Ingatkan Jokowi Tentang Kerangka Damai Papua

Tan Wie Long

JAYAPURA – Presiden Joko Widodo akhirnya resmi dilantik dan menjadi Presiden Indonesia periode kedua pada 20 Oktober kemarin.  Mengawali awal kerjanya di kali kedua ini beberapa pesan disampaikan   anggota DPR Papua untuk mengingatkan bahwa ada yang dirasa kurang. Catatan ini paling tidak akan membantu pemerintah untuk ikut mendorong PR yang belum sepenuhnya dituntaskan. “Kami berharap sesegera mungkin lakukan rekonsiliasi dan trauma healing  untuk memulihkan rasa trauma dari kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Sekretaris Komisi I DPR Papua, Tan Wie Long, Senin (21/10). Selain itu ia meminta agar pelaku rasis bisa diproses hukum dan disampaikan terbuka ke publik terkait penanganan hukumnya agar tak ada lagi dugaan jika pelaku belum berproses hukum.

Berbeda dengan  penyampaian anggota Komisi II DPRP, Jhon Gobay yang menyoroti soal masih jauhnya harapan penuntasan kasus HAM di Papua. Kata Jhon  dalam catatan orang Papua, Pak Jokowi adalah presiden yang paling bamyak mengunjungi Papua dibandingkan presiden lainnya dan terkait permasalahan di Papua,  pak Jokowi tercatat mempunyai terobosan yang luar biasa dan paling sering bertemu orang Papua baik secara kelompok dan pribadi.

Orang Papua telah bertemu Pak Jokowi baik Tokoh tokoh masyarakat maupun Gubernur Papua, yang saya tau pada tanggal 15 Agustus 2017 di istana merdeka saat itu juru bicaranya adalah Alm. Pater NelesTebay, Pr dan hasilnya adalah tim meminta agar dilakukan dialog antara Papua dan Jakarta kemudian ditunjuk orang kunci adalah Pak Wiranto, Pak Teten Masduki dan Pater Neles Tebai,Pr.

“Bagi saya yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana progres hasil pertemuan tanggal 15 Agustus 2017 sehingga orang Papua dapat melihat kesungguhan Presiden menyelesaikan masalah Papua. Bagaimana tanggapan terhadap apa yang disampaikan Gubernur Papua ketika itu,” beber Jhon.

Ini juga didorong oleh LIPI yang telah memetakan akar masalah di Papua, yaitu Distorsi Sejarah, Pelanggaran HAM dan pembangunan yang tidak adil serta militerisasi. “Terkait pembangunan kami apresiasi kebijakan Pak Jokowi yang sudah nampak, kemudian menjadi pertanyaan bagaimna dengan masalah distorsi sejarah dan pelanggaran ham yang menurut UU No 21 Tahun 2001 dapat diselesaikan dengan adanya KKR dan Pengadilan HAM yang dpat dibentuk dengan Prepres dan berkedudukan di Papua,” imbuhnya. “Kami menyarankan pak Jokowi menyelesaikan dua akar masalah yaitu distorsi sejarah dan Pelanggaran HAM agar diselesaikan segera dengan adanya KKR dan pengadilan HAM di Papua. Kemudian dilakukan juga pembangunan yang berkeadilan dan berpihak kepada orang Papua,” pungkasnya.

Sedangkan Anggota DPR RI, Yan P. Mandenas, menjelaskan bahwa menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas sudah relevan, khususnya bagi Papua. Oleh sebab itu, harus ada kebijakan khusus untuk memberikan peluang bagi anak-anak Papua menimba ilmu di sekolah dengan fasilitas, sarana, prasarana yang lengkap.

“Ini bagian dari stadarisasi pendidikan secara nasional, di mana Papua pun diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Anak-anak Papua juga diberikan peluang untuk akses studi di perguruan tinggi nasional maupun luar negeri, dengan bidang studi sesuai dengan kebutuhan di Papua. Dengan demikian, mereka bisa kembali dan membangun Papua,” ujar Yan P. Mandenas.

Mandenas menambahkan, yang terpenting ialah membuka dialog nasional untuk menyelesaikan persoalan Papua secara tuntas. Dialog ini, sambung Mandenas, melibatkan para tokoh dari TPN OPM, Pro NKRI, serta semua tokoh adat, agama, dan perempuan yang ketokohannya itu benar-benar representatif dari masyarakat Papua.

“Ini merupakan langkah menyelesaikan persoalan Papua secara tuntas, sehingga dari persoalan kemanusiaan, penyelesaikan konflik, pengentasan kemiskinan, peningkatkan SDM, pemanfaatan SDA Papua berkelanjutan, hingga peningkatkan kesehatan, bisa dibicarakan secara tuntas dan melahirkan kesepakatan antara pemerintah pusat dan masyarakat Papua terkait apa yang dibutuhkan masyarakat Papua dalam 5 tahun ke depan,” pungkasnya.(ade/gr/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *