Masyarakat Papua Tak Inginkan Terganggunya Nilai Toleransi

KH Kahar Yelipele. (Elfira/Cepos)

JAYAPURA- Seruan menjaga kedamaian serta ajakan menangkal radikalisme di Bumi Cenderawasih kembali digemakan oleh Ketua Nahlatul Ulama(NU) Kota Jayapura, KH Kahar Yelipele.

Tokoh Muslim Papua ini menepis niat jahat kelompok tertentu yang ingin mengajak umat muslim dari berbagai provinsi di tanah air untuk berjihad ke Papua, pasca kerusuhan di Wamena 23 September tahun 2019 lalu.

Dirinya mengimbau kepada semua umat muslim di Papua dan luar Papua agar menahan diri. Sebab masyarakat papua tidak menginginkan terganggunya nilai-nilai toleransi yang terbangun selama ini. “Hentikan gerakan dan ideologi yang tidak kami inginkan, rangkaian kerusuhan yang terjadi di Wamena bukanlah konflik antar suku, agama, dan ras (SARA) seperti yang diisukan di media sosial. Namun itu adalah tindakan kriminal yang ditengarai kepentingan politik, tegas Yelipele dalam keterangan persnya kepada wartawan di Kota Jayapura, Senin (21/20).

Yelipele yang juga Ketua Umum Masjid Raya Provinsi Papua ini meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk menindak tegas para perusuh yang menciderai rasa persaudaraan sesame anak manusia di Papua.

Dengan dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden RI, ia berharap agar Papua mendapatkan afirmasi khusus lewat pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak akibat kerusuhan, ditambah lagi membangun infrastruktur lainnya yang menopang kesejahteraan masyarakat.

“Seluruh tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk bersama-sama memberikan himbauan sejuk kepada masyarakat Papua, agar tidak termakan informasi hoaks,” serunya.

Selain itu, dirinya juga meminta mahasiswa Papua di luar daerah yang eksodus ke Kota Jayapura dan beberapa kabupaten kota lainnya agar segera kembali ke kota studi masing-masing. Sebab, pemerintah dan aparat keamanantelah memberikan jaminan keamanan bagi mahasiswa Papua di mana pun. “Adik-adik mahasiswa, kalian adalah SDM yang kami harapkan untuk membangun Papua ke depan,” pesannya.

Sebelumnya, pihak Polda Papua menegaskan peristiwa kerusuhan Wamena dipicu informasi yang tidak benar atau hoaks. Dimana seorang guru SMA di Wamena diisukan memanggil siswanya dengan kata-kata tidak pantas.

Guru tersebut pun telah diperiksa penyidik, dan tidak terbukti mengatakan hal yang menjadi pemicu terjadinya aksi protes yang berbuntut tewasnya 33 orang dalam kerusuhan tersebut. (fia/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *