Pengaman Pantai Teluk Youtefa Mulai Dikerjakan

Suasana presentasi terkait dua pekerjaan yang dilakukan Balai Wilayah Sungai Provinsi Papua yang digelar di Grand Abe Hotel, Kamis (17/10). BWS merencanakan membangun pengaman pantai yang selesai tahun 2020.(Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Papua, Yulianus Mambrasar menyampaikan bahwa dua bulan terakhir pihaknya tengah menyiapkan studi untuk pekerjaan pembangunan pengaman pantai. Pengaman pantai ini tak sekedar mengamankan pantai namun tujuan lainnnya adalah mendukung venue cabang olahraga dayung yang akan dimainkan dalam PON tahun 2020.

Pengaman pantai ini nantinya memiliki panjang 2,2 Km dengan lebar 50 meter. Targetnya sebelum Oktober 2020 sudah bisa digunakan. BWS berharap dari pekerjaan ini masyarakat bisa lebih nyaman karena posisi Teluk Youtefa  bisa lebih aman dan tinggal dikelola. “Tujuan utama adalah selain mengamankan pantai yang terancam abrasi tapi ada venue dayung juga. Saat ini hingga 90 hari ke depan sudah dimulai dengan studi dan  akan dilajutkan dengan pekerjaan fisik,” jelas Yulianus Mambrasar di sela-sela presentasi pendahuluan  detail desain pengaman pantai Teluk Youtefa  di Kota Jayapura yang digelar di Grand Abe Hotel, Kamis (17/10).

Kegiatan ini juga sekaligus mendengarkan presentase dari lembaga – lembaga teknis termasuk peneliti dan masyarakat kampung  terkait hal-hal yang perlu dilakukan. Kesimpulannya adalah perlu kehati-hatian dalam menangani Teluk Youtefa . Pasalnya selain menjadi dapur bagi masyarakat Kampung Engros dan Nafri dengan keberadaan hutan mangrove tetapi hutan  ini juga masuk dalam area hutan lindung dan kawasan konservasi. Sehingga perlu koordinasi yang solid agar tidak menyalahi aturan.

“Setelah mendapatkan hasil studinya kami teruskan ke pemerintah pusat. Namun ini harus dipilah, jika itu berkaitan dengan adat ya pemerintah kota atau provinsi yang membantu dan di lokasi pengaman pantai ini menurut warga sudah tidak bisa ditanami lagi. Ini juga akan kami teliti dan pecahkan masalahnya,” jelas Mambrasar. Pembangunan pengaman pantai ini lanjut Mambrasar bisa menggunakan tiga tehnik  mulai sea woll, groin dan yeti. “Namun kami lebih memilih pada groin karena lebih alami,” imbuhnya.

Groin sendiri merupakan struktur  pengaman pantai yang dibangun menjorok relatif tegak lurus terhadap arah pantai. Bahan konstruksinya kebanyakan kayu, baja, beton dan batu. Hal ini agar tak terjadi perubahan garis pantai secara signifikan. Kami juga sedang mendeteksi dan mengidentisikasi  persoalan yang masuk ke Teluk Youtefa . “Banyaknya alih fungsi lahan  menimbulkan. Selain itu sampah juga banyak,” pungkasnya.

Pihak BWS menargetkan setelah rampung  lokasi ini bisa dikelola termasuk digarap untuk menumbuhkan kembali tanaman mangrove. “Jadi pada Tsunami tahun 2011 ada titik yang putus dan akibat sendimentasi pasir akhirnya menyambung nah ini juga akan kami cek prosesnya,” imbuhnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *