Tokoh Selatan Papua  Dukung Tikar  Adat 

Drs Johanes Gluba Gebze (Sulo/Cepos)

MERAUKE- Tokoh   Selatan Papua  Drs  Johanes Gluba Gebze memberi dukungan   kepada  para pemilik hak ulayat   untuk Marind Buti dan  Sosom  jika  ingin menggelar  tikar adat  dalam rangka pelantikan  DPRD Kabupaten Merauke  terpilih periode 2019-2024.

  ‘’Walau   kami sama-sama Marind,  tapi  dari etika  adat tetap kita permisi kepada yang punya  meja adat dan tikar adat yakni Marind Buti dan Sosom. Ketika  mereka  menggelar tikar adat untuk   pelantikan saya pikir itu   tertinggi dari pemilik  tikar atau meja adat,’’ kata  Johanes Gluba Gebze,   di DPRD Merauke,   Rabu (16/10).   

   Menurut John Gluba Gebze, Lembaga adat Imbuti  tersebut  memiliki  tikar  adat terkait dengan  sasi yang ditanam   beberapa di  depan   Kantor  DPRD  Merauke setelah  Pileg   beberapa waktu lalu.   Dikatakan, untuk pelantikan  para angota DPRD   Kabupaten  Merauke ini di Kantor DPRD  Merauke masih menunggu  restu dari pemilik  golongan adat  Buti dan Sosom.   ‘’Karena  wilayah ini  (untuk Distrik Merauke,red)   masih milik lembaga adat  Buti dan Sosom. Kalau mereka   sudah buka  restu  dengan menggelar  tikar adat  dan  meja adat saya pikir   ini sudah bisa dilakukan,’’ katanya.

  Apakah artinya    apabila  tikar dan meja adat sudah  digelar tersebut berarti sasi  yang ditanam  beberapa  waktu lalu bisa dicabut?    Menurut John Gluba Gebze  belum bisa dicabut. Karena disini ada dua sasi. Sasi pertama  pertemuan 4  mata angin di   Kantor Bupati Merauke  yang menuntut adanya kursi  tambahan agar proporsi konfigurasi   keseimbangan nusantara di wajah DPRD Merauke  bisa  terlihat.

   “Apalagi  ini mereka tuan   rumah. masak tuan  rumah wajahnya langka  di negerinya. Nah,  itu yang dituntut.  Tapi sudah ada kesepakatan  pemerintah   harus melanjutkan  tuntutan   tersebut ke pemerintah tingkat atas.  Kalau  suratnya sudah ada, maka surat itulah yang harus disampaikan   kepada 4  golongan mata  angin  dan kita tunggu jawaban dari  sana,’’ jelasnya.

     Kemudian permintaan     kedua, lanjut dia, dimana dewan baru ini akan membentuk pansus khusus untuk melanjutkan perjuangan   aspirasi dan  tuntutan  dari  4 golongan  mata angin tersebut. ‘’Komitmen  yang harus   disiapkan itu adalah membentuk pansus, dan pansus inilah yang akan  memperjuangkan lebih lanjut  tuntutan  dari masyarakat lewat 4 golongan adat di Tanah Marind,’’ terangnya.

     Bagaimana jika tikar    agar  tidak   dilakukan, apakah pelantikan  tetap  bisa dilakukan? Menurut JGG  bahwa tinggal komitmen saja. ‘’Kalau cuma di Merauke saja   bisa kita mengambil keputusan. Tapi kalau pengambil keputusan  ada di Jakarta maka kita harus berkoordinasi. Jadi kita tidak  bisa memasung sebuah perjalanan.    Pemerintahan tetap harus jalan tapi   di dalam perjalanan itu  harus ada komitmen untuk. kalau komitmen itu bisa dijalankan, saya pikir   terbuka solusi  terkait tuntutan masyarakat adat dari golongan untuk meminta tambahan anggota Dewan supaya wajah konfigurasi keaslian di sini tampak di DPRD. Jangan sampai  untuk  nama hilang belanja,’’  terangnya.   (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *