Belajar Rencanakan Masa Depan Dengan Mencintai Diri Sendiri

Suasana diskusi interaktif yang dilakukan para narasumber dengan para pelajar dalam Papuan Youth Festival 2019, Kamis (7/11) di Hotel Horison Kotaraja. (Foto: Gamel/Cenderawasih Pos)   ____________________

Mengikuti Acara Kreatif Papuan Youth Festival 2019 yang Inspiratif

Belajarlah untuk bermimpi dan berbimpilah setinggi langit. Namun pastikan jangan ada yang mengubur mimpi itu sebab masa depan tergantung dari niat dan tekad. Kalimat motivasi yang dirasa tepat untuk Papuan Youth Festival 2019

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Ruangan aula baru dengan balkon yang cukup luas di Hotel Horison Kotaraja ini mendadak dipenuhi komunitas muda dari berbagai sekolah. Design pintu masuk yang diberi pesan dedaunan dan rumput hijau mencerminkan semangat baru yang akan dibahas oleh sejumlah sosok inspiratif terkait kesehatan seksual dan reproduksi.
Atmosfir positif langsung terasa ketika mendengar sosok muda enerjik mulai mengumpulkan berbagai anak-anak sekolah untuk mendengarkan talkshow. Yang dibahas kali ini adalah tentang kesehatan seksual dan reproduksi dimana Papua maupun Kota Jayapura menjadi kota yang sedang tumbuh dan terus berkembang tanpa batas. Pemahaman untuk bijak terhadap lingkungan dan kondisi sosial dianggap penting agar tidak terjebak pada hal-hal yang tak diinginkan. Papuan Youth Festival 2019 sendiri secara gamblang mengajak komunitas muda untuk memahami pentingnya menjaga diri.
Ini menjadi titik awal untuk bisa mewujudkan mimpi tadi. Jika bisa memulai dengan mencintai diri sendiri maka paling tidak masa depan yang sudah direncanakan bisa diwujudkan. Kegiatan perdana ini dibuka oleh Koordinator Papua Inti Muda, Orlando Marani yang mengajak komunitas muda untuk cerdas memanfaatkan media sosial guna melakukan advokasi dan kampanye tentang pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi.
“Remaja atau kaum millenial bisa memulai dengan mencintai dirinya sebelum ia mencintai orag lain. Mudahnya adalah bagaimana menjaga diri sebelum ia memutuskan untuk memikirkan orang lain. Para pemuda harus memahami bagaimana bersikap dan mengembangkan diri serta memastikan bahwa ada mimpi yang harus diwujudkan,” beber Marani. Menariknya, beberapa nara sumber berkompeten juga dihadirkan untuk membahas soal kesehatan seksual dan reproduksi yang dibarengi dengan lomba debat, lomba rap dan dance sehingga benar-benar seiring dengan dunia remaja.
Asisten III Setda Kota Jayapura, Amos Solossa memberi apresiasi kegiatan ini. Dampak lingkungan sosial yang terus tumbuh di Jayapura dianggap perlu satu edukasi yang smart untuk mengingatkan kaum remaja agar mawas diri dan tidak terjebak. “Selain memberikan edukasi tentang seksual tetapi diisi dengan rangkaian yang positif untuk mengembangkan kreatifitas pemuda pemudi di Jayapura. Kita perlu menyepakati bahwa masa depan satu bangsa sangat ditentukan generasi muda sehingga untuk membentuk suatu negara yang besar dan berkarakter, maka perlu diisi dengan pengetahuan agar tidak terpengaruh pada doktrin yang salah,” kata Solossa membacakan arahan Wali Kota.
Ia memaparkan bahwa keunggulan satu bangsa saat ini bukan lagi soal banyaknya Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki tetapi tetapi mutu Sumber Daya Manusia (SDM) dan kegiatan dianggap ini sangat strategis karena menjadi wadah yang tepat untuk pembaharuan. Generasi muda harus kreatif dan inovatif mengingat Kota Jayapura, menjadi barometer disegala bidang. “Narkoba, seks dan HIV jika dibiarkan terus akan menjadi persoalan baru yang semakin sulit ditangani. Jika sudah terlanjur maka jangan menghakimi tetapi bagaimana dilakukan pendekatan dan memahami pentingnya komunikasi yang dimulai dari keluarga atau masyarakat,” imbuhnya.
Pemerintah kata dia berharap lahir pemuda pemudi tangguh yang berkompeten dan bisa membawa perubahan bagi daerah. Menariknya, dalam acara ini juga diisi dengan testimoni dari Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Baby Rivona Nasution. Baby secara terang-terangan menceritakan semua latar belakangnya yang berstatus sebagai ODHA (Orang Dengan HIV Aids). Tanpa sungkan iapun berbagi cerita tentang awal cerita ia terjebak dari lingkungan yang salah.

Baby Rivona Nasution

“Saya terjebak di dunia itu (narkoba) selama 10 tahun dan tak bisa keluar dari dunia tersebut. Saya pikir hanya untuk senang-senang tetapi ternyata justru menghancurkan seluruh kehidupan saya. Saya memastikan enaknya itu hanya diawal karenanya jangan sampai kalian (generasi muda) bertemu justru di rumah sakit karena Narkoba,” beber Baby dalam kesaksiannya. Dampak besar dari penggunaan narkoba adalah tak memiliki harapan hidup. Dan disaat narkoba mengancurkan hidupnya, wanita dua anak ini mencoba untuk berhenti dan ternyata kehidupan bisa menjadi lebih baik.
Namun Tuhan memiliki rencana lain, ia dinyatakan positif HIV. Ia tak menyangka dari pergaulannya akhirnya ia harus menanggung beban yang amat berat. Wanita berkulit terang ini lantas mulai dirundung putus asa. Ia mulai berfikir mengapa harus berhenti menggunakan narkoba jika akhirnya ia harus mati juga. Namun semangat hidupnya masih ada dan iapun mencoba untuk bangkit dengan memegang kalimat berani hidup dan bukan berani mati. Hingga di tahun ke 17 kini Baby mengaku masih hidup dengan HIV dan kondisinya tidak berubah. Tetap sehat dan mampu beraktifitas seperti biasa bahkan menjadi influencer membagikan cerita positif ke seluruh negeri.
“Saya bisa berkarya, terbang dari Jakarta ke Papua, menikah lagi, punya anak yang negatif. Ini semua karena saya rutin mengkonsumsi ARV. Tak ada obat lain yang bisa menekan virus sebaik ARV. Saya mengalami masa yang suram, tapi saya belajar bangkit dan Tuhan memiliki rencana itu,” ucapnya memotivasi. Dari ceritanya ini ia mengingatkan kalangan remaja untuk peduli dan memahami bagaimana bersikap. “Saya bicara kesehatan seksual dan reproduksi karena banyak perilaku remaja yang tak tahu informasi akhirnya terpuruk ke dalam kehidupan yang berisiko,” jelasnya.
Disini Baby tidak terlihat seperti sedang sakit. Ia bahkan nampak lebih enerjik dibanding narasumber lainnya. Bahkan mau membagikan hadiah yang dibawa khusus dari Jakarta. Senada disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Betty A Puy SE, M.PA dimana menurutnya perkembangan Kota Jayapura sangat luar biasa dimana aspek baik dan buruk juga ada. Tinggal bagaimana menyaring semua untuk merencanankan masa depan seperti apa.
“Semangat hidup ini yang susah, karena pergaulan terlalu bebas dan tidak mau sekolah kemudian putus sekolah dan lainnya. Anak generasi sekarang harus belajar merencanakan masa depannya sebelum terlambat dan menyesal,” imbuhnya. Dari talk show ini komunikasi interaktif dilakukan Ns Nurhidayah Amir S.Kep M.Kes, Dosen Prodi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dimana ia memanggil berwakilan anak sekolah baik laki-laki maupun perempuan dan menanyakan soal pemahaman terkat kesehatan seksual dan reproduksi.
Jawaban yang diberikan juga mencengangkan dimana anak-anak saat ini ternyata memahami hal-hal yang berbau reproduksi dan kesehatan seksual. “Kalau sedang datang bulan sebisa mungkin lebih sering mengganti pembalut termasuk pakaian dalam. Ini agar terhindar dari virus atau bakteri,” jelas salah satu pelajar puteri. Sedangkan materi lainnya disampaikan Lenny Oktriana Hutauruk dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura dimana ia lebih menyinggung tentang penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang dikatakan untuk Papua angka IMS cukup tinggi. Ia memastikan jika tidak menjaga kesehatan seksual maka akan terkena penyakit, umumnya jamur pada perempuan.
Ia meminta anak-anak remaja yang merasa dirinya rentan untuk tidak takut memeriksakan diri. Jika malu bisa didampingi orang tua atau edukater. Jika remaja mengalami gangguan kesehatan reproduksi silahkan datang karena rahasia terjamin, semua penyakit dirahasiakan dan jangan segan-segan sebelum menjadi lebih berat. “Namun yang terpenting adalah jangan berani mencoba sesuatu yang berbahaya sebab usia memang remaja namun sistem reproduksi belum matang untuk melakukan hubungan seksual. Harus belajar mencintai diri sendiri sambil memahami mimpi hidup,” tegasnya. Talkshow ini ditutup dengan penyampaian dari Ketua Panitia, Marto Kopuow yang mengingatkan tentang persoalan kesehatan reproduksi harus dipahami betul.
Ia berulang kali mengingatkan jangan berhubungan dibawah umur sebab secara fisik kelamin belum bisa menerima. “Jangan hanya tahu HIV saja tetapi harus memahami soal kesehatan reproduksi. Informasi perlu dipahami agar bisa tahu mana yang baik dan yang harus dihindari. Kuncinya adalah bagaimana belajar mencintai diri sendiri lebih dulu dan merasa diri lebih berharga sehingga patut dijaga,” katanya. Sedikit mengambil kutipan ajaran agama dimana jangan merusak sesuatu dari tubuh sebab seluruh bagian tubuh menjadi berharga karena merupakan ciptaan Tuhan.
Acara ini menjadi hidup karena ada interaksi dengan para peserta, lomba pidato termasuk menyiapkan stand-stand pameran maupun jualan termasuk tempat untuk melakukan tes VCT. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *