan oknum aparat yang mengakibatkan tewasnya warga sipil di tanah Papua. Termasuk tewasnya Lemetur Wandik beserta korban penembakan lainnya yang masih kritis dirawat di Puskemas Karubaga.

“Seluruh aparat keamanan di tanah Papua harus belajar dari pengalaman masa lalu. Dimana setiap persoalan penembakan warga sipil OAP, akan berdampak pada stabilitas keamanan nasional di tanah Papua dan semakin mencoreng citra negara di tanah Papua dan dunia internasional,” tegasnya.

Secara regular lanjut Willem, selalu mengingatkan aparat dalam berbagai kesempatan di forum forum resmi DPR RI bahwa menghargai satu nyawa di tanah Papua sama pentingnya dengan mempertahankan eksistensi negara di tanah Papua.

Sebab, setiap nyawa yang melayang sia-sia karena ulah oknum aparat dan sikap defensif lembaga militer yang terus melindungi oknum aparat yang mengakibatkan tewasnya warga sipil OAP akan semakin menyuburkan perilaku sikap dan keyakinan generasi muda di Tanah Papua untuk melawan negara.

“Tanah Papua tidak membutuhkan janji pembangunan, yang merubah hutanhutan, gununggunung dan lembah-lembah menjadi kawat-kawat besi. Gedung-gedung pencakar langit, beton dan aspal, melainkan warga sipil OAP hanya membutuhkan perlindungan hak asasi untuk hidup dan tidak dibunuh dengan alasan apapun,” tegasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *