Tingkat SDM Kesehatan OAP PLI Jajaki Kerjasama Dengan Timur Leste

Direktur PLI Samuel Tabuni saat berkunjung ke Universidade Nacional Timor Lorosa’e Faculdade de Medicina e ciencias da saude (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan lainnya),* Dili-Timor Leste, beberapa waktu lalu  guna membangun kerjasama. ( PLI for Cepos)

JAYAPURA – Guna memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang unggul dan memiliki kemampuan di bidang kesehatan di Papua maka Papua Language Institute (PLI) terus berupaya menjajaki kerjasama di bidang pendidikan. salah satunya menjajaki kerjasama dengan Universidade Nacional Timor Lorosa’e Faculdade de Medicina e ciencias da saude (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan lainnya), Dili-Timor Leste.

Direktur PLI Samuel Tabuni mengatakan, Papua Language Institute (PLI) dibawa Yayasan Maga Edukasi Papua (YMEP) telah menjajaki kerja sama Pendidikan khusus ilmu kesehatan terutama pendidikan Dokter dengan Universidade Nacional Timor Lorosa’e Faculdade de Medicina e ciencias da saude (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan lainnya), Dili-Timor Leste.

“Timor Leste sendiri saat ini sedang bekerjasama dengan Negara Kuba untuk pendidikan dokter sejak tahun 2002. Sehingga harapan kami kedepan anak-anak kami ke Timor Leste belajar bahasa Spanyol selama 1 Tahun persiapan kuliah Ilmu Kedokteran di Kuba,” katanya kepada Cenderawasih Pos melalui sambungan telepon selulernya, Selasa, (15/10).

Ia mengatakan, kebutuhan tenaga kesehatan untuk provinsi papua jelas sangat dibutuhkan apa lagi kebutuhan SDM anak asli Papua Kesehatan untuk memenuhi setiap kabupaten/kota di provinsi papua sehingga pkhaknya memilih timur leste.

“Kenapa harus Kuba karena Kuba terbaik bidang kedokteran ke 4 di dunia, terbukti Timor Leste telah menghasilkan 2500 dokter umum dan 33 dokter specialist, Sejarahnya waktu merdeka 20 tahun tahun lalu Timor Leste hanya memiliki 30 dokter umum dan 3 dokter gigi. Penyakit malaria, TB dan penyakit tropis lainnya masih sangat tinggi diwilayah ini waktu itu. Saat ini dengan jumlah dokter 2500 diantaranta 33 specialist yg dimiliki oleh Timor Leste dlm waktu 20 tahun terakhir, telah sukses mengeliminasi Malaria total karena pelayanan 1 dokter dibanding 1500 jiwa waktu itu sudah menurun sekitar 500an jiwa per 1 dokter. Standard WHO 1 dokter maximal melayani 300 jiwa artinya 1 desa 1 dokter,” katanya.

Lanjudnya, Indonesia dan Papua mesti belajar dari negara ini karena dengan kelulusan 2500 dokter asal Timor Leste, pemerintah Tomor Leste sedang mendesign dan mengimplementasikan program 1 kampung terdiri dari 1 dokter, 1 perawat, 1 Bidan, 1 Analist Laboratorium dan 1 Farmasi artinya satu kampung Timor Leste sudah punya 5 tenaga kesehatan disetiap kampungnya hal ini harus di ikuti di Indonesia dan Papua khususnya.

“Sementara kita di Indonesia khususnya di Papua, orang mati banyak karena tunggu dokter disetiap RS diatas Tanah Papua, ini masalah maka, kami harap ini (Kerjasama) bisa memberikan sedikit perubahan secara bertahap,” katanya.

Bahkan Pria asli Kabupaten Nduga itu, meski masyarakatnya mengungsi dia pun terus berkomitmen dan mengajak pemerintah indonesia dan kabupaten kota di papua untuk lebih membuka diri dan melihat kebutuhan sumber daya manusia orang asli papua kedepannya dari semua bidang.

“Saya sudah berteriak berapa kali soal kematian OAP diatas Tanah Papua berkali-kali. Dan saya pikir kita harus merendahkan diri dan belajar dari Timor Leste. Kalaupun usianya baru 20 Tahun, negara ini sudah selamatkan warganya dari semua penyakit mematikan seperti malaria dan penyakit tropis lainnya,: katanya.

Ia pun mengatakan dalam peningkatan sumber daya manusia tidak bisa pi eli jalan sendiri tentu membutuhkan dengan universitas sekolah-sekolah swasta dan juga pemerintah sehingga segala bidang dapat terisi dan dikendalikan oleh anak-anak asli papua yang selama ini milik di segala bidang, (oel).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *