Pendidikan di Yahukimo Lumpuh

Sekretaris Komisi C Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPRD Kabupaten Yahukimo, Esau Miram

Abock Busup: Ada Kelompok yang Mengancam

JAYAPURA-Aktivitas pendidikan di 51 distrik di Kabupaten Yahukimo lumpuh, pasca kerusuhan 23  September di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. Sekolah Dasar, SMP hingga SMA, hingga saat ini belum ada proses belajar mengajar.

Sekretaris Komisi C Bidang Pendidikan dan Kesehatan DPRD Kabupaten Yahukimo, Esau Miram mengaku, lumpuhnya pendidikan di Yahukimo lantaran pemerintah daerah belum memberikan jaminan keamanan kepada guru dan siswa.

“Ini tidak boleh dibiarkan, para guru harus diberikan jaminan keamanan agar mereka kembali mengajar dan mengabdi. Sehingga proses belajar mengajar bisa aktif seperti sebelumnya,” tegas Esau saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Kamis (7/11).

DPRD Yahukimo dalam hal ini Komisi C menurut Esau menghendaki agar pemerintah daerah dalam hal ini DPRD, bupati dan dinas terkait duduk sama-sama mencari solusi akan hal ini. Yang terpenting menurutnya, memberikan jaminan keamanan kepada para guru dan siswa.

“Ini masalah pendidikan. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan maka jaminan keamanan itu perlu,” tegasnya.

Para Guru lanjut Esau, sampai saat ini memilih mengungsi. Ada yang memilih keluar dari Yahukimo dan ada juga yang masih tetap di Yahukimo.

Alasan para guru ini mengungsi karena masih takut.“Situasi ini  semoga tidak berkepanjangan. Mengingat generasi Papua ke depan harus lebih baik. Pemerintah Provinsi harus ikut memberikan  perhatian serius, sehingga  pendidikan di Yahukimo bisa berjalan maksimal,” harapnya.

Menurut Esau, situasi di Kabupaten Yahukimo  saat ini mulai kondusif. Untuk itu para guru diminta kembali ke daerah untuk mengabdi seperti semula. Memberikan Pendidikan kepada anak-anak yang ada di Yahukimo.

Sementara itu, Bupati Yahukimo, Abock Busup tak menampik jika hingga kini persoalan pendidikan di Yahukimo masih menjadi sorotan. Namun ia melihat ini situasi ini tak lepas dari  aksi pasca demo Agustus lalu. Menurutnya ada pihak yang sengaja mengambil kesempatan dengan memanfaatkan situasi yang kemudian menjadikan sektor pendidikan sebagai sasaran. “Kami sudah tahu siapa-siapa saja orang yang mengacau ini dan memang ada kelompok yang sengaja melakukan ancaman,” kata Abock kepada wartawan di Kotaraja, Kamis (7/11).

Dikatakan, kelompok yang dipimpin seorang pria berinisial YS ini sengaja mengancam mengatasnamakan mahasiswa. Padahal dari statusnya ternyata bukan lagi sebagai mahasiswa. Bupati Abock Busup menjelaskan bahwa kelompok YS yang selama ini melakukan pengancaman baik kepada murid yang berpakaian sekolah maupun guru-guru.  Ada yang mengancam akan menikam, memukul dan lainnya sehingga baik murid maupun guru juga ketakutan. “Tapi kami sudah cek ternyata mereka ini bukan lagi mahasiswa. Kami sudah cek ke dinas  pendidikan ternyata mereka sudah tidak kuliah dan dua tahun di Yahukimo. Klaimnya mahasiswa exodus padahal sudah tidak kuliah,” jelas Abock.

Pemerintah sendiri tidak tinggal diam. Abock menyebut telah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Kepolisian termasuk menyampaikan ke gereja untuk tetap mengajak anak-anak dan guru melakukan proses belajar mengajar. Jika ada ancaman langsung lapor ke Polisi. “Masyarakat tidak mau bergabung sebab sudah tahu YS ini. Makanya dalam pertemuan saya juga sudah sampaikan untuk tidak lagi melakukan pengancaman. Sebab ia akan berurusan dengan Polisi dan saat ini pelan-pelan aktivitas pendidikan mulai berjalan,” imbuhnya. (fia/ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *